BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Kota
adalah suatu sistem jaringan kehidupan manusia dengan kepadatan penduduk yang
tinggi, strata sosial ekonomi yang heterogen, dan corak kehidupan yang
materialistik. Keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan mencakup peningkatan
kesehatan (promotif), pencegahan (preventif), pemeliharaan kesehatan dan
pengobatan (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) serta
mengembalikan serta memfungsikan kembali baik individu, keluarga dan kelompok
masyarakat ke lingkungan sosial dan masyarakat (resosialitatif). Dewasa ini,
penyakit batu saluran kemih menjadi salah satu kasus yang membutuhkan perhatian
perawat dalam pemberian asuhan keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan
karena prevalensinya di Indonesia yang terus meningkat (Nurlina, 2008).
Batu
saluran kemih adalah terbentuknya batu yang disebabkan oleh pengendapan
substansi yang terdapat dalam air kemih yang jumlahnya berlebihan atau karena
faktor lain yang mempengaruhi daya larut substansi (Nurlina, 2008). Batu
saluran kemih yang muncul dapat disebabkan oleh faktor instrinsik dan
ekstrinsik. Faktor ekstrinsik yang paling mempengaruhi adalah faktor gaya dan
pola hidup masyarakat terutama mayarakat kota. Pola hidup masyarakat kota
cenderung statis dan praktis. Pola hidup dikatakan statis karena masyarakat
kota cenderung kurang aktivitas/gerak dan mobilitas dibantu dengan mesin
seperti kendaraan bermotor dan eskalator. Pola hidup dikatakan praktis karena
masyarakat kota memiliki tuntutan untuk bekerja efisien dalam kehidupan
sehari-hari sehingga membutuhkan hal-hal yang praktis, termasuk didalamnya
kepraktisan untuk mengakses makanan dan minuman cepat saji (fastfood).
Pada orang yang dalam pekerjaannya kurang gerakan fisik, kurang olahraga, dan
menderita stres lama sering mengalami batu saluran kemih (Muslim, 2007).
Faktor
pola minum yang memicu timbulnya batu saluran kemih antara lain kurang meminum
air putih, banyak mengkonsumsi jus tomat, anggur, apel, vitamin C dan soft
drink, sementara banyak mengkonsumsi teh, kopi, susu dan jus jeruk
mengurangi kemungkinan terbentuknya batu saluan kemih. Makanan yang
mempengaruhi kemungkinan terbentuknya batu saluran kemih antara lain terlau
banyak protein hewan, lemak, kurang sayur, kurang buah, dan tingginya konsumsi fastfood/junkfood.
Mengkonsumsi suplemen makanan dan obat-obatan tertentu juga dapat memicu
terbentuknya batu saluran kemih. Sering menahan BAK dan kegemukan juga dapat
menaikkan kemungkinan terkena batu saluran kemih (Muslim, 2007).
Gaya
hidup masyarakat kota seperti disebutkan dalam paragraf ini mempengaruhi terbentuknya
batu saluran kemih. Indonesia terletak pada kelompok negara di dunia yang
dilewati oleh sabuk batu atau stone belt (Portalkalbe dalam Nurlina,
2008). Di Indonesia penyakit batu saluran kemih masih menempati porsi terbesar
dari jumlah pasien di klinik urologi (Nurlina, 2008). Insidensi dan prevalensi
yang pasti dari penyakit ini di Indonesia belum dapat ditetapkan secara pasti.
Sampai saat ini angka kejadian batu saluran kemih yang sesungguhnya belum diketahui,
diperkirakan 170.000 kasus per tahun (Muslim, 2007). Dari data dalam negeri yang
pernah dipublikasi didapatkan peningkatan jumlah penderita batu ginjal yang
mendapat tindakan di RSUPN-Cipto Mangunkusumo dari tahun ke tahun mulai 182
pasien pada tahun 1997 menjadi 847 pasien pada tahun 2002 (Raharjo, 2002).
Laki-laki
lebih sering dibandingkan wanita (kira-kira 3:1) dengan puncak insidensi antara
dekade keempat dan kelima, hal ini kurang lebih sesuai dengan yang ditemukan di
RSUPN-CM (Raharjo, 2004). Peningkatan jumlah penderita batu saluran kemih
berhubungan langsung dengan faktor-faktor pembentuk batu itu sendiri. Faktor
instrinsik seperti genetik, penyakit, jenis kelamin, ras, dan usia memegang
peranan sekitar 25%, sedangkan sebesar 75 lebih dipengaruhi oleh faktor
ekstrinsik seperti iklim tempat tinggal, geografis, dan gaya hidup (Muslim,
2007). Gaya hidup yang menjadi penyebab pembentukan batu adalah pekerjaan,
diet, aktivitas/olahraga, pola makan dan minum, serta kebiasaan menahan buang
air kecil. Gaya hidup ini merupakan salah satu faktor yang bersifat modifiable.
Batu saluran kemih lebih banyak dialami oleh masyarakat Indonesia yang tinggal
di lingkungan perkotaan karena memiliki gaya hidup yang cenderung statis.
Batu
saluran kemih dapat menimbulkan keadaan darurat bila batu turun dalam sistem
kolektivus dan dapat menyebabkan kelainan sebagai kolektivus ginjal atau
infeksi dalam sumbatan saluran kemih. Kelainan tersebut menyebabkan nyeri
karena dilatasi sistem sumbatan dengan peregangan reseptor sakit dan iritasi
lokal dinding ureter atau dinding pelvis ginjal yang disertai edema dan
penglepasan mediator sakit. Sekitar 60-70% batu yang turun spontan sering
disertai dengan serangan kolik ulangan. Salah satu komplikasi batu saluran
kemih yaitu terjadinya gangguan fungsi ginjal, gagal ginjal, dan kematian.
Untuk itu terdapat penatalaksanaan untuk menangani kasus-kasus batu saluran
kemih. Terapi dan penatalaksanaan batu saluran kemih yang biasa digunakan
adalah terapi medikamentosa, pengenceran kemih, tindakan ESWL (Extracorporeal
Shock Wave Litotripsy), URS (Ureterorenoscopic Litotripsy), PCNL
(Percutaneous Litotripsy), dan operasi terbuka (Muslim, 2007). Setiap
tindakan yang dilakukan memerlukan penanganan medis dan keperawatan sehingga
pasien dengan batu saluran kemih perlu mengalami hospitalisasi. Penananganan
pembedahan selama di rumah sakit menjadi salah satu fokus dan perhatian
perawat.
Fillingham
dan Douglass (2000) menyebutkan bahwa resiko perdarahan (hematuria), resiko
infeksi, nyeri, perubahan jumlah urin, dan perforasi ureter adalah hal yang
muncul dan memerlukan perhatian khusus. Selama perawatan, pasien dengan batu
saluran kemih terutama pasca pembedahan memiliki banyak resiko sehingga perawat
perlu melakukan pemantauan khusus terutama hidrasi dan perdarahan sampai
kondisi pasien stabil. Dalam proses penyembuhan pasien, perawat juga memerlukan
tindakan mandiri keperawatan untuk mencegah kekambuhan berulang dengan
melakukan edukasi keperawatan termasuk didalamnya discharge planning.
Hal ini menjadi sangat penting mengingat tingginya angka kekambuhan pasca
pengobatan batu saluran kemih. Berbagai penelitian melaporkan bahwa kekambuhan
di tahun pertama berkisar 15-27%, 4-5 tahun selanjutnya 40- 67,5%, dan 10 tahun
lebih sekitar 70-100%. Edukasi yang tepat adalah mengenai perubahan gaya hidup
yang mampu mengurangi faktor resiko batu saluran kemih di kemudian hari.
Sebagai contoh perawat dapat melakukan tindakan pengenceran kemih dengan
memotivasi banyak minum air putih dan melakukan edukasi mengenai pentinganya
pengenceran kemih.
Dehidrasi
kronik akan meningkatkan gravitasi air kemih dan saturasi, sehingga terjadi
penurunan pH air kemih yang berisiko terhadap terjadinya batu saluran kemih.
Pasien-pasien yang mengalami batu saluran kemih dan telah melalui pembedahan
juga memiliki resiko kekambuhan berulang ketika faktor hidrasi tidak mendapat
perhatian khusus. Dehidrasi kronik menaikkan gravitasi air kemih dan saturasi
asam urat sehingga terjadi penurunan pH air kemih. Pengenceran air kemih dengan
banyak minum air putih menyebabkan peningkatan koefisien ion aktif setara
dengan proses kristalisasi air kemih. Banyaknya air yang diminum akan
mengurangi rata-rata umur kristal pembentuk batu saluran kemih dan mengeluarkan
komponen tersebut dalam air kemih (Nurlina, 2008). Fokus dan perhatian perawat
terhadap upaya-upaya untuk melakukan edukasi dan perubahan gaya hidup pasien
dengan batu saluran kemih merupakan salah satu tindakan mandiri perawat untuk
membantu perawatan pasien-pasien dengan penyakit batu saluran kemih. Dalam
tulisan ini akan dibahas mengenai kasus batu saluran kemih dan gaya hidup yang
mempengaruhinya melalui setting keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan.
Di
Indonesia penyakit batu saluran kemih masih menempati porsi terbesar dari
jumlah pasien di klinik urologi (Nurlina, 2008). Insidensi dan prevalensi yang
pasti dari penyakit ini di Indonesia belum dapat ditetapkan secara pasti.
Sampai saat ini angka kejadian batu saluran kemih yang sesungguhnya belum
diketahui, diperkirakan 170.000 kasus per tahun
(Muslim, 2007). Dari data dalam negeri yang
pernah dipublikasi didapatkan peningkatan jumlah penderita batu ginjal
yang
mendapat tindakan di RSUPN-Cipto Mangunkusumo dari tahun ke tahun
mulai
182 pasien pada tahun 1997 menjadi 847 pasien pada tahun 2002
(Raharjo,
2002). Laki-laki lebih sering dibandingkan wanita (kira-kira 3:1)
dengan
puncak insidensi antara dekade keempat dan kelima, hal ini kurang
lebih sesuai dengan yang ditemukan di RSUPN-CM
(Raharjo, 2004). Sedangkan angka kejadian di RSISA 3 bulan terahir dari bulan
juli-september 2019, pasien dengan diagnosa batu ginjal maupun batu ureter
sebanyak 236 pasien, dan yang dilakukan tindakan ureterolitotomi sebanyak 15
pasien.
B.
Tujuan
Penulisan
1.
Tujuan Umum
Melaksanakan asuhan keperawatan
perioperatif pada
pasien
Ureterolithiasis
di RSI Sultan Agung Semarang.
2.
Tujuan Khusus
a.
Menguraikan
konsep dasar teori penyakit Ureterolithiasis dan asuhan keperawatan perioperatif.
b.
Melakukan
pengkajian asuhan keperawatan perioperatif dengan Ureterolithiasis
di RSI Sultan Agung Semarang
c.
Merumuskan
diagnosa keperawatan perioperatif dengan ureterolithiasis di
RSI Sultan Agung Semarang
d.
Merencanakan
tindakan keperawatan perioperatif dengan ureterolithiasis di
RSI Sultan Agung Semarang
e.
Melakukan
impelementasi keperawatan perioperatif dengan ureterolithiasis
di RSI Sultan Agung Semarang
f.
Melakukan evaluasi
keperawatan perioperatif ureterolithiasis di RSI Sultan Agung
Semarang
A.
Manfaat
Penulisan
1.
Manfaat
Teoritis
Sebagai wacana atau informasi dan pengetahuan bagi
masyarakat maupun bagi tenaga kesehatan lain mengenai pengelolaan asuhan keperawatan perioperatif dengan ureterolithiasis.
2.
Manfaat Praktis
a. Bagi
Ilmu Keperawatan
Hasil laporan kasus ini diharapkan
dapat memberikan manfaat praktis bagi perawat dalam pengelolaan kasus
keperawatan perioperatif dengan ureterolithiasis yang dilakukan tindakan Open Ureterolitotomi.
b. Bagi
Perawat Perioperatif
Dapat menambah pengetahuan,
penatalaksanaan pasien ureterolithiasis yang dilakukan tindakan Tiroidektomy
pada fase pre, intra, dan post operasi. Sedangkan untuk perawat rawat inap berfokus pada fase pre dan post operasi.
c.
Bagi Klien
Agar klien
mendapatkan pelayanan asuhan keperawatan perioperatif Open Ureterolitotomi yang
holistic dan terintegrasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
DEFINISI
Ureter adalah suatu saluran muskuler
berbentuk silinder yang menghantarkan urin dari ginjal menuju kandung kemih.
Panjang ureter adalah sekitar 20-30 cm dengan diameter maksimum sekitar 1,7 cm
di dekat kandung kemih dan berjalan dari hilus ginjal menuju kandung kemih
(Fillingham dan Douglass, 2000). Ureter dibagi menjadi pars abdominalis,
pelvis,dan intravesikalis (Brunner dan Suddarth,2003). Batu saluran kemih (kalkulus
uriner) adalah massa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran
kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih atau
infeksi (Sja’bani, 2006). Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal)
maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini
disebut urolitiasis. Batu saluran kemih (urolithiasis), sudah dikenal
sejak zaman Babilonia dan Mesir kuno dengan diketemukannya batu pada kandung
kemih mummi (Muslim, 2007).
Batu
saluran kemih dapat diketemukan sepanjang saluran kemih mulai dari sistem
kaliks ginjal, pielum, ureter, buli-buli dan ureter. Batu ini mungkin terbentuk
di di ginjal kemudian turun ke saluran kemih bagian bawah atau memang terbentuk
di saluran kemih bagian bawah karena adanya stasis urine seperti pada batu
buli-buli karena hiperplasia prostat atau batu uretra yang terbentuk di dalam
divertikel uretra. Batu ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal
kemudian berada di kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi
pelvis serta seluruh kaliks ginjal dan merupakan batu saluran kemih yang paling
sering terjadi (Brunner dan Suddarth, 2003).
Ureterolithiasis adalah suatu keadaan
terjadinya penumpukan oksalat, calculi (batu ginjal) pada ureter atau pada
daerah ginjal. Ureterolithiasis terjadi bila batu ada di dalam saluran
perkemihan. Batu itu sendiri disebut calculi. Pembentukan batu mulai
dengan kristal yang terperangkap di suatu tempat sepanjang saluran perkemihan
yang tumbuh sebagai pencetus larutan urin. Calculi bervariasi dalam ukuran dan
dari fokus mikroskopik sampai beberapa centimeter dalam diameter cukup besar
untuk masuk dalam pelvis ginjal. Gejala rasa sakit yang berlebihan pada
pinggang, nausea, muntah, demam, hematuria. Urine berwarna keruh seperti teh
atau merah. (Brunner and Suddarth, 2002).
Ureterolithiasis
adalah kalkulus atau batu di dalam ureter .Batu ureter pada umumnya berasal
dari batu ginjal yang turun ke ureter. Batu ureter mungkin dapat lewat sampai
ke kandung kemih dan kemudian keluar bersama kemih. Batu ureter juga bisa
sampai ke kandung kemih dan kemudian berupa nidus menjadi batu kandung kemih
yang besar. Batu juga bisa tetap tinggal di ureter sambil menyumbat dan
menyebabkan obstruksi kronik dengan hidroureter yang mungkin asimtomatik. Tidak
jarang terjadi hematuria yang didahului oleh serangan kolik. (R. Sjamsuhidajat,
2003).
Batu
saluran kemih (urolithiasis) merupakan obstruksi benda padat pada saluran
kencing yang berbentuk karena faktor presifitasi endapan dan senyawa tertentu.
Batu tersebut biasa berbentuk dari berbagai senyawa, misalnya kalsium oksalat
(60%), fosfat (30%), asam urat (5%) dan sistin (1%) (Prabowo. E dan Pranata,
2014).
Urolithiasis
mengacu pada adanya batu (kalkuli) di traktus urinarius. Batu terbentuk ketika
konsentrasi substansi tertentu seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan
asam urat meningkat. Batu dapat ditemukan disetiap bagian ginjal sampai
kekandung kemih dan ukurannya bervariasi dari deposit granuler yang kecil, yang
disebut pasir atau kerikil, sampai batu sebesar kandung kemih dan berwarna
oranye (Smeltzer & Bare, 2002).
Urolithiasis
adalah terdapatnya batu di saluran urinarius (traktus urinarius).
Neprolithiasis merupakan batu yang terbentuk di paremkim ginjal, sedangkan
ureterolithiasis adalah terbentuknya batu di ureter. Perbedaan letak batu akan berpengaruh
pada keluhan penderita dan tanda/gejala yang menyertainya (Price & Wilson,
2006).
B.
ANATOMI
Gambar 2.1
Potongan koronal melalui ginjal kanan
Keterangan:
a. Papilla; b. Kaliks; c. Koluma renalis; d. Medulla; e.
Piramid; f. Korteks;
g.
Arteri dan vena renalis; h. Pelvis; i. Ureter
Fungsi
ginjal terdiri dari:
Memegang peranan penting dalam mengeluarkan zat-zat toksis
atau racun, mempertahankan suasana keseimbangan cairan, mempertahankan
keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh,mempertahankan keeimbangan
garam-garam dan zat-zat lain dalam tubuh, mengeluarkan sisasisa metabolisme
hasil akhir dari protein, ureum, kretinin dan amonia. Proses pembentukan urine
(air kemih). Glomerolus berfungsi dsebagai ultra filtrasi, pada simpai bowmen
berfunfsi untuk menampung hasil filtrasi dari glomerolus. Pada tubulus ginjal
akan terjadi penyerapan kembali dari zat-zat yang sudah disaring pada
glomerolus, sisa cairan akan dioteruskan piala ginjal terus berlanjut ke
ureter. Urine berasal dari darah yang dibawa arteri renalis masuk ke dalam
ginjal, darah ini terdiri dari bagian yang padat yaitu sel darah dan bagian
plasma darah.
Ada 3 tahap pembentukan urine:
1. Proses
filtrasi. Terjadi di glomerolus, pross ni terjadi karena permukaan afferent
lebih besar dari permukaan efferent maka terjadi penyerapan darah, sedangkan
sebagian yang tersaring adalah bgaian darah kecuali protein, cairan yang
tersaring ditampung oleh simpai bowmen yang terdiri dari glukosa, air, sodium,
klorida, sulfat, bikarbonat dan lain-lain, diteruskan ke tubulus ginjal.
2. Proses
reabsorbsi. Pda proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari
glukosa, sodium, klorida, phospat dan beberapa ion bikarbonat. Prosesnya
terjadi skala pasif yang dikenal dengan obligator reabsorbsi terjadi pada
tubulus atas. Sedangkan pada tubulus ginjal bagian bawah terjadi kembali
penyerapan dan sodium dan ion bikarbonat, bila diperlukan akan diserap kembali
ke dalam tubulus bagian bawah, penyerapannya terjadi secara aktif dikenal
dengan reabsorbsi fakultatif dan sisanya dialirakan papilla renalis.
3. Proses
sekresi. Sisanya penyerapan kembali yang terjadi pada tubulus dan diteruskan ke
piala ginjal selanjutnya diteruskan keluar.
Gambar 2.2
Unit nefron dengan pembuluh darahnya
(Syaifuddin,1997)
Keterangan:
a. Korpuskel renalis: 1). Glomerolus,
2). Kapsula Bowmen; b. Arteriole aferen; c. vena dan arteri interlobular; d.
Arteriole afferent; e. Apartus
jukstaglomerular; f. Kapiler
peritubular; g. Ansa Henle desending; h. Tubulus kontortus proksimal; i.
Tubulus kontortus distal; j. Tubulus koligentes; k. Ansa Henle asending
Peredaran darah. Ginjal mendapat dari
aorta abdominalis yang mempunyai percabangan arteria renalis, arteA ini
berpasangan kiri dan kanan, arteria renalis bercabang menjadi arteria
intelubaris dan kemudian menjadi arteria akuarta, arteria interlubaris yang
berada di tepi ginjal yang bercabang menjadi kapiler membentuk
gumpalan-gumpalan yang disebut glomerolus. Glomerolus ini dikelilingi alat yang
disebut simpai bowmen, disini terjadi peyadangan pertama dan kapiler darah yang
meninggalkan simpai bowmen kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena kava
inferior.
Persarafan ginjal. ginjal mendapat
persarafan dari fleksus renalis (vasomotor) saraf ini berfungsi untuk mengatur
jumlah darah yang masuk ke ginjal, saraf ini berjalan bersaman dengan pembuluh
darah yang masuk ke ginjal. Anak ginjal (kelenjar suprarenal). Diatas ginjal
terdapat kelenjar suprarenalis, kelenjar ini merupakan sebuah kelenjar buntu
yang menghasilkan dua macam hormon yaitu hormon adrenalin dan hormon kortison.
Adrenalin dihasilkan illeh medulla.
C.
EPIDEMIOLOGI
Tingginya
angaka kejadian penyakit ureterolitiasis di pedesaan disebabkan oleh air, tanah
yang sehari-hari dikonsumsi mengandung tinggi kapur (kalsium). Menurut Hamimu
(2012) mengatakan bahwa kadar kapur yang ada di pedesaan terutama di kabupaten
muna memiliki kadar kapur rata-rata 32,87% hal ini menunjukkan kadar kapur
tinggi. Menurut pemenkes aspek kimiawi bahan air yang tidak boleh diminum
mengandung tinggi mineral seperti zat kapur, magnesium karena sangat tidak baik
untuk kesehatan.
Haryono
(2014) mengatakan alkohol merupakan faktor predisposisi terjadinya
uretrolitiasis, serta iklim yang sangat panas menyebabkan banyak mengeluarkan
keringat tetapi asupan air sedikit yang mengandung kalsium sehingga batu
saluran kemih sementara menurun. Batu saluran kemih merupakan penyakit endeik
diseluruh dunia. Di dunia prevalensi penyakit ini sekitar 5%, distribusi usia
yang sering terkena batu ginjal paling sering terrjadi pada usia 20-49 tahun
dengan puncaknya di usia 35-45 tahun, meskipun dapat terjadi pada rentang usia
yang lain. Jarang ditemukan serangan batu ginjal pertama pada usia 50 tahun
keatas. Batu ginjal lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita (3:1),
kecuali pada batu karena infeksi (struvit) lebih banyak terjadi pada wanita.
D.
ETIOLOGI
Penyebab
terbentuknya batu saluran kemih bisa terjadi karena air kemih jenuh dengan
garam-garam yang dapat membentuk batu atau karena air kemih kekurangan
penghambat pembentuka batu yang normal (Sja’bani, 2006). Sekitar 80% batu
terdiri dari kalsium, sisanya mengandung berbagai bahan, termasuk asam urat, sistin
dan mineral struvit (Sja’bani, 2006). Batu struvit (campuran dari magnesium,
amonium dan fosfat) juga disebut batu infeksi karena batu
ini hanya terbentuk di dalam air kemih yang terinfeksi (Muslim, 2007). Ukuran
batu bervariasi, mulai dari yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang
sampai yang sebesar 2,5 sentimeter atau lebih. Batuyang besar disebut kalkulus
staghorn. Batu ini bisa mengisi hampir keseluruhan pelvis renalis dan
kalises renalis.
Menurut
(Purnomo, 2011: hal 2) Terbentuknya batu saluran kemih diduga karena ada
hubungannya gangguan cairan urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih
dehidrasi dan keadaan lain yang masih belum terungkap (idopatik). Secara
epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu saluran
kemih pada seseorang yaitu :
1. Faktor
intrinsik: herediter (di duga diturunkan orang tuanya) umur, (paling sering di
dapatkan pada usia 30-50 tahun) jenis kelamin, (laki-laki tiga lebih banyak dibandingkan
dengan pasien perempuan).
2. Faktor
ekstrinsik: geografi, iklim dan temperature, asupan air, diet pekerjaan.
Mineralisasi pada semua system biologi
merupakan temuan umum. Tidak terkecuali batu saluran kemih, yang merupakan
kumpulan kristal yang terdiri dari bermacam-macam Kristal dan matrik organik.
Teori yang menjelaskan mengenai penyakit batu saluran kemih kurang lengkap.
Proses pembentukan membutuhkan supersaturasi urine. Supersaturasi tergantung
pada PH urine, kekuatan ion, konsntrasizat terlarut, dan kompleksasi. (Stoller
2010).
Batu kalsium (kalsium oksalat atau
kalsium fosfat) menurut ( Balai Penerbit FKUI Jakarta, 2001) adalah sebagai
berikut :
1. Hiperkalsiuria
Hiperkalsiuria
idiopatik (meliputi hiperkalsiuria disebabkan masukan tinggi natrium, kalsium
dan protein), hiperparatiroidisme primer, sarkoidosis, kelebihan vitamin D atau
kelebihan kalsium, asidosis tubulus ginjal tipe I.
2. Hiperoksaluria
Hiperoksaluria
enterik; hiperoksaluria idiopatik (hiperoksaluria dengan masukan tinggi
oksalat, protein); hiperoksaluria herediter (tipe I dan II).
3. Hiperurikosuria
Akibat masukan diet
purin berlebih
4. Hipositraturia
Idiopatik;asidosis
tubulus ginjal tipe I (lengkap atau tidak lengkap), minum asetazolamid; diare,
latihan jasmani dan masukan proein tinggi.
5. Ginjal
spongiosa medular
Volume air kemih
sedikit, batu kalsium idiopatik (tidak dijumpai predisposisi metabolik).
6. Batu
asam urat
Tingkat keasaman (PH)
air kemih rendah, hiperurikosuria (primer dan sekunder).
7. Batu
stuvit
Infeksi saluran kemih
dengan organisme yang memproduksi urease
8. Batu
sistin
Sistinuria herediter;
batu lain seperti matriks, xantin 2.8 dihidroksadenin, amonium urat,
triamteren, silikat.
Muslim
(2007) menyebutkan beberapa hal yang mempengaruhi pembentukan
saluran
kemih antara lain:
a. Infeksi
Infeksi Saluran
Kencing (ISK) dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan menjadi inti
pembentuk batu saluran kemih. Infeksi bakteri akan memecah ureum dan membentuk
amonium yang akan mengubah pH Urine menjadi alkali.
b. Stasis
dan Obstruksi Urine
Adanya obstruksi dan
stasis urine pada sistem perkemihan akan mempermudah Infeksi Saluran Kencing
(ISK).
c. Jenis
Kelamin
Lebih banyak terjadi
pada laki-laki dibanding wanita dengan perbandingan 3:1
d. Ras
Batu saluran kemih
lebih banyak ditemukan di Afrika dan Asia.
e. Keturunan
Orang dengan anggota
keluarga yang memiliki penyakit batu saluran kemih memiliki resiko untuk
menderita batu saluran kemih dibanding dengan yang tidak memiliki anggota
keluarga dengan batu saluran kemih.
f.
Air Minum
Faktor utama pemenuhan
urine adalah hidrasi adekuat yang didapat dari minum air. Memperbanyak diuresis
dengan cara banyak minum air akan mengurangi kemungkinan terbentuknya batu,
sedangkan kurang minum menyebabkan kadar semua substansi dalam urine meningkat.
g. Pekerjaan
Pekerja keras yang
banyak bergerak mengurangi kemungkinan terbentuknya batu dari pada pekerja yang
lebih banyak duduk.
h. Suhu
Tempat yang bersuhu
panas menyebabkan banyak mengeluarkan panas sehingga pengeluaran cairan menjadi
meningkat, apabila tidak didukung oleh hidrasi yang adekuat akan meningkatkan
resiko batu saluran kemih.
i.
Makanan
Masyarakat yang banyak
mengkonsumsi protein hewani, kalsium, natrium klorida, vitamin C, makanan
tinggi garam akan meningkatkan resiko pembentukan batu karena mempengaruhi
saturasi urine.
E. KLASIFIKASI
Menurut
(Turk, 2011 ). Klasifikasi Batu saluran kemih dapat diklasifikasikan
berdasarkan aspek berikut:
1.
Ukuran batu, lokasi batu, karakteristik X-ray dari batu, penyebab terbentuknya
batu, komposisi batu (mineralogi), dan resiko kelompok terjadinya pembentukan
batu (Turk, 2011).
2.
Ukuran Batu biasanya dinyatakan dalam milimeter, menggunakan satu atau dua
dimensi pengukuran. Batu bisa dikelompokkan panjangnya hingga 5mm, >5-10 mm,
> 10-20 mm dan > 20 mm (Turk, 2011).
3.
Lokasi Batu Batu saluran kemih dapat diklasifikasikan berdasarkan posisi
anatomi pada saluran kemih pada diagnosa: upper calyx, middle calyx atau lower
calyx, renal pelvis, upper ureter, middle ureter ataudistal ureter, urinary
bladder (Turk, 2011).
4.
Karakteristik X-ray Batu saluran kemih dapat diklasifikasikan menurut
penampakannya pada X-ray. Batu saluran kemih bervarisai berdasarkan komposisi
mineral. Jika tidak digunakan komputer tomography Hounsfield Units (HU) mungkin
dapat memberi data mengenai massa jenis batu dan komposisi batu (kekerasan
batu) (Turk, 2011).
5.
Etiologi pembentukan Batu dapat disebabkan oleh infeksi dan bukan infeksi, batu
karena kelainan genetik, dan pembentukan batu karena efek samping pengobatan
(‘drug stones’)(Turk, 2011).
6.
Komposisi Batu (mineralogi) Aspek metabolik memiliki peran penting dalam
pembentukan batu dan evaluasi metabolik yang dibutuhkan untuk mengatasi
kelainan metabolik. Analisis batu yang benar dalam hubungannya dengan kelainan
metabolik akan menjadi dasar untuk diagnosa lebih lanjut dan tindakan
selanjutnya. Batu biasanya terdiri dari campuran substansi yang berbeda (Turk,
2011).
7.
Kelompok resiko terkena BSK Status resiko dari pembentuk batu adalah dari sebab
khusus yang memungkinkan terjadinya atau perkembangan batu dan imperative untuk
tindakan farmakologi. Sekitar 50%dari semua yang terkena batu hanya satu yang
terkena selama hidupnya. Tingginya kejadian penyakit yang sedikit yang diteliti
lebih dari 10% dari semua pembentuk batu. Tipe batu dan keparahan penyakit merupakan
determinan yang menyatakan pasien dengan resiko rendah atau resiko tinggi
terjadi batu (Turk, 2011).
F. MANIFESTASI KLINIK
Batu
terutama yang kecil, bisa tidak menimbulkan gejala. Batu di dalam kandung kemih
bisa menyebabkan nyeri di perut bagian bawah. Batu yang menyumbat ureter,
pelvis renalis maupun tubulus renalis bisa menyebabkan nyeri punggung
atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat). Kolik renalis ditandai
dengan nyeri hebat yang hilang-timbul, biasanya di daerah antara tulang rusuk
dan tulang pinggang, yang menjalar ke perut, daerah kemaluan dan paha sebelah
dalam (Brunner dan Suddarth, 2003).
Manifestasi
klinis adanya batu dalam traktus urinarius bergantung pada adanya obsrtuksi,
infeksi, dan edema. Ketika batu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi,
menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala ginjal serta
ureter proksimal. Iritasi batu yang terus-menerus dapat mengakibatkan
terjadinya infeksi (pielonefritis dan sistitis) yang sering disertai dengan
keadaan demam, mengggil dan disuia. Beberapa batu dapat menyebabkan
ketidaknyamanan dan nyeri yang luar biasa (Brunner & Suddarth, 2001).
Menurut
Fillingham dan Douglass (2000), ketika batu menghambat dari saluran urin,
terjadi obstruksi, meningkatkan tekanan hidrostatik. Bila nyeri mendadak
terjadi akut disertai nyeri tekan disaluran osteovertebral dan muncul mual
muntah maka klien sedang mengalami episode kolik renal. Diare, demam dan
perasaan tidak nyaman di abdominal dapat terjadi. Gejala gastrointestinal ini
akibat refleks dan proxsimitas anatomik ginjal kelambung, pangkereas dan usus
besar.
G. PATOFISIOLOGI
Menurut
(Dinda, 2011) Secara teoritis batu dapat terbentuk di seluruh saluran kemih
terutama pada tempat-tempat yang sering mengalami hambatan aliran urine (stasis
urine), yaitu sistem kalises ginjal atau buli-buli. Adanya kelainan bawaan pada
pelvikalises, divertikel, obstruksi infravesika kronis seperti pada hyperplasia
prostat berigna, striktura, dan buli-buli neurogenik merupakan keadaan-keadaan
yang memudahkan terjadi pembentukan batu.
Menurut
(Suddarth, 2002) Batu dalam perkemihan berasal dari obstruksi saluran kemih.
Obstruksi mungkin hanya parsial atau lengkap. Obstruksi yang lengkap bisa
menjadi hidronefrosis yang disertai tanda-tanda dan gejala-gejalanya. Proses
pathofisiologis dari batu perkemihan sifatnya mekanis. Urolithiasis merupakan
kristalisasi dari mineral dari matrik seputar, seperti pus, darah, jaringan
yang tidak vital, tumor atau urat. Komposisi mineral dari batu ginjal
bervariasi kira-kira tiga perempat bagian dari batu adalah kalsium, fosfat, sam
urin dan custine. Peningkatan konsentrasi larutan urin akibat dari intake
cairan rendah dan juga peningkatan bahan-bahan organik akibat infeksi saluran
kemih atau urin statis, mensajikan sarang untuk pembentukan batu. Ditambah
adanya infeksi meingkatkan kebasaan urin (oleh produksi amonium) , yang
berakibat presipitasi kalsium fosfat dan magnesium ammonium fosfat .
Urolithiasis
mengacu pada adanya batu (kalkuli) ditraktus urinarius. Batu terbentuk
ditraktus urinarius ketika konsentrasi substansi tertentu seperti
kalsiumoksalat, kalsium fosfat dan asam urat meningkat. Batu juga juga dapat
terbentuk ketika terdapat defisiensi substansi tertentu, seperti sitrat yang
secara normal mencegah kristalisasi dalam urin. Kondisi lain yang mempengaruhi
laju pembentukan batu mencakup PH urin dan status cairan pasien (batu cenderung
terjadi pada pasien dehidrasi). Batu dapat ditemukan di setiap bagian ginjal
sampai ke kandung kemih dan ukurannya bervariasi dan deposit granuler yang
kecil, yang disebut pasir atau krikil, sampai batu membesar kandung kemih
berwarna orange. Faktor tertentu yang mempengaruhi pembentukan batu, mencakup
infeksi, statis urin, periode immobilisasi (drainase renal yang lambat dan
perubahan metabolisme kalsium) (Dinda, 2011)..
Faktor-faktor
ini mencetuskan peningkatan konsentrasi kalsium di dalam darah dan urin,
menyebabkan pembentukan batu kalsium. Pembentukan batu urinarius juga dapat
terjadi pada penyakit inflamasi usus dan pada individu dengan ileustomi atau
reseksi usus, karena individu ini mengabsorbsi oksalat secara berlebihan. Lebih
dari 80% batu saluran kemih terdiri atas batu kalsium, baik yang berikatan
dengan oksalat maupun dengan fosfat, membentuk batu kalsium oksalat dan kalsium
fosfat, sedangkan sisanya berasal dari batu asam urat, batu magnesium ammonium
fosfat, batu xanthyn, batu sistein, dan batu jenis lainnya. Meskipun
patogenesis pembentukan batu-batu di atas hampir sama, tetapi suasana di dalam
saluran kemih yang memungkinkan terbentuknya jenis batu itu tidak sama.
Misalkan batu asam urat mudah terbentuk dalam suasana asam, sedangkan batu
magnesium amonium fosfat terbentuk karena urine bersifat basa. (Dinda, 2011).
G.PATHWAY
Faktor intrinsik:herediter, umur, jenis
kelamin
|
Faktor ekstrinsik: geografi, iklim
dan temperature, asupan air, diet pekerjaan.
|
Membentuk inti batu(nikleasi)
|
Membentuk
batu yg cukup besar untuk menyumbat saluran kemih
|
URETEROLITIASIS
|
Tindakan
pembedahan
|
Pre
operasi
|
Obstruksi
saluran kemih
|
Tekanan
hidrostatik
|
Distensi
ginjal serta ureter poximal
|
Pelepasan
mediator seni ( bradikinin, serotonin, histamin)
|
nyeri
|
Penurunan
reabsorbsi dan sekresi turbulen
|
Gangguan
fungsi ginjal
|
Penurunan
produksi
|
Gangguan
eliminasi urin
|
Kurangnya
informasi dan pengetahuan
|
Stressor
bagi klien
|
Krisis
situsional
|
ansietas
|
intra
operasi
|
Tidak
adekuat pemasangan grounpad dan pengguna
an ESU
|
Resiko
combustio
|
Resiko cedera
|
Penggunaan
intrumen dan bahan habis pakai
|
Kurang
pengawasan
|
Resiko
tertinggalnya alat dan bahan habis pakai
|
Post
operasi
|
Pembiusan
general anestesi
|
Kelemahan
pergerakan efek general anestesi
|
Resiko jatuh
|
I. KOMPLIKASI
Menurut
(S. Wahap, 2013: hal 168) batu saluran kemih selain memicu terjadinya renal
colic, ada beberapa komplikasi ada beberapa komplikasi yang di waspadai :
1. Pembendungan dan
pembengkakan ginjal
2. Kerusakan dan gagal
fungsi ginjal,
3. Infeksi saluran
kemih
4. Timbulnya batu
berulang
J. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Adapun
pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada klien batu saluran kemih adalah (American
Urological Association, 2005) :
1. Urinalisa
Warna
kuning, coklat atau gelap. : warna : normal kekuning-kuningan, abnormal merah
menunjukkan hematuri (kemungkinan obstruksi urine, kalkulus renalis,
tumor,kegagalan ginjal). pH : normal 4,6 – 6,8 (rata-rata 6,0), asam
(meningkatkan sistin dan batu asam urat), alkali (meningkatkan magnesium,
fosfat amonium, atau batu kalsium fosfat), Urine 24 jam : Kreatinin, asam urat,
kalsium, fosfat, oksalat, atau sistin mungkin meningkat), kultur urine menunjukkan
Infeksi Saluran Kencing , BUN hasil normal 5 – 20 mg/dl tujuan untuk
memperlihatkan kemampuan ginjal untuk mengekskresi sisa yang bemitrogen. BUN
menjelaskan secara kasar perkiraan Glomerular Filtration Rate. BUN dapat
dipengaruhi oleh diet tinggi protein, darah dalam saluran pencernaan status
katabolik (cedera, infeksi). Kreatinin serum hasil normal laki-laki 0,85 sampai
15mg/dl perempuan 0,70 sampai 1,25 mg/dl tujuannya untuk memperlihatkan
kemampuan ginjal untuk mengekskresi sisa yang bemitrogen. Abnormal (tinggi pada
serum/rendah pada urine) sekunder terhadap tingginya batu obstruktif pada
ginjal menyebabkan iskemia/nekrosis.
2. Laboratorium
a. Darah lengkap : Hb,
Ht, abnormal bila pasien dehidrasi berat atau polisitemia.
b.
Hormon Paratyroid mungkin meningkat bila ada gagal ginjal (PTH merangsang
reabsorbsi kalsium dari tulang, meningkatkan sirkulasi serum dan kalsium urine.
3. Foto KUB (Kidney
Ureter Bladder)
Menunjukkan ukuran
ginjal, ureter dan bladder serta menunjukan adanya batu di sekitar saluran
kemih.
4. Endoskopi ginjal
Menentukan pelvis
ginjal, dan untuk mengeluarkan batu yang kecil.
5. USG Ginjal
Untuk menentukan
perubahan obstruksi dan lokasi batu.
6. EKG (Elektrokardiografi)
Menunjukan ketidak
seimbangan cairan, asam basa dan elektrolit.
7. Foto Rontgen
Menunjukan adanya batu
didalam kandung kemih yang abnormal, menunjukkan adanya calculi atau perubahan
anatomik pada area ginjal dan sepanjang ureter.
8. IVP (Intra
Venous Pyelografi )
Menunjukan perlambatan
pengosongan kandung kemih, membedakan derajat obstruksi kandung kemih
divertikuli kandung kemih dan penebalan abnormal otot kandung kemih dan
memberikan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri abdominal atau
panggul. Menunjukkan abnormalitas pada struktur anatomik (distensi ureter).
9. Pielogram retrograd
Menunjukan
abnormalitas pelvis saluran ureter dan kandung kemih. Diagnosis ditegakan
dengan studi ginjal, ureter, kandung kemih, urografi intravena atau pielografi
retrograde. Uji kimia darah dengan urine dalam 24 jam untuk mengukur kalsium,
asam urat, kreatinin, natrium, dan volume total merupakan upaya dari
diagnostik. Riwayat diet dan medikasi serta adanya riwayat batu ginjal, ureter,
dan kandung kemih dalam keluarga di dapatkan untuk mengidentifikasi faktor yang
mencetuskan terbentuknya batu kandung kemih pada klien.
K. PENATALAKSANAAN
Tujuan
dasar penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan batu, menentukan jenis batu,
mencegah kerusakan nefron, mengidentifikasi infeksi, serta mengurangi obstruksi
akibat batu (Sja’bani, 2006). Cara yang biasanya digunakan untuk mengatasi batu
kandung kemih adalah terapi konservatif, medikamentosa, pemecahan batu, dan
operasi terbuka.
1. Terapi konservatif
Sebagian
besar batu ureter mempunyai diameter kurang dari 5 mm. Batu ureter yang
besarnya kurang dari 5 mm bisa keluar spontan (Fillingham dan Douglass, 2000).
Untuk mengeluarkan batu kecil tersebut terdapat pilihan terapi konservatif
berupa (American Urological Association, 2005):
a. Minum sehingga
diuresis 2 liter/ hari
b. α - blocker
c. NSAID
Batas
lama terapi konservatif adalah 6 minggu. Di samping ukuran batu syarat lain
untuk terapi konservatif adalah berat ringannya keluhan pasien, ada tidaknya
infeksi dan obstruksi. Adanya kolik berulang atau ISK menyebabkan konservatif
bukan merupakan pilihan. Begitu juga dengan adanya obstruksi, apalagi pada
pasien-pasien tertentu (misalnya ginjal tunggal, ginjal trasplan dan penurunan
fungsi ginjal ) tidak ada toleransi terhadap obstruksi. Pasien seperti ini
harus segera dilakukan intervensi (American Urological Association,
2005).
2. Extracorporal
Shock Wave Lithotripsy ( ESWL )
ESWL
banyak digunakan dalam penanganan batu saluran kemih. Badlani (2002)
menyebutkan prinsip dari ESWL adalah memecah batu saluran kemih dengan
menggunakan gelombang kejut yang dihasilkan oleh mesin dari luar tubuh.
Gelombang kejut yang dihasilkan oleh mesin di luar tubuh dapat difokuskan ke
arah batu dengan berbagai cara. Sesampainya di batu, gelombang kejut tadi akan
melepas energinya. Diperlukan beberapa ribu kali gelombang kejut untuk memecah
batu hingga menjadi pecahan-pecahan kecil, selanjutnya keluar bersama kencing
tanpa menimbulkan sakit. Al-Ansari (2005) menyebutkan komplikasi ESWL untuk
terapi batu ureter hampir tidak ada. Keterbatasan ESWL antara lain sulit
memecah batu keras (misalnya kalsium oksalat monohidrat), perlu beberapa kali
tindakan, dan sulit pada orang bertubuh gemuk. Penggunaan ESWL untuk terapi
batu ureter distal pada wanita dan anak-anak juga harus dipertimbangkan dengan
serius karena ada kemungkinan terjadi kerusakan pada ovarium.
3. Ureterorenoskopic
(URS)
Pengembangan
ureteroskopi sejak tahun 1980 an telah mengubah secara dramatis terapi batu
ureter. Kombinasi ureteroskopi dengan pemecah batu ultrasound, EHL, laser dan
pneumatik telah sukses dalam memecah batu ureter. Keterbatasan URS adalah tidak
bisa untuk ekstraksi langsung batu ureter yang besar, sehingga diperlukan alat
pemecah batu seperti yang disebutkan di atas. Pilihan untuk menggunakan jenis
pemecah batu tertentu, tergantung pada pengalaman masing-masing operator dan
ketersediaan alat tersebut.
4. Percutaneous
Nefro Litotripsy (PCNL)
PCNL
yang berkembang sejak dekade 1980 secara teoritis dapat digunakan sebagai
terapi semua batu ureter. Namun, URS dan ESWL menjadi pilihan pertama sebelum
melakukan PCNL. Meskipun demikian untuk batu ureter proksimal yang besar dan
melekat memiliki peluang untuk dipecahkan dengan PCNL (Al-Kohlany, 2005).
Menurut Al-Kohlany (2005), prinsip dari PCNL adalah membuat akses ke kalik atau
pielum secara perkutan. Kemudian melalui akses tersebut dimasukkan nefroskop
rigid atau fleksibel, atau ureteroskop, untuk selanjutnya batu ureter diambil
secara utuh atau dipecah. Keuntungan dari PCNL adalah apabila letak batu jelas
terlihat, batu pasti dapat diambil atau dihancurkan dan fragmen dapat diambil
semua karena ureter bisa dilihat dengan jelas. Proses PCNL berlangsung cepat
dan dapat diketahui keberhasilannya dengan segera. Kelemahan PCNL adalah PCNL
perlu keterampilan khusus bagi ahli urologi.
5. Operasi Terbuka
Fillingham
dan Douglass (2000) menyebutkan bahwa beberapa variasi operasi terbuka untuk
batu ureter mungkin masih dilakukan. Hal tersebut tergantung pada anatomi dan
posisi batu, ureterolitotomi bisa dilakukan lewat insisi pada flank, dorsal
atau anterior. Saat ini operasi terbuka pada batu ureter kurang lebih tinggal 1
-2 persen saja, terutama pada penderita-penderita dengan kelainan anatomi atau
ukuran batu ureter yang besar.
Komentar
Posting Komentar