BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Strauma adalah pembesaran pada kelenjar
tiroid yang biasanya terjadi karena
folikel folikel terisi koloid secara berlebihan. Setelah bertahun-tahun folikel
tumbuh semakin membesar dengan membentuk kista dan kelenjar tersebut menjadi noduler
(Smeltzer & Suzanne, 2013).
Struma nodosa non toksik adalah
pembesaran kelenjar tyroid yang secara klinik teraba nodul satu atau lebih
tanpa disertai tanda-tanda hypertiroidisme (Hartini, 2010). Struma non
toksik disebabkan oleh kekurangan yodium yang kronik. Struma ini disebut
sebagai simple goiter, struma endemik, atau goiter koloid yang sering ditemukan
di daerah yang air minumya kurang sekali mengandung yodium dan goitrogen yang menghambat sintesa hormon oleh zat
kimia.Sekitar 10 juta orang di seluruh dunia mengalami gangguan
tiroid, baik kanker tiroid, struma nodosa non toxic, maupun struma nodosa toxic
(American Thyroid Association, 2013).
Hasil
pemeriksaan TSH pada Riskesdas 2007 mendapatkan 12,8% laki-laki dan 14,7%
perempuan memiliki kadar TSH rendah yang menunjukkan kecurigaan aradanya
hipertiroid. Namun menurut hasil Riskesdas 2013, hanya terdapat 0,4% penduduk
indonesia yang berusia 15 tahun atau lebih yang berdasarkan wawancara mengakui
terdiagnosis hipertiroid. Meskipun secara presentase kecil, namun secara
kuantitas cukup besar. Jika pada tahun 2013 jumlah penduduk usia ≥15 tahun
sebanyak 176.689.336 jiwa, maka terdapat lebih dari 700.000 orang terdiagnosis
hipertiroid, dengan rincian masing-masing provinsi. Dan didapatkan hasil
pemeriksaan dijawa tengah 0,5% penduduk indonesia yang berusia ≥15 tahun sebanyak 24.089.433 jiwa, maka
terdapat lebih dari 120.447 orang terdiagnosis hipertiroid.
Nodul tiroid yang
ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda insidennya hanya sekitar 1,5% dan
sering ditemukan dengan sifat ganas sekitar 26%. Prevalensi nodul tiroid di
Indonesia tahun 2007 sebesar 14.7 %. Dari hasil data rekaman laporan operasi di
Instalasi Bedah Sentral RSI Sultan Agung Semarang didapatkan data bahwa tahun
2019 periode Juni – Agustus terdapat
53 kasus dengan diagnosa struma nodusa non toksik (SNNT) dan
dilakukan tindakan tiroidectomy sebanyak
22 dengan
presentase
kasus 41.5%.
Faktor- faktor yang dapat menyebabkan SNNT
(Struma Nodusa Non Toksit) bermacam-macam.
Pada setiap orang dapat dijumpai masa dimana kebutuhan terhadap tiroksin
bertambah, pubertas, menstruasi, kehamilan, laktasi, menapouse, infeksi atau
stress. Pada masa-masa tersebut dapat ditemui hiperplasi dan infolusi kelenjar
tyroid. Perubahan ini dapat menimbulkan nodularitas kelenjar tiroid serta
kelainan arsitektur yang dapat berlanjut dengan berkurangnya aliran darah di
daerah tersebut sehingga terjadi iskemia (Utami, 2013).
Penatalaksanaan
dari SNNT (Struma Nodusa Non Toksit)
yaitu dengan penatalaksanaan konservatif dan Penatalaksanaan operatif.
Penatalaksanaan konservatif dilakukan dengan pemberian tiroksin dan obat anti-tiroid
dan terapi yodium radioaktif. Sedangkan penatalaksanaan operatif yaitu dengan
tindakan pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat kelenjar tiroid adalah
tiroidektomi, meliputi subtotal ataupun total. Tiroidektomi subtotal akan
menyisakan jaringan atau pengangkatan 5/6 kelenjar tiroid, sedangkan tiroidektomi
total, yaitu pengangkatan jaringan seluruh lobus termasuk istmus (Sudoyo, A.,
dkk., 2009). Berdasarkan uraian yang telah
penulis jabarkan diatas, maka penulis tertarik untuk mengangkat laporan kasus dengan
judul “Asuhan Keperawatan Perioperatif Pada Ny. E Dengan Diagnosa
SNNT (Struma Nodusa Non Toxic) yang dilakukan tindakan
Thyroidectomy di Instalasi Bedah Sentral RSI Sultan Agung Semarang”.
B.
Tujuan
penulisan
1.
Tujuan Umum
Melaksanakan asuhan keperawatan
perioperatif padapasien
SNNT (Struma Nodusa Non Toxic) di RSI
Sultan Agung Semarang.
2.
Tujuan Khusus
a.
Menguraikan
konsep dasar teori penyakit SNNT dan asuhan keperawatan perioperatif.
b.
Melakukan
pengkajian asuhan keperawatan perioperatif dengan SNNT
di RSI Sultan Agung Semarang
c.
Merumuskan
diagnosa keperawatan perioperatif dengan SNNT di RSI Sultan
Agung Semarang
d.
Merencanakan
tindakan keperawatan perioperatif dengan SNNT di RSI Sultan
Agung Semarang
e.
Melakukan
impelementasi keperawatan perioperatif dengan SNNT di RSI
Sultan Agung Semarang
f.
Melakukan
evaluasi keperawatan perioperatif SNNT di RSI Sultan
Agung Semarang
C.
Manfaat
Penulisan
1.
Manfaat
Teoritis
Sebagai wacana atau informasi dan pengetahuan bagi
masyarakat maupun bagi tenaga kesehatan lain mengenai pengelolaan asuhan keperawatan perioperatif dengan SNNT.
2.
Manfaat Praktis
a. Bagi
Ilmu Keperawatan
Hasil laporan kasus ini diharapkan
dapat memberikan manfaat praktis bagi perawat dalam pengelolaan kasus
keperawatan perioperatif dengan SNNT yang dilakukan tindakan Tiroidektomy.
b. Bagi
Perawat Perioperatif
Dapat menambah pengetahuan,
penatalaksanaan pasien SNNT yang dilakukan tindakan Tiroidektomy pada fase pre,
intra, dan post operasi. Sedangkan
untuk
perawat
rawat
inap
berfokus
pada
fase pre dan post operasi.
c.
Bagi Klien
Agar klien
mendapatkan pelayanan asuhan keperawatan perioperatif Tiroidektomy yang
holistic dan terintegrasi.
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Definisi
Struma
nodosa non toxic adalah pembesaran kelenjar tiroid baik berbentuk nodul atau
difusa tanpa ada tanda-tanda hipertiroidisme dan bukan disebabkan oleh autoimun
atau proses inflamasi (Hermus& Huysmans, 2010).
Pembesaran
pada tiroid yang disebabkan akibat adanya nodul, disebut struma nodosa
(Tonacchera, Pinchera & Vitty, 2009).
Struma
nodosa non toxic adalah pembesaran kelenjar tyroid akibat kekurangan iodium
yang kronik (Solymosi, 2012)
Struma
nodosa non toxic adalah pembesaran kelenjar tiroid yang secara klinik terba
nodul satu atau lebih tanpa di sertai tanda-tanda hypertiroidisme (Hartini,
2013).
Jadi
dapat disimpulkan struma nodosa non toxic adalah pembesaran kelenjar
tiroid yang secara klinis teraba nodul
satau atau lebih tanpa di sertai tanda-tanda hypertiroidisme, yang diakibatkan
oleh kekurangan iodium yang kronik. Menurut penelitian Framingham, setiap orang
berisiko 5-10% untuk menderita struma nodosa dan perempuan berisiko 4 kali
lipat dibandingkan laki-laki (Incidence
and Prevalence Data, 2012). Kebutuhan hormon tiroid meningkat pada masa
pertumbuhan, masa kehamilan dan masa menyusui.
Struma
nodosa terdapat dua jenis, toxic dan non toxic. Struma nodosa toxic dimana
keadaan kelenjar tiroid mengandung nodul tiroid yang mempunyai fungsi yang
otonomik, yang menghasilkan suatu keadaan hipertiroid. Dampak struma nodosa
terhadap tubuh dapat mempengaruhi kedudukan organ-organ disekitarnya. Di bagian
posterior medial kelenjar tiroid terdapat trakea dan esophagus. Struma nodosa
dapat mengarah ke dalam sehingga mendorong trakea, esophagus dan pita suara
sehingga menjadi kesulitan bernafas dan disfagia ( Rehman, dkk 2006). Hal
tersebut akan berdampak terhadap gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi serta
cairan dan elektrolit.
B. Anatomi
Kelenjar tiroid tumbuh dari invaginasi dasar faring yang
terjadi pada minggu keempat kehamilan. Primordial kelenjar tiroid berimigrasi
kearah kaudal dan bergabung dengan sebagian dari kantong faring keempat. Bentuk
ini disebut badan ultimobrankial atau badan posbrankial.
Kelenjar tiroid tumbuh dari kantong faring ketiga dan keempat .Karena hubungan embrio logikini, kelenjar – kelenjar paratiroid sangat erat berhubungan dengan tiroid dalam hal ini perlu diperhitungkan dalam bedah tiroid.
Kelenjar tiroid terletak di depan dan di sisi leher, berhadapan dengan vertebra servikalis bawah dan torakal pertama. Kelenjar ini terdiri dari dua lobus, satu lobus terdiri pada setiap kelenjar dihubungkan dengan bagian sempit yang disebut ismus,yang menyilang tepat di depan trakea di bawah laring. Kelenjar ini dibentuk dari sejumlah folikel tertutup yang mengandung materi kuning semi cair yang disebut kolota.
Sel-selnya menghasilkan dua hormon yang disebut tiroksin dan triiodotironim( T4dan T3) yang dapat dilepas secara langsung kedalam aliran darah, bila hormone ini diperlukan atau dapat berkaitan substansi protein, tirogobulin dan disimpan dalam koloid tersebut.
C. Prevalensi penyakit
Sekitar
10 juta orang di seluruh dunia mengalami gangguan tiroid, baik kanker tiroid,
struma nodosa non toxic, maupun struma nodosa toxic (American Thyroid Association, 2013).
Hasil
pemeriksaan TSH pada Riskesdas 2007 mendapatkan 12,8% laki-laki dan 14,7%
perempuan memiliki kadar TSH rendah yang menunjukkan kecurigaan aradanya
hipertiroid. Namun menurut hasil Riskesdas 2013, hanya terdapat 0,4% penduduk
indonesia yang berusia 15 tahun atau lebih yang berdasarkan wawancara mengakui
terdiagnosis hipertiroid. Meskipun secara presentase kecil, namun secara
kuantitas cukup besar. Jika pada tahun 2013 jumlah penduduk usia ≥15 tahun
sebanyak 176.689.336 jiwa, maka terdapat lebih dari 700.000 orang terdiagnosis
hipertiroid, dengan rincian masing-masing provinsi. Dan didapatkan hasil
pemeriksaan dijawa tengah 0,5% penduduk indonesia yang berusia ≥15 tahun sebanyak 24.089.433 jiwa, maka
terdapat lebih dari 120.447 orang terdiagnosis hipertiroid. Nodul
tiroid yang ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda insidennya hanya sekitar
1,5% dan sering ditemukan dengan sifat ganas sekitar 26%. Prevalensi nodul
tiroid di Indonesia tahun 2007 sebesar 14.7%. Dari hasil data rekaman laporan
operasi di Instalasi Bedah Sentral RSI Sultan Agung Semarang didapatkan data
bahwa tahun 2019 periode Juni – Agustus terdapat 53 kasus dengan diagnosa struma nodusa non toksik (SNNT) dan
dilakukan tindakan tiroidectomy sebanyak
22 dengan
presentase
kasus 41.5%.
D. Etiologi
Penyebab
utama struma nodosa ialah karena kekurangan yodium (Black and Hawks, 2009).
Defisiensi yodium dapat menghambat pembentukan hormon tiroid oleh kelenjar. Hal
tersebut memungkinkan hipofisis mensekresikan TSH dalam jumlah yang berlebihan.
TSH kemudian menyebabkan sel-sel tiroid mensekresikan tiroglobulin dalam jumlah
yang besar ke dalam folikel, dan kelenjar menjadi bertambah besar.
Penyebab
lainnya karena adanya cacat genetik yang merusak metabolisme yodium, konsumsi
goitrogen yang tinggi (yang terdapat pada obat, agen lingkungan, makanan,
sayuran), kerusakan hormon kelenjar tiroid, gangguan hormonal dan riwayat
radiasi pada kepala dan leher (Rehman dkk, 2006 dalam Cahyani, 2013). Hal yang
mendasari pertumbuhan nodul pada struma nodosa non toxic adalah respon dari
sel-sel folikular tiroid yang heterogen dalam satu kelenjar tiroid pada tiap
individu. Dalam satu kelenjar tiroid yang normal, sensitivitas sel-sel dalam
folikel yang sama terhadap stimulus TSH dan faktor perumbuhan lain (IGF dan
EGF) sangat bervariasi. Terdapat sel-sel autonom yang dapat bereplikasi tanpa
stimulasi TSH dan sel-sel sangat sensitif TSH yang lebih cepat bereplikasi.
Sel- sel akan bereplikasi menghasilkan sel dengan sifat yang sama. Sel-sel
folikel dengan daya replikasi yang tinggi ini tidak tersebar merata dalam satu
kelenjar tiroid sehingga akan tumbuh nodul-nodul.
E. Klasifikasi
1. Struma
nodosa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal yaitu (Roy,2011):
a. Berdasarkan
jumlah nodul : bila jumlah nodul hanya satu disebut struma nodosa soliter
(uninodosa) dan bila lebih dari satu disebut struma multinodosa.
b. Berdasarkan
kemampuan menyerap yodium radioaktif, ada 3 bentuk nodul tiroid yaitu nodul
dingin, hangat, dan panas. Nodul dingin bila penangkapan yodium tidak ada atau
kurang dibandingkan dengan bagian tiroid sekitarnya. Hal ini menunjukkan
aktivitas yang rendah. Nodul hangat apabila penangkapan yodium sama dengan
sekitarnya. Ini berati fungsi nodul sama dengan bagian tiroid lainnya. Dan
nodul panas bila penangkapan yodium lebih banyak dari sekitarnya. Keadaan ini
memperlihatkan aktivitas yang berlebih.
c. Berdasarkan
konsistensinya lunak, kistik, keras dan sangat keras.
Struma
nodosa memiliki beberapa stadium, yaitu ( Lewinski, 2002) :
a.
Derajat 0 : tidak teraba pada pemeriksaan.
b.
Derajat I : teraba pada pemeriksaan, terlihat jika kepala ditegakkan.
c.
Derajat II : mudah terlihat pada posisi kepala normal.
d.
Derajat III : terlihat pada jarak jauh.
2. Berdasarkan
fisiologisnya
Berdasakan fisiologisnya struma
dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Eutiroidisme
Eutiroidisme
adalah suatu keadaan hipertrofi pada kelenjar tiroid yang disebabkan stimulasi
kelenjar tiroid yang berada di bawah normal sedangkan kelenjar hipofisis menghasilkan
TSH dalam jumlah yang meningkat. Goiter atau struma semacam ini biasanya tidak
menimbulkan gejala kecuali pembesaran pada leher yang jika terjadi secara
berlebihan dapat mengakibatkan kompresi trakea.
b. Hipotiroidisme
Hipotiroidisme
adalah kelainan struktural atau fungsional kelenjar tiroid sehingga sintesis
dari hormon tiroid menjadi berkurang. Kegagalan dari kelenjar untuk
mempertahankan kadar plasma yang cukup dari hormon. Beberapa pasien
hipotiroidisme mempunyai kelenjar yang mengalami atrofi atau tidak mempunyai
kelenjar tiroid akibat pembedahan/ablasi radioisotop atau akibat destruksi oleh
antibodi autoimun yang beredar dalam sirkulasi. Gejala hipotiroidisme adalah
penambahan berat badan, sensitif terhadap udara dingin, dementia, sulit berkonsentrasi,
gerakan lamban, konstipasi, kulit kasar, rambut rontok, mensturasi berlebihan,
pendengaran terganggu dan penurunan kemampuan bicara.
c. Hipertiroidisme
Hipertiroidisme
dikenal juga sebagai tirotoksikosis atau Graves yang dapat didefenisikan
sebagai respon jaringan-jaringan tubuh terhadap pengaruh metabolik hormon
tiroid yang berlebihan.
Keadaan
ini dapat timbul spontan atau adanya sejenis antibodi dalam darah yang
merangsang kelenjar tiroid, sehingga tidak hanya produksi hormon yang berlebihan
tetapi ukuran kelenjar tiroid menjadi besar. Gejala hipertiroidisme berupa
berat badan menurun, nafsu makan meningkat, keringat berlebihan, kelelahan,
leboh suka udara dingin, sesak napas. Selain itu juga terdapat gejala jantung
berdebar-debar, tremor pada tungkai bagian atas, mata melotot (eksoftalamus),
diare, haid tidak teratur, rambut rontok, dan atrofi otot
3. Berdasarkan
klinisnya
Secara klinis pemeriksaan klinis
struma toksik dapat dibedakan menjadi sebagai berikut :
a. Struma
Toksik, Struma toksik dapat dibedakan atas dua yaitu struma diffusa toksik dan
struma nodusa toksik. Istilah diffusa dan nodusa lebih mengarah kepada
perubahan bentuk anatomi dimana struma diffusa toksik akan menyebar luas ke
jaringan lain. Jika tidak diberikan tindakan medis sementara nodusa akan
memperlihatkan benjolan yang secara klinik teraba satu atau lebih benjolan
(struma multinoduler toksik). Struma diffusa toksik (tiroktosikosis) merupakan
hipermetabolisme karena jaringan tubuh dipengaruhi oleh hormon tiroid yang
berlebihan dalam darah. Penyebab tersering adalah penyakit Grave (gondok
eksoftalmik/exophtalmic goiter), bentuk tiroktosikosis yang paling banyak
ditemukan diantara hipertiroidisme lainnya. penyakitnya tidak disadari oleh
pasien meskipun telah diiidap selama berbulan-bulan. Antibodi yang berbentuk
reseptor TSH beredar dalam sirkulasi darah, mengaktifkan reseptor tersebut dan
menyebabkan kelenjar tiroid hiperaktif. Meningkatnya kadar hormon tiroid
cenderung menyebabkan peningkatan pembentukan antibodi sedangkan turunnya
konsentrasi hormon tersebut sebagai hasilpengobatan penyakit ini cenderung
untuk menurunkan antibodi tetapi buka
mencegah pembentukyna. Apabila gejala gejala hipertiroidisme bertambah
ber at dan mengancam jiwa penderita maka akan terjadi krisis tirotoksik. Gejala
klinik adanya rasa khawatir yang berat, mual, muntah, kulit dingin, pucat,
sulit berbicara dan menelan, koma dan dapat meninggal.
b. Struma
Non Toksik Struma non toksik sama halnya dengan struma toksik yang dibagi
menjadi struma diffusa non toksik dan struma nodusa non toksik. Struma non
toksik disebabkan oleh kekurangan yodium yang kronik. Struma ini disebut
sebagai simple goiter, struma endemik, atau goiter koloid yang sering ditemukan
di daerah yang air minumya kurang sekali mengandung yodium dan goitrogen yang
menghambat sintesa hormon oleh zat kimia. Apabila dalam pemeriksaan kelenjar
tiroid teraba suatu nodul, maka pembesaran ini disebut struma nodusa. Struma
nodusa tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme dan hipotiroidisme disebut
struma nodusa non toksik. Biasanya tiroid sudah mulai membesar pada usia muda
dan berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa. Kebanyakan penderita
tidak mengalami keluhan karena tidak ada hipotiroidisme atau hipertiroidisme,
penderita datang berobat karena keluhan kosmetik atau ketakutan akan keganasan.
Namun sebagian pasien mengeluh adanya gejala mekanis yaitu penekanan pada
esofagus (disfagia) atau trakea (sesak napas), biasanya tidak disertai rasa
nyeri kecuali bila timbul perdarahan di dalam nodul. Struma non toksik disebut
juga dengan gondok endemik, berat ringannya endemisitas dinilai dari prevalensi
dan ekskresi yodium urin. Dalam keadaan seimbang maka yodium yang masuk ke
dalam tubuh hampir sama dengan yang diekskresi lewat urin. Kriteria daerah
endemis gondok yang dipakai Depkes RI adalah endemis ringan prevalensi gondok
di atas 10 %-< 20 %, endemik sedang 20 % - 29 % dan endemik berat di atas 30
%. (Rismadi, 2013).
F. Manifestasi Klinis
Beberapa
penderita struma nodosa non toxic tidak memiliki gejala sama sekali. Jika
struma cukup besar, akan menekan area trakea yang dapat mengakibatkan gangguan
pada respirasi dan juga esofhagus tertekan sehingga terjadi gangguan menelan.
Peningkatan seperti ini jantung menjadi berdebar-debar, gelisah, berkeringat,
tidak tahan cuaca dingin, dan kelelahan. Beberapa diantaranya mengeluh adanya
gangguan menelan, gangguan pernapasan, rasa tidak nyaman di area leher, dan
suara yang serak. Pemeriksaan fisik struma nodosa non toxic berfokus pada
inspeksi dan palpasi leher untuk menentukan ukuran dan bentuk nodular. Inspeksi
dilakukan oleh pemeriksa yang berada di depan penderita yang berada pada posisi
duduk dengan kepala sedikit fleksi atau leher sedikit terbuka. Jika terdapat
pembengkakan atau nodul, perlu diperhatikan beberapa komponen yaitu lokasi,
ukuran, jumlah nodul, bentuk (diffus atau noduler kecil), gerakan pada saat
pasien diminta untuk menelan dan pulpasi pada permukaan pembengkakan.
Pemeriksaan dengan metode palpasi dimana pasien diminta untuk duduk, leher
dalam posisi fleksi. Pemeriksa berdiri di belakang pasien dan meraba tiroid
dengan menggunakan ibu jari kedua tangan pada tengkuk penderita. Struma nodosa
tidak termasuk kanker tiroid, tapi tujuan utama dari evaluasi klinis adalah
untuk meminimalkan risiko terhadap kanker tiroid (Cahyani, 2013).
G. Patofisiologi
Yodium
merupakan bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan hormon tiroid.
Bahan yang mengandung yodium diserap usus, masuk kedalam sirkulasi darah dan
ditangkap paling banyak oleh kelenjar tiroid. Dalam kelenjar, yodium dioksida
menjadi bentuk yang aktif yang distimulasikan oleh Tiroid Stimulating Hormon
(TSH) kemudian disatukan menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel
koloid. Senyawa yang terbentuk dalam molekul diyodotironin membentuk tiroksin
(T4) dan molekul triiodotironin (T3).
Tiroksin
(T4) menunjukan pengaturan umpan balik negatif dari seksesi TSH dan bekerja
langsung pada tirotropihypofisis, sedangkan T3 merupakan hormon metabolik yang
tidak aktif. Akibat kekurangan yodium maka tidak terjadi peningkatan
pembentukan T4 dan T3, ukuran folikel menjadi lebih besar dan kelenjar tiroid
dapat bertambah berat sekitar 300-500 gram. Beberapa obat dan keadaan dapat
mempengaruhi sintesis, pelepasan dan metabolisme tiroid sekaligus menghambat
sintesis tiroksin (T4) dan melalui rangsangan umpan balik negatif meningkatkan
pelepasan TSH oleh kelenjar hipofisis. Keadaan ini menyebabkan pembesaran
kelenjar tiroid. Biasanya tiroid mulai membesar pada usia muda dan berkembang
menjadi multinodular pada saat dewasa. Karena pertumbuhannya berangsur- angsur,
struma dapat menjadi besar tanpa gejala kecuali benjolan di leher. Sebagian
besar penderita dengan struma nodosa dapat hidup dengan strumanya tanpa
keluhan. Walaupun sebagian struma nodosa tidak mengganggu pernafasan karena
menonjol kebagian depan, sebagian lain dapat menyebabkan penyempitan trakea
bila pembesarannya bilateral (Cahyani, 2013).
H. Pathway Keperawatan
I.
Komplikasi
1. Perdarahan
2. Masalah
terbukanya vena besar dan menyebabkan embolisme udara
3. Tauma
pada nervus laryngrus recurrens
4. Memaksa
sekresi glandula ini dalam jumlah abnormal kedalam sirkulasi dengan tekanan
5. Sepsis
yang meluas ke mediastinum
6. Hipotyroiseme
pasca bedah akibat terangkatnya kelenjar paratiroid
7. Trakeumalasia
(melunaknya trakea).
J.
Pemeriksaan
Diagnostik
Pemeriksaan
penunjang untuk struma nodosa antara lain (Tonacchera, dkk, 2009):
1. Pemeriksaan
laboratorium
Pemeriksaan tes fungsi hormon : T4
atau T3, dan TSH.
2. Pemeriksaan
radiologi.
Foto rontgen dapat memperjelas
adanya deviasi trakea, atau pembesaran struma yang pada umumnya secara klinis
sudah bias diduga, foto rontgen pada leher lateral diperlukan untuk evaluasi
kondisi jalan nafas.
4. Pemeriksaan
ultrasonografi (USG). Manfaat USG dalam pemeriksaan tiroid
a. Untuk
menentukan jumlah nodul
b. Dapat
membedakan antara lesi tiroid padat dan kistik
c. Dapat
mengukur volume dari nodul tiroid
d. Dapat
mendeteksi adanya jaringan kanker tiroid residif yang tidak menangkap yodium,
dan tidak terlihat dengan sidik tiroid
e. Untuk
mengetahui lokasi dengan tepat benjolan tiroid yang akan dilakukan biopsi
terarah
f.
Pemeriksaan sidik tiroid. Hasil
pemeriksaan dengan radioisotop adalah tentang ukuran, bentuk, lokasi dan yang
utama adalah fungsi bagian-bagian tiroid.
5. Biopsi
aspirasi jarum halus (Fine Needle Aspiration Biopsy). Biopsi ini dilakukan
khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan.
K. Penatalaksanaan Medis
1. Penatalaksanaan
konservatif
a. Pemberian
Tiroksin dan obat Anti-Tiroid.
Tiroksin
digunakan untuk menyusutkan ukuran struma, selama ini diyakini bahwa
pertumbuhan sel kanker tiroid dipengaruhi hormon TSH. Oleh karena itu untuk
menekan TSH serendah mungkin diberikan hormon tiroksin (T4) ini juga diberikan
untuk mengatasi hipotiroidisme yang terjadi sesudah operasi pengangkatan
kelenjar tiroid. Obat anti-tiroid (tionamid) yang digunakan saat ini adalah
propiltiourasil (PTU) dan metimasol/karbimasol.
b. Terapi
Yodium Radioaktif
Yodium
radioaktif memberikan radiasi dengan dosis yang tinggi pada kelenjar tiroid
sehingga menghasilkan ablasi jaringan. Pasien yang tidak mau dioperasi maka
pemberian yodium radioaktif dapat mengurangi gondok sekitar 50 %. Yodium
radioaktif tersebut berkumpul dalam kelenjar tiroid sehingga memperkecil
penyinaran terhadap jaringan tubuh lainnya. Terapi ini tidak meningkatkan
resiko kanker, leukimia, atau kelainan genetik. Yodium radioaktif diberikan
dalam bentuk kapsul atau cairan yang harus diminum di rumah sakit, obat ini ini
biasanya diberikan empat minggu setelah operasi, sebelum pemberian obat
tiroksin.
2. Penatalaksanaan
operatif
a. Tiroidektomi
Tindakan
pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat kelenjar tiroid adalah tiroidektomi,
meliputi subtotal ataupun total. Tiroidektomi subtotal akan menyisakan jaringan
atau pengangkatan 5/6 kelenjar tiroid, sedangkan tiroidektomi total, yaitu
pengangkatan jaringan seluruh lobus termasuk istmus (Sudoyo, A., dkk., 2009).
Tiroidektomi merupakan prosedur bedah yang relative aman dengan morbiditas
kurang dari 5 %. Menurut Lang (2010), terdapat 6 jenis tiroidektomi, yaitu :
1) Lobektomi
tiroid parsial, yaitu pengangkatan bagian atas atau bawah satu lobus
2) Lobektomi
tiroid, yaitu pengangkatan seluruh lobus ‒ Lobektomi
tiroid dengan isthmusectomy, yaitu pengangkatan satu lobus dan istmus
3) Subtotal
tiroidektomi, yaitu pengangkatan satu lobus, istmus dan sebagian besar lobus
lainnya.
4) Total
tiroidektomi, yaitu pengangkatan seluruh kelenjar.
5) Tiroidektomi
total radikal, yaitu pengangkatan seluruh kelenjar dan kelenjar limfatik
servikal.
Setiap
pembedahan dapat menimbulkan komplikasi, termasuk tiroidektomi. Komplikasi
pasca operasi utama yang berhubungan dengan cedera berulang pada saraf laring
superior dan kelenjar paratiroid. Devaskularisasi, trauma, dan eksisi sengaja
dari satu atau lebih kelenjar paratiroid dapat menyebabkan hipoparatiroidisme
dan hipokalsemia, yang dapat bersifat sementara atau permanen. Pemeriksaan yang
teliti tentang anatomi dan suplai darah ke kelenjar paratiroid yang adekuat
sangat penting untuk menghindari komplikasi ini. Namun, prosedur ini umumnya
dapat ditoleransi dengan baik dan dapat dilakukan dengan cacat minimal (Bliss
et al, 2000). Komplikasi lain yang dapat timbul pasca tiroidektomi adalah
perdarahan, thyrotoxic strom, edema pada laring, pneumothoraks, hipokalsemia,
hematoma, kelumpuhan syaraf laringeus reccurens, dan hipotiroidisme (Grace
& Borley, 2007). Tindakan tiroidektomi dapat menyebabkan keadaan
hipotiroidisme, yaitu suatu keadaan terjadinya kegagalan kelenjar tiroid untuk
menghasilkan hormon dalam jumlah adekuat, keadaan ini ditandai dengan adanya
lesu, cepat lelah, kulit kering dan kasar, produksi keringat berkurang, serta
kulit terlihat pucat. Tanda-tanda yang harus diobservasi pasca tiroidektomi
adalah hipokalsemia yang ditandai dengan adanya rasa kebas, kesemutan pada
bibir, jari-jari tangan dan kaki, dan kedutan otot pada area wajah (Urbano, FL,
2000). Keadaan hipolakalsemia menunjukkan perlunya penggantian kalsium dalam
tubuh. Komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah kelumpuhan nervus laringeus
reccurens yang menyebabkan suara serak. Jika dilakukan tiroidektomi total,
pasien perlu diberikan informasi mengenai obat pengganti hormon tiroid, seperti
natrium levotiroksin (Synthroid), natrium liotironin (Cytomel) dan obat-obatan
ini harus diminum selamanya (Cahyani, 2013).
L.
Diagnosa dan intervensi
Diagnosa
keperawatan yang mungkin timbul dari masalah yang ditemukan dalam pengkajian
sebagai berikut:
1.
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
berhubungan dengan penekanan trakea
Intervensi:
a. Monitor
status oksigen pasien
b. Berikan
oksigen apabila pasien respiratory rate pasien meningkat
c. Monitor
respirasi dan status O2
d. Posisikan
pasien untuk memaksimalkan ventilasi
2. Nyeri
berhubungan dengan pembesaran kelenjar tiroid (proses penyakit)
Intervensi:
a.
Lakukan pengkajian nyeri secara
komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, surasi, frekuensi, kualitas dan
faktor presipitas.
b.
Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
c.
Posisikan pasien untuk memfalisitasi
kenyamanan ( misalnya gunakan prinsip – prinsip keselarasan tubuh ; imobilisasi
tubuh dengan ganjel dengan bantal )
d.
Instruksikan klien menggunakan tehnik
relaksasi nafas dalam
(menarik nafas dalam dari hidung dan mengisi paru – paru dengan udara
hingga hitungan ke 3, dan hembuskan melalui mulut )
3. Ansietas
berhubungan dengan tindakan operasi (krisis situsional)
Intervensi:
a.
Anjurkan pasien untuk berdoa
b.
Ajarkan klien teknik distraksi
c.
Dampingi pasien dan beri support Dsdsds
Tenangkan klien ( edukasi tentang tindakan dan prosedur operasi)
BAB III
TINJAUAN KASUS
Asuhan
Keperawatan Perioperatif Pada Ny. E Dengan Diagnosa SNNT (Struma Nodusa Non Toxic) yang dilakukan tindakan Thyroidectomy
Asuhan
Keperawatan Perioperatif
Hari/tanggal : Senin / 09
September2019
Pukul : 14.10 WIB
Tempat :
Ruang Baitul Izzah I RSI Sultan Agung Semarang
Metode :
Wawancara, observasi, pemeriksaan fisik
Sumber :
Klien, keluarga, dan dokumentasi pasien
1.
Asuhan Keperawatan Pre Operatif
a
Identitas
1) Identitas Pasien
Nama :
Ny. E
Tgl.
Lahir/Umum` : 22/04/1971 (48 tahun,
4 bulan)
No.
RM : 138.80.96
Ruangan
/ Kelas : Baitul Izah / II (Non
PBI)
Diagnosa
Medis : SNNT (Struma Nodusa Non Toxic)
Jenis
Kelamin :
Perempuan
Agama :
Islam
Alamat :Menawan
01/05 Gebog Kudus
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Tgl.
Masuk RS :
07 September 2019
Tgl.
Operasi : 09September 2019
Dokter
Operator : dr. Saptadi S. Basuki,
Sp.B.Onk(K)
Dokter
Anestesi : dr. Endang Widyastuti
Sp.An
Jenis
Anestesi :
General Anestesi
2) Penanggung Jawab
Nama :
Ny. T
Umur : 29 tahun
Pendidikan :
SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl.Nakula 1 No.76
Pendrikan Kidul, Semarang
Hub.
Dengan Klien : Anak Kandung
b
Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama
Klien
mengatakan terdapat benjolan di leher depan sejak 10 tahun yang lalu. Benjolan
dirasa semakin membesar.
2) Riwayat Penyakit Sekarang
Ny.
E, usia 48 tahun, datang ke rumah sakit dengan keluhan adanya benjolan yang muncul
di leher depan sejak 10 tahun yang lalu. Ukuran benjolan berubah sejak awal
pertama kali muncul. Klien mengatakan adanya nyeri di daerah leher bagian depan,
nyeri terasa hilang timbul, nyeri terasa saat menelan dengan skala 3. Terdapat keluhan
gangguan bernapas dan gangguan menelan.
Nafsu makan normal dan ada penurunan
berat badan 1 kg dalam sebulan
terakhir. TD: 130/70 mmHg, N: 83x/menit,
RR: 20 x/m, S: 36,4 C, SpO2: 99%
3) Riwayat Penyakit Dahulu
Klien
tidak memiliki riwayat Hipertensi, DM, Jantung. Klien mengatakan tidak pernah
dilakukan tindakan operasi dan dirawat di RSI Sultan Agung Semarang.
4) Riwayat Penyakit Keluarga
Klien
mengatakan keluarga tidak memiliki penyakit menular dan tidak ada
anggota keluarganya yang
mengalami hal yang serupa dengan klien.
c
Check List Pre Operatif
Rekam
Medis Pasien : Ada
Persyaratan
administrasi : Ada
Persiapan
darah : Tidak ada
Premedikasi : Tidak Ada
Puasa :Puasa
6 jam sebelum operasi
Inform
dan Consent : Inform bedah
dan anestesi
Persiapan
kulit/cukur : Tidak ada
Protese/gigi
palsu/softlens : Tidak ada
Perhiasan
digunakan : Tidak
ada
Lab
Darah : Ada
Foto
Rontgen : Ada
Infus :RL 20
tts/mnt
Catheter
Urine : Tidak ada
Alergi
Obat : Tidak ada
Lain-Lain : -
d
Pemeriksaan Fisik
Keadaan
Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Status
psikologis : Baik
Data
subjektif :Ny. Eusia 48 tahun, datang ke rumah
sakit dengan keluhan adanya benjolan yang muncul di leher depan sejak 10 tahun
yang lalu. Ukuran benjolan berubah sejak awal pertama kali muncul. Klien
mengatakan adanya nyeri di daerah leher bagian depan, nyeri terasa hilang
timbul, nyeri terasa saat menelan dengan skala 3. Terdapat keluhan gangguan
bernapas dan gangguan menelan.
Nafsu makan normal
dan ada penurunan
berat badan 1
kg dalam sebulan terakhir. TD: 130/70 mmHg, N: 83x/menit, RR: 20 x/m, S: 36,4 C, SpO2:
99%. Klien mengatakan takut menghadapi operasi, karena baru pertama kali
akan dilakukan tindakan operasi.
Data Objektif : Tampak Terlihat benjolan ± 8
cm dengan lebar ± 5 cm, wajah tampak tegang dan gelisah, TD: 130/70 mmHgN: 83x/menit, RR: 20 x/m, S: 36,4 C, SpO2:
99%, Skala nyeri 3.
e
Data Penunjang
1)
Pemeriksaan
laboratorium tanggal 07 September 2019
Nama : Ny.E
Tgl
lahir / Umur : 22/04/1971 (48
thn)
No.
Rm : 1388096
Pemeriksaannnnnnbnn
|
Hasil
|
Satuan
|
Nilai Normal
|
Hematologi
|
|||
Leukosit
|
8.51
|
10^3/ul
|
3.6-11.0
|
Hemoglobin
|
11.4
|
g/Dl
|
11.7-15.5
|
Hematokrit
|
34.8
|
%
|
33-45
|
APTT/PTTK
|
28.7
|
detik
|
21.8-28.0
|
kontrol
|
25.9
|
detik
|
21.0-28.4
|
PPT
|
9.4
|
detik
|
9.3-11.4
|
Trombosit
|
254
|
10^3/uL
|
150-440
|
Imonoserologi
|
|||
HBsAg
|
Non reaktif
|
Non reaktif
|
-
|
Kimia
|
|||
GDS
|
106
|
Mg/dl
|
75-110
|
Ureum
|
35
|
Mg/dl
|
10-50
|
creatinin
|
0.99
|
Mg/dl
|
0.6-1.1
|
Natrium
|
141.6
|
Mmol/l
|
135-147
|
Kalium
|
3.83
|
Mmol/l
|
3.5-5
|
chloride
|
103.8
|
Mmol/l
|
95-105
|
Hormon
|
|||
Total T3
|
1.29
|
Nmol/l
|
0.92-2.33
|
TSHs
|
0,18 L
|
ulU/ml
|
0.25-5
|
Free T4
|
11.11
|
Pmol/l
|
10.6-19.4
|
2)
Pemeriksaan
Radiologi USG Thyroid
Pada
tanggal 07 september 2019
Nama : Ny. E
Tgl
lahir / Umur : 22/04/1971(48 thn)
No.
Rm : 1388096
KLINIS
SNNT
Tiroid kanan/kiri
-
Ukuran membesar
-
Distensi
inhomogen
-
Nodul
solid dengan bagian kistik (central nekrosis ) kanan ukuran 4.3x2.37x3.89 cm
dan kiri 3.3x2.14x4.61 cm
-
Vaskularisasi
meningkat intra nodul
-
Kalsifikasi
(-)
-
Nodul
di ithmus inhemogen, vaskuler meningkat ukuran 1.57x1.44cm
KESAN
Struma nodusa bilateral, kanan ukuran
4,3x2,37x3,89 cm dan kiri 3,3x2,14x4,61 cm, cenderung maligna
Nodul di ithmus ukuran 1,57x1,44 cm
Foto
Thorax tgl 07 September 2019
Cor
: Apeks ke laterocaudal.
Pulmo : Corakan bronchovaskuler tak
meningkat.
Tak tampak gambaran infiltrat
maupun nodul.
Diafragma dan sinus costofrenicus tak
tampak kelainan.
Tak tampak lesi litik, sklerotik,
maupun destruktif pada os costae, os claviculae, dan os scapulae yang terlihat.
KESAN:
Cardiomegali (LV)
Tak tampak kelainan pada pulmo dan
tulang yang terlihat.
f.
Analisa Data Pre Operatif
No
|
Analisa
Data
|
Etiologi
|
Problem
|
TTD
|
1
|
DS : Klien mengatakan sulit bernafas
dan menelan.
DO
: hasil pemeriksaan USG Thyroid
Kesan :
- Hasil
pemeriksaan radiologi menunjukkanStruma
nodusa bilateral kanan ukuran 4,3x2,37x3,89 cm dan kiri 3,3x2,14x4,61 cm,
cenderung maligna, Nodul di ithmus ukuran 1,57x1,44 cm.
TD
: 130/70 mmHg
N
: 83 x/menit
RR
: 20 x/menit
S
: 36,40C
Sp02:
99 %
|
Adanya masa
|
Ketidakefektifan jalan nafas
|
BSCORN
|
2
|
DS
: Klien mengatakan
nyeri pada leher bagian depan.
·
P : Nyeri leher bagian depan akibat penekanan pada trakea
·
Q : Nyeri seperti tertekan
·
R : lehar bagian depan
·
S :Skala nyeri 3
·
T : Hilang timbul
DO : Pemeriksaan fisik pada leher bawah kanan ditemukan
adanya pembengkakan (massa) lebih dari satu.
TD
: 130/70 mmHg
N
: 83 x/menit
RR
: 20 x/menit
S
: 36,40C
Sp02 : 99 %
·
Klien tampak menahan nyeri
|
Pembesaran kelenjar tiroid (proses penyakit)
|
Nyeri
|
BSCORN
|
3
|
DS : Klien mengatakan takut akan
dilakukan tindakan operasi karena ini baru pertama kalinya klien dioperasi.
DO :
·
Klien tampak tegang
·
Skala APAIS 15 (Kecemasan sedang)
·
TTV
TD : 130/70mmHg
N : 83 x/menit
RR : 20 x/menit
S : 36,40C
SpO2 : 99%
|
Tindakan operasi (krisis situsional)
|
Ansietas
|
BSCORN
|
g.
Intervensi Keperawatan Pre-Operatif
No
|
Diagnosa
|
NOC
|
NIC
|
TTD
|
1
|
Ketidakefektifan jalan nafas b.d Benda
asing dalam jalan nafas (Adanya massa)
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 1x30 menit, diharapkan :
1. Jalan
nafas klien dapat efektif dengan kriteria hasil tidak ada sumbatan pada
trakea.
2. Menujukan
jalan nafas yang paten ( klien tidak merasa tercekik ) rentang normal, tidak
ada suara nafas upnormal
3. Mampu
mengidentifikasikan dan mencegah faktor menghambat jalan nafas
|
Airway
Suction :
1. Monitor
status oksigen pasien
2. Berikan
oksigen apabila pasien respiratory rate pasien meningkat
Airway
management :
1. Monitor
respirasi dan status O2
2. Posisikan
pasien untuk memaksimalkan ventilasi
|
BSCORN
|
2
|
Nyeri berhubungan dengan pembesaran kelenjar tiroid
(proses penyakit)
|
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan 1x15 menit, diharapkan nyeri hilang dengan kriteria:
1. Pasien tidak lagi mengeluh nyeri
pada tenggorokannya.
2. Ekspresi wajah pasien sudah tampak
rileks.
3. Tanda-tanda vital dalam rentang normal.
|
Manajemen
Nyeri
1. Lakukan pengkajian nyeri secara
komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, surasi, frekuensi, kualitas dan
faktor presipitas.
2. Observasi reaksi nonverbal dari
ketidaknyamanan
Manajemen
Lingkungan : Kenyamanan
1. Posisikan pasien untuk
memfalisitasi kenyamanan ( misalnya gunakan prinsip – prinsip keselarasan
tubuh ; imobilisasi tubuh dengan ganjel dengan bantal )
2. Instruksikan klien menggunakan
tehnik relaksasi nafas dalam (menarik nafas dalam
dari hidung dan mengisi paru – paru dengan udara hingga hitungan ke 3, dan
hembuskan melalui mulut )
|
BSCORN
|
3
|
Ansietas berhubungan dengan tindakan
operasi (krisis situsional)
|
Setelah dilakukan tindakan selama
1x15 menit, diharapkan :
1. Klien
dapat memahami proses tindakan operasi
2. Klien
menyadari bahwa operasi penting untuk kesembuhan
3. Klien
tampak tenang
|
1. Tenangkan
klien ( edukasi tentang tindakan dan prosedur operasi)
2. Anjurkan
klien untuk berdo’a
3. Ajarkan
klien teknik distraksi
4. Dampingi
pasien dan beri support
|
BSCORN
|
h.Implementasi
Keperawatan Pre-Operatif
No
|
Diagnosa
|
Tindakan
Keperawatan
|
Respon
dan Hasil
|
TTD
|
1
|
Ketidakefektifan jalan nafas b.d
adanya masa
|
Airway
Suction :
1. Monitor
status oksigen pasien.
2. Berikan
oksigen apabila pasien respiratory rate pasien meningkat
Airways
management :
1. Monitor
respirasi dan status O2
2. Posisikan
pasien untuk memaksimalkan ventilasi (semi fowler)
|
S : Klien mengatakan sesak nafas
berkurang
O : pasien tampak rileks.
TD : 125/70 mmHg
N : 78 x/menit
RR : 21 x/menit
S : 36,5 0C
SpO2 : 99%
|
BSCORN
|
2
|
Gangguan rasa nyaman nyeri
berhubungan dengan pembesaran kelenjar tiroid (proses penyakit)
|
Manajemen
Nyeri
1. Lakukan pengkajian nyeri secara
komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, surasi, frekuensi, kualitas dan
faktor presipitas.
2. Observasi reaksi nonverbal dari
ketidaknyamanan
Manajemen
Lingkungan : Kenyamanan
1. Posisikan pasien untuk
memfalisitasi kenyamanan ( misalnya gunakan prinsip – prinsip keselarasan
tubuh ; imobilisasi tubuh dengan ganjel dengan bantal )
2. Instruksikan klien menggunakan
tehnik relaksasi nafas dalam (menarik nafas dalam dari hidung dan mengisi
paru – paru dengan udara hingga hitungan ke 3, dan hembuskan melalui mulut)
|
S : Klien mengatakan nyeri berkurang
· P : Penekanan pada trakea
· Q
: Nyeri seperti tertekan
· R : Leher depan
· S : Skala nyeri 1
· T : Hilang timbul
O : Klien tampak rileks
TD : 125/70 mmHg
N : 78 x/menit
RR : 21 x/menit
S : 36,5 0C
SpO2 : 99%
|
BSCORN
|
3
|
Ansietas berhubungan dengan tindakan operasi (krisis situsional)
|
1. Menenangkan
klien
2. Menganjurkan
klien untuk berdo’a
3. Mengajarkan
klien teknik distraksi
4. Mendampingi
pasien dan beri support
|
S : Klien mengatakan sedikit tenang
O : Klien tampak rileks
Tekanan darah : TD :130/70mmHg
N : 83 x/menit
S:36,4 C SpO2:99%
|
BSCORN
|
i. Evaluasi Keperawatan Pre-Operasi
No
|
Hari/Tanggal/Jam
|
Diagnosa
|
Catatan Perkembangan
Keperawatan
|
TTD
|
1
|
Minggu,
8 September2019
Jam
09.40 WIB
|
Ketidakefektifan
jalan nafas b.d adanya masa
|
S :
Klien mengatakan sesak nafas berkurang
O :
-
pasien
tampak rileks.
-
Posisi
pasien semi fowler
-
TTV
dalam batas normal
TD : 130/70 mmHg
N : 83 x/menit
RR : 20 x/menit
S : 36,40C
SpO2 : 99%
A :
Masalah teratasi
P :
Hentikan intervensi
|
BSCORN
|
2
|
Minggu,
8 September 2019
Jam
09.40 WIB
|
Gangguan
rasa nyaman nyeri berhubungan dengan pembesaran kelenjar tiroid (proses
penyakit)
|
S : Klien mengatakan nyeri berkurang
·
P : Penekanan
pada trakea
·
Q : Nyeri seperti tertekan
·
R : Leher depan
·
S : Skala nyeri 1
·
T : Hilang timbul
O: Klien tampak rileks
TD : 130/70 mmHg
N : 83 x/menit
RR : 20 x/menit
S : 36,40C
SpO2 : 99%
|
BSCORN
|
3
|
Minggu,
8 September 2019
Jam
09.40 WIB
|
Ansietas
berhubungan dengan tindakan operasi (krisis situsional)
|
S
: Klien mengatakan cemas berkurang dan siap dilakukan tindakan operasi
O
:
-
Klien tampak rileks
-
Skala APAIS8 (cemas ringan)
-
Vital sign dalam batas normal
TD : 130/70 mmHg
N : 83 x/menit
|
BSCORN
|
2.
Asuhan
Keperawatan Intra Operatif
A.
Pengkajian
Ny.E masuk ruang operasi tanggal 9
September 2019 pukul 14.10 WIB
Data subjektif : -
Data objektif :
·
Tingkat kesadaran klien composmentis
GCS 15 (E4, M6, V5)
·
Posisi supine belum dilakukan General
anestesi
·
Tanda-tanda vital, TD: 130/ 80 mmHg, N:
80 x/mnt, RR: 20 x/mnt, S: 36,5˚C, SpO2: 99%
·
Estimasi lama operasi 1,5 jam
·
Penggunaan set operasi onkologi
B.
Analisa
Data
N
|
Tanggal/
Jam
|
Analisa
Data
|
Etiologi
|
Masalah
|
TTD
|
1
|
09September2019
Jam
14.15WIB
|
DS : -
DO
:
· Klien
terpasang ground pad
|
Efek
sekunder penggunaan ESU
|
Resiko
cedera (combustio)
|
BSCORN
|
2
|
09September
2019
Jam
14.15WIB
|
DS : -
DO
:
· Penggunaan
set instrument operasi onkologi
· Penggunaan
bahan habis pakai
|
Efek
sekunder penggunaan instrument dan bahan habis pakai sebelum pembedahan
|
Resiko
cidera tertinggalnya benda asing
|
BSCORN
|
C.
Intervensi
Keperawatan Intra Operasi
No.
|
Diagnosa
|
NOC
|
NIC
|
TTD
|
1
|
Resiko
cedera berhubungan dengan efek sekunder penggunaan ESU
|
Setelah
dilakukan tindakan selama 1x1 jam diharapkan
· Mampu
menhindari paparan terhadap penggunaan ESU
· Klien
terbebas dari cedera kulit (kulit kemerahan, bula)
|
· Pasang
ground pad
· Fiksasi
dengan adekuat
· Gunakan
power output sesuai dengan kebutuhan
· Awasi
selama pemakaian alat ESU
|
BSCORN
|
2
|
Resiko
cedera tertinggalnya benda asing berhubungan dengan efek sekunder penggunaan
instrument dan bahan habis pakai sebelum pembedahan
|
Setelah
dilakukan tindakan selama 1x1 jam diharapkan
· Jumlah
instrumen lengkap
· Jumlah
kasa lengkap
· Jumlah
benang dan jarum lengkap
· Penambahan
alat diketahui
|
· Hitung
dancatat jumlah set instrumen onkologi
· Hitung
dan catat jumlah bahan habis pakai (kassa, benang, jarum) sebelum dan sesudah
operasi
· Catat
penambahan kebutuhan alat
|
BSCORN
|
D.
Implementasi
Keperawatan Intra Operatif
No.
|
Tgl/Jam
|
Diagnosa
|
Tindakan
Keperawatan
|
Respon
dan Hasil
|
TTD
|
1
|
Senin,
09September2019
Jam
14.10 WIB
|
Resiko
cedera berhubungan dengan efek sekunder penggunaan ESU
|
1.
Memasang ground pad sesuai prosedur
|
DS:
-
DO:
· Ground
pad terpasang dengan kabel ESU
|
BSCORN
|
Jam
14.12 WIB
|
2.
Memfiksasi ground pad dengan adekuat
|
DS:
-
DO:
· Ground
padterpasang pada bagian paha kanan
|
BSCORN
|
||
Jam
14.15 WIB
|
3. Menggunakan output sesuai dengan kebutuhan
|
DS:
-
DO:
· Cutting
45 Mhz, coagulan 46 Mhz
|
BSCORN
|
||
Jam
14.25 WIB
|
4. Mengawasi selama pemakaian ESU
|
DS:
-
DO:
· Ground
pad terfiksasi dengan adekuat
|
BSCORN
|
||
2
|
Senin, 09 September 2019
Jam 14.15 WIB
|
Resiko cedera tertinggalnya benda asing
berhubungan dengan efek sekunder penggunaan instrument dan bahan habis pakai
sebelum pembedahan
|
1. Menghitung dan mencatat jumlah set
instrument ONKOLOGI yang digunakan
|
DS: -
DO:
·
Jumlah
sesuai dengan dengan cek list set instrument Basic
|
BSCORN
|
Jam
14.20 WIB
|
2.
Mencatat penambahan kebutuhan alat
|
DS:
-
DO:
· Tidak
ada penambahan alat
|
BSCORN
|
||
Jam
14.25WIB
|
3.
Menghitung dan mencatat jumlah bahan habis pakai (kassa, benang, jarum)
sebelum dan sesudah operasi
|
DS:
-
DO:
· Tidak
ada penambahan bahan habis pakai, sesuai dengan perhitungan awal
|
BSCORN
|
E.
Evaluasi
Keperawatan Intra Operatif
No.
|
Hari/tgl/jam
|
Diagnosa
|
Catatan
Keperawatan
|
TTD
|
1
|
Senin,
09 September 2019
Jam
15.15 WIB
|
Resiko
cedera berhubungan dengan efek sekunder penggunaan ESU
|
S : -
O
:
· Mampu
menghindari paparan terhadap penggunaan ESU
· Klien
terbebas dari cedera kulit (kulit kemerahan, bula)
· TD:
110/60 mmHg, N: 78x/menit, SpO2: 99%, RR: 20x/menit.
A
: Masalah teratasi
P :Hentikan intervensi
|
BSCORN
|
2
|
Jam
15.15 WIB
|
Resiko
cedera tertinggalnya benda asing berhubungan dengan efek sekunder penggunaan
instrument dan bahan habis pakai sebelum pembedahan
|
S : -
O
:
· Jumlah
instrumen pre, intra, dan post op sesuai dengan ceklist set instrumen Basic
· Tidak
ada penambahan alat
· Tidak
ada penambahan barang habis pakai
A
: Masalah teratasi
P
: Hentikan intervensi
|
BSCORN
|
3. Asuhan Keperawatan Post Operatif
A.
Pengkajian
Ny. E selesai operasi tanggal 09
September 2019 pukul 15.35 WIB
Data subjektif : Klien mengatakan
badannya lemas setelah dilakukan tindakan operasi
Data objektif :
·
Kesadaran Composmentis, GCS 15(E4M5V6)
·
Post General anestesi
·
Terpasang balutan steril sepanjang ±10
cm pada leher
·
Terpasang drain no 12 dengan produksi ±
5 cc, warna merah darah segar
·
TTV : TD : 110/80 mmHg, N : 80x/menit,
RR : 20 x/menit, SpO2 : 99%
·
Aldret score 8
Aldret Score
Kriteria
|
Score
|
Aktifitas
motorik :
Seluruh
ekstremitas dapat di gerakkan 2
Dua
ekstremitas digerakkan 1
Tidak
ada gerakan
0
|
1
|
Respirasi
:
Nafas
dalam, batuk
2
Dangkal
namun pertukaran udara adekuat
1
Apnea/tidak
nafas adekuat 0
|
1
|
Sirkulasi
Tekanan
darah berbeda ±20 mmHg dari Pre-OP
2
Tekanan
darah berbeda ±20-50 mmHg dari Pre-OP
1
Tekanan
darah berbeda ±50 mmHg dari Pre-OP
0
|
2
|
Kesadaran
:
Sadar
penuh mudah dipanggil 2
Bangun
jika dipanggil
1
Tidak
ada respon
0
|
2
|
Warna
kulit :
Kemerahan/normal
2
Pucat
1
Sianosis
0
|
2
|
Score
> 8, pasien boleh di pindahkan
|
8
|
B.
Analisa
Data post operasi
No
|
Tanggal/Jam
|
Analisa Data
|
Etiologi
|
Problem
|
TTD
|
1
|
Senin,
09 September 2019
Jam
15.35 WIB
|
DS
: Klien mengatakan badannya lemas setelah dilakukan tindakan operasi
DO
:
·
Kesadaran Composmentis
·
Post General anestesi
·
Aldret score 8
|
Kelemahan
pergerakan efek general anestesi
|
Resiko
jatuh
|
BSCORN
|
C.
Intervensi
Keperawatan Post Operasi
No
|
Tgl/Jam
|
Diagnosa
|
NOC
|
NIC
|
TTD
|
1
|
Senin,
09 September2019
Jam
15.35 WIB
|
Resiko jatuh berhubungan dengan
Kelemahan pergerakan efek general anestesi
|
Setelah
dilakukan an tindakan 1x15 menit diharapkan :
·
Kejadian jatuh tidak ada
·
Klien dalam posisi aman dan
nyaman
|
1. Kunci
roda brangkar
2. Pasang
batas pengaman samping kanan dan kiri
3. Memposisikan
klien semi fowler
4. Edukasi
klien dan keluarga tentang general anestesi
|
BSCORN
|
D.
Implementasi
Keperawatan Post Operasi
No
|
Tanggal/Jam
|
Diagnosa Keperawatan
|
Tindakan Keperawatan
|
Respon dan Hasil
|
TTD
|
1
|
Senin,
10 Maret 2019
Jam
15.35 WIB
|
Resiko
jatuh berhubungan dengan Kelemahan pergerakan efek general anestesi
|
1. Mengkunci
roda brangkar
2. Memasang
batas pengaman samping kanan dan kiri
3. Memposisikan
klien semi fowler
4. Mengedukasi
klien dan keluarga tentang spinal anestesi
|
S
: -
O
: Roda brangkat terkunci
S
: -
O
: Batas pengaman samping kanan dan kiri terpasang dan terkunci.
S
: -
O
: Pasien terlihat nyaman.
S
: Keluarga mengatakan paham akan general anestesi
O
: Keluarga kooperatif saat diberi edukasi
|
BSCORN
|
E.
Evaluasi
Keperawatan Post Operasi
No
|
Hari/ Tanggal/Jam
|
Diagnosa
|
Catatan Keperawatan
|
TTD
|
1
|
Senin,
09September 2019
Jam
15.35 WIB
|
Resiko
jatuh berhubungan dengan Kelemahan pergerakan efek general anestesi
|
S
: -
O
:
-
Klien mampu berpindah dari satu permukaan dengan berbaring
-
Aldret score menjadi 8
-
Klien terpasang gelang kuning
A : Masalah teratasi
P : Hentikan intervensi
|
BSCORN
|
OPERASI
TYROIDECTOMY
No
|
Instrumen dan Sponge
|
Jumlah
|
||||
Pre
|
Intra
|
+
|
Post
|
|||
INSTRUMEN
|
||||||
1
|
Allis
klem panjang
|
1
|
1
|
-
|
1
|
|
2
|
Allis
klem pendek
|
1
|
1
|
-
|
1
|
|
3
|
Bowl
kecil
|
1
|
1
|
-
|
1
|
|
4
|
Bowl
sedang
|
1
|
1
|
-
|
1
|
|
5
|
Cirurgis
forcep adson
|
1
|
1
|
-
|
1
|
|
6
|
Cirurgis
forcep sedang
|
1
|
1
|
-
|
1
|
|
7
|
Darm
kas
|
2
|
2
|
-
|
2
|
|
8
|
Duk
klem (Towlklip)
|
6
|
6
|
-
|
6
|
|
9
|
Disceting
forcep sedang (pinset anatomis)
|
2
|
2
|
-
|
2
|
|
10
|
Dresing
scissors (Gunting benang)
|
2
|
2
|
-
|
2
|
|
11
|
Gunting
metzenbeum (lexer)
|
1
|
1
|
-
|
1
|
|
12
|
Hemoestatic
pean forcep panjang
|
4
|
4
|
-
|
4
|
|
13
|
Hemoestatic
pean pendek (Mosquito)
|
3
|
3
|
-
|
3
|
|
14
|
Jarum
cutting 28, 32, 36, 45
|
1/1/1/1
|
1/1/1/1
|
-
|
1/1/1/1
|
|
15
|
Jarum
tapper 36,45
|
1/1/1
|
1/1/1
|
-
|
1/1/1
|
|
16
|
Khoker
forceps(Kokher bengkok panjang kecil)
|
5
|
5
|
-
|
5
|
|
17
|
Langenbeck
|
2
|
2
|
-
|
2
|
|
18
|
Needle
holder pendek
|
1
|
1
|
-
|
1
|
|
19
|
Needle
holder panjang
|
1
|
1
|
-
|
1
|
|
20
|
Nearbekken
/ Kidney tray (bengkok)
|
1
|
1
|
-
|
1
|
|
21
|
Scapel
3
|
1
|
1
|
-
|
1
|
|
22
|
Scapel
4
|
1
|
1
|
-
|
1
|
|
23
|
Tempat
jarum
|
1
|
1
|
-
|
1
|
|
24
|
Ujung
suction 3 mm
|
1
|
1
|
-
|
1
|
|
25
|
Yoderm
|
1
|
1
|
-
|
1
|
|
Jumlah
|
48
|
48
|
-
|
48
|
||
Barang medis habis pakai
|
||||||
Handscoon Steril
no. 7,5/7/6,5
|
1/2/1
|
1/2/1
|
-
|
1/2/1
|
||
Kassa Steril
|
40
|
40
|
-
|
40
|
||
Steril water
|
500cc
|
250cc
|
-
|
0 cc
|
||
Povidon Iodine 15%
|
50 cc
|
50 cc
|
-
|
0 cc
|
||
Alkohol 70%
|
50 cc
|
50 cc
|
-
|
0 cc
|
||
Hipafix / Plester
|
5cm
|
5cm
|
-
|
5cm
|
||
Apron
|
4
|
4
|
-
|
4
|
||
Side/ Silk 2.0 ▲
|
1
|
1
|
-
|
1
|
||
PGA 3.0 ◉
|
1
|
1
|
-
|
1
|
||
Underpad
|
1
|
1
|
-
|
1
|
||
Towel
|
1
|
1
|
-
|
1
|
||
Bisturi no 15
|
1
|
1
|
-
|
1
|
||
Ground Pad
|
1
|
1
|
-
|
1
|
||
Vacum Woundrain no. 12
|
1
|
1
|
-
|
1
|
||
Tulle (Sufratul)
|
1
|
1
|
-
|
1
|
||
Set Yankeur Suction
|
1
|
1
|
-
|
1
|
||
PENGELOLAAN
PASIEN PERIOPERATIF
|
SERAH
TERIMA PASIEN
1. Pasien
dari ruang Baitul Izzah Idatang ke IBS
kemudian dilakukan serah terima pasien antara perawat ruangan dengan perawat
IBS di holding room.
2. Melakukan
transfer pasien dari brankart ruangan dengan menggunakan easy move ke brankart kamar bedah.
3. Mengganti baju pasien,
memakaikan topi operasi dan siderail
brankart IBS.
4. Melakukan
pengecekan pengisian ceklist yang berisi informed
concent (persetujuan operasi),
identitas pasien, kelengkapan serah terima pasien lainnya termasuk
obat-obatan yang dibawa.
5. Memeriksa
keadaan pasien di ruang pra induksi
meliputi tingkat kesadaran, tanda-tanda vital (TTV) dan mengkaji lamanya
puasa, riwayat penyakit tertentu, riwayat alergi, dan memberi tanda khusus
bila terjadi reaksi alergi obat-obat pre medikasi, setelah itu :
SIGN
IN
Perawat Sirkuler melakukan Sign In di ruangan pra induksi sebelum induksi
anastesi, dan dihadiri oleh dokter
anastesi, perawat bedah, dan perawat anastesi.
a. Apakah
pasien telah memberikan konfirmasi kebenaran identifikasi, lokasi operasinya,
prosedurnya dan telah memberikan persetujuan dalam lembar informed concern?(Sudah)
b. Apakah
lokasi operasi sudah diberi tanda/ marking? (sudah dimarking)
c. Apakah
mesin dan obat anastesi telah di cek dan lengkap? (sudah, lengkap)
d. Apakah
Pulse oximeter sudah terpasang dan berfungsi? (sudah)
Apakah Pasien
Memiliki
a. Riwayat
alergi yang diketahui? (tidak)
b. Resiko
kesulitan pada jalan nafas atau resiko aspirasi? (tidak ada)
c. Resiko
kehilangan darah >500 ml (35ml/Kg BB pada dewasa, 7ml/kgBB pada anak)? (Tidak ada)
PERSIAPAN TIM BEDAH,
ANESTESI DAN PENGELOLAAN PASIEN
1. Dokter
operator, asisten operator, perawat instrument menggunakan APD (Penutup
kepala, masker, kacamata, apron, sandal/ sepatu boot).
2. Operator melakukan proses marking
menggunakan surgical pen marker pada area yang akan di insisi ( area leher ).
3. Alasi
meja operasi dengan menggunakan duk bersih dan underpad kemudian pasien
dipindahkan ke meja operasi dari brankart secara aman dengan menggunakan easy
move.
4. Perawat
instrumen menyiapkan instrumen Set
onkologiyang akan digunakan untuk tindakan operasi SNNT.
5. Perawat
sirkuler memasang pulseoxymeter, bedside
monitor, sphigmomanometerdan
menempatkan infus pada standart infus, cek mesin suction dan pasang tabung
suction.
6.
Tim anastesi (dokter anastesi
dan penata anastesi) melakukan anastesi dengan jenis anastesi General Anastesi.
7.
Kemudian perawat sirkuler
mengatur posisi pasien supinasi.
SCRUBING
Dokter
operator, perawat instrumen, asisten operator melakukan cuci tangan
bedah.(air mengalir, chlorehexidine
4%, pembersih kuku, sponge, sikat). Dengan langkah-langkah:
a. Lepas
asesoris yang berada ditangan
b. Pakai
apron
c. Lipat
lengan baju 10 cm diatas siku.
d. Basahi
tangan dan lengan sampai 5cm diatas siku dibawah air mengalir.
e. Bersihkan
kuku dengan menggunakan pembersih kuku di bawah air mengalir dari arah dalam
keluar.
f. Tuang
cairan chlorhexidine 4%ke spon
secukupnya (5ml).
g. Basahi
spon dan remas-remas sampai berbusa, lumuri dan gosok seluruh permukaan
tangan sampai 5 cm di atas siku.
h. Sikat
kuku jari pada masing-masing tangan selama 1 menit (satu arah, dengan arah
menjauhi badan).
i. Buang
sikat dan bilas dengan air mengalir sampai bersih (spon tetap dipegang).
j. Dengan
meremas spon sampai berbusa, lumuri kembali tangan sampai 3/4 lengan (5 detik
untuk 2 tangan).
k. Gunakan
spon untuk membersihkan tangan kiri dan kanan (mulailah menggosok telapak
tangan selama 15 detik, punggung tangan 15 detik, kemudian seluruh jari 15
detik secara berurutan. Setiap jari digosok seolah mempunyai 4 sisi) lalu
buang spon kemudian bilas di bawah air mengalir sampai bersih.
l. Lumuri
kembali dan gosok telapak tangan sampai pergelangan tangan dengan chlorhexidine 4%, lakukan cuci tangan
prosedural 6 langkah.
m. Bilas
dengan air mengalir sampai bersih hingga 5 cm di atas siku.
n. Biarkan
air mengalir dari arah tangan sampai siku, jangan dikibas.
o. Pertahankan
posisi tangan agar telapak tangan sejajar dengan bahu.
GOWNING
dan GLOVING
8. Dokter
operator, perawat instrumen, asisten operator mengeringkan tangan dengan
handuk kecil kemudian memakai jas operasi dan hand glove steril
(jari-jari tidak boleh melewati manset jas operasi).
9. Perawat
instrumen menyiapkan meja mayo meliputi memasang sarung meja, perlak pengalas
dan menyiapkan instrumen di meja mayo.
INSTRUMENTASI
10. Scrubing
nurse/ instrumentator menyiapkan instrumen set onkologi
dan bahan habis pakai meliputi kassa steril 40, set yankeur, memasang bisturi
no 15 pada scaple no 3, benang Side/
Silk 2.0 (▲)cutting,
benang PGA 3/0 (●).
11. Scrubing
nurse mengalasi meja mayo dengan sarung meja steril dan set duk steril
diatasnya.
12. Menata/
menyusun instrumen dan bahan habis pakai sesuai dengan urutannya.
ASEPSIS
13. Perawat
instrumen memberikan kassa steril yang telah dijepit denganyodermdan bowl kecil yang
berisi povidon iodine 10% kepada operator untuk melakukan asepsis pada area
operasi (dengan cara
memutar dari dalam ke luar pada area yang akan di insisi).
DRAPPING
14. Perawat
instrumen memberikan duk steril, kepada asisten operator untuk melakukan drapping
a. Berikan
satu duk besar untuk menutupi area cudal (dari dada sampai kaki). Berikan
satu duk untuk bagian tubuh atas/ frontal pasien (kepala). Berikan dua duk
sedang untuk bagian samping kemudian fiksasi dengan menggunakan Doek klem.
Pasang set duk perlak diatas duk besar bagian caudal untuk mencegah tumpahan
darah, cairan tubuh pasien merembes/ tembus dan siapkan suction yankeur serta
difiksasi dengan Doek klem.
b. Pasang
dan fiksasi set hand piece couter dan Doek klem kecil yang bersebelahan dengan
selang suction.
TIME
OUT
15. Perawat Sirkuler memimpin Time
Out
a. Seluruh
anggota telah menyebutkan nama dan peran masing-masing
b. Konfirmasi
klien mengenai (identitas klien, diagnosa, prosedur operasi dan area insisi)
c. Antibiotik
profilaksis telah diberikan dalam 60 menit? (Tidak)
ANTISIPASI KEJADIAN
KRITIS :
§ Operator
1) Hal
kritis atau langkah tak terduga apakah yang mungkin diambil? (tidak ada)
2) Berapa
estimasi lama operasi? (1,5 Jam)
3) Antisipasi
kehilangan darah yang dipersiapkan? (tidak ada )
§ Tim Anastesi
1) Adakah
masalah spesifik yang timbul? (tidak ada)
2) Adakah
terdapat hal penting mengenai pasien yang perlu di perhatikan? (Airway dan
Hemodinamik)
§ Tim Keperawatan
3) Apakah
peralatan
sudah steril? (sesuai indikator)
4) Adakah
alat khusus harus diperhatikan? (tidak ada)
Dipersilahkan operator memimpin
Doa.
|
LANGKAH – LANGKAH
OPERASITYROIDECTOMY
|
||||||||||||||||||||||
No.
|
URAIAN
LANGKAH-LANGKAH OPERASI
|
INSTRUMENT, BHP DAN
SPONGE
|
||||||||||||||||||||
1
|
Perawat
instrumen memberikan needle holder dengan benang side/silk 2/0 ▲
untuk mencepitkan subkutis dengan duk steril untuk membantu menarik kulit
untuk mengeskpos area operasi agar massa thyroid lebih mudah diambil.
|
Needle
Holder (1)
Side 2/0 ▲
|
||||||||||||||||||||
2
|
Perawat
instrumen memberikan gunting benang (Delicate scissors)
|
Delicate scissors, (1)
|
||||||||||||||||||||
3
|
Perawat instrumen
memberikan kassa steril untuk membersihkan areaa yang akan diinsisi dan
pinset Chirurgis kepada operator untuk melakukan penjepitan area yang akan
diinsisi dan utuk mengecek apakah obat anestesi sudah bekerja. Perawat instrumen
memberikan Scalpel
no.3 dengan bisturi no.15 diatas Kidney Tray dan pinset Chirurgis kepada
operator untuk insisi area leher.
|
Tissue Forceps (Pinset sirurgis
Scalpel no 3 (1)
Bisturi no 15(1)
Kidney tray (1)
Kassa ( 2 )
|
||||||||||||||||||||
4
|
Perawat instrumen memberikan
kassa untuk mengontrol perdarahan atau dengan menggunakan suction dan couter
jika diperlukan.
|
Kassa ( 2 )
Hand piece couter (1)
|
||||||||||||||||||||
5
|
Perawat
instrumen memberikan 3 kocher untuk menjepit subkutis bagian atas insisi.
Asisten operator memegang kocher sambil mengangkat kocher untuk mengekspose
area operasi.
|
Kocher (3)
|
||||||||||||||||||||
6
|
Operator
memisahkan area subkutis menggunakan kocher (melakukan flap sampai batas yang
diinginkan) sambil asisten mengecek perdarahan. Setelah itu buka kocher
pindahkan ke area subkutis bagian bawah insisi.
|
Kocher
(3)
|
||||||||||||||||||||
7
|
Perawat
memberikan langen back dan couter yang digunakan untuk memotong fasia sampai
otot terlihat.
|
Langen
Back (1)
|
||||||||||||||||||||
8
|
Perawat
instrumen memberikan pinset anatomis dan klem kepada operator dan asisten
untuk membuka otot.
|
Pinset
anatomis (1)
Klem (1)
|
||||||||||||||||||||
9
|
Perawat
instrumen memberikan cauterdan hemostatic forcep untuk memisahkan jaringan
sampai massa terlihat, sambil cek perdarahan.
|
Hemostatic forcep (1)
Hand Piece Couter
|
||||||||||||||||||||
10
|
Setelah
massa terlihat berikan Ellis klem kepada operator untuk menjepitkan massa
thyroid.
|
Allis
klem (1)
|
||||||||||||||||||||
11
|
Setelah
thyroid ditelusur dengan klem untuk memisahkan lapis demi lapis sampai bawah
dengan menggunakan cauter sampai massa thyroid terbebas, setelah itu gunakan
klem bagian bawah untuk menjepit thyroid, dan pisahkan dengan Couter,
kontrol perdarahan.
|
Hemostatic forceps, Pean (Klem
bengkok kecil) (1)
Hand Piece Couter
|
||||||||||||||||||||
12
|
Setelah
massa thyroid terpotong bersihkan dengan Steril waterkemudian keringkan
dengan suction dan kassa sterile. Dan letakkan massa thyroid pada pot tempat
specimen yang berisi carian formalin.
|
Steril
water
Suction
Kassa
steril ( 2 )
Pot
tempat specimen
|
||||||||||||||||||||
13
|
Perawat
instrumen memberikan gunting benang kepada operator untuk menggunting benang
yang mengkaitkan kulit dengan duk.
|
Gunting
benang
|
||||||||||||||||||||
14
|
Pasang
wound drain no.12 dibagian bawah insisi. Kulit dari dalam ditekan dengan klem
dan ujung kulit dipotong tipis dengan bisturi no 15. Fiksasi selang dengan
benang silk 2/0 ▲
|
Vacum Woundrain no.12
Hemostatic forceps, Pean (Klem
bengkok kecil) (1)
Bisturi
no.15
Silk
2/0 ▲
|
||||||||||||||||||||
15
|
Perawat
instrumen memberikan gunting benang kepada operator untuk menggunting benang yang
mengkaitkan kulit dengan duk.
|
Gunting
benang (1)
|
||||||||||||||||||||
16
|
Perawat
instrumen memberikan 2 klem untuk menjepit fasia (kanan dan kiri)
|
Hemostatic forceps Pean (1)
|
||||||||||||||||||||
17
|
SIGN OUT
Lakukan
penghitungan instrumen yang digunakan :
Cairan di tabung
suction (darah) ±200 dan 30 kasa basah dengan darah.
-
Labelinga spesimen tyroid (minimal terdapat asal
jaringan,nama pasien, no.RM,anggal lahir)? Ada
-
Apakah ada permasalahan peralatan yang perlu
disikapi?tidak ada
-
Kepada operator, dokter anestesi dan tim keperawatan,
apakah terdapat pesan khusus untuk pemulihan pasien? Tidak ada
|
|||||||||||||||||||||
18
|
Setelah
alat, darm doek dan kasa sudah lengkap perawat instrumen memberikan needle
holder dan benang PGA 3/0 ● kepada operator untuk menjahit fasia dan lemak,
dan memberikan gunting benang untuk menggunting benang.
|
Needle
holder (1)
PGA
3/0 ●
Gunting
benang(1)
|
||||||||||||||||||||
19
|
Perawat
instrumen memberikan benang PGA 3/0● untuk menjahit kulit dan memberikan
gunting benang untuk menggunting benang.
|
Needle
holder (1)
PGA
3/0 ●
Gunting
benang (1)
|
||||||||||||||||||||
20
|
Bersihan
area insisi dengan steril water lalu keringkan dengan kassa kering.
|
steril
water
Kassa
( 2 )
|
||||||||||||||||||||
21
|
Kemudian
oleskan povidon iodine dan tutup luka dengan menggunakan kassa kering serta hepafix.
|
Povidone
iodine
Kassa
( 2 )
Hepafix
/ Plester
|
||||||||||||||||||||
22
|
Jika
semua instrument dan bahan habis pakai dinyatakan sudah lengkap dan
dipastikan tidak ada yangtertinggal maka setelah itu rapikan pasien dan semua
peralatan. Perawat dan dokter operator melepasjas operasi dan handsoon
steril.
|
Bak
linen kotor
Sampah
infeksius warna kuning
|
||||||||||||||||||||
23
|
Jika
pasien sudah rapi koordinasi dengan tim anestesi untuk melakukan pengecekan
kesadaran pasien dan melakukan ekstubasi setelah itu pindahkan pasien ke
brankart untuk dipindahkan ke RR (Recovery Room).
|
|||||||||||||||||||||
24
|
Sesampainya
di RR klien dipasang BSM (Bedside Monitor) dan oksigen 2 lt/ mnt dengan Nasal
Cannule.
|
|||||||||||||||||||||
25
|
Monitor
kesadaran dan ttv klien.
|
|||||||||||||||||||||
26
|
Setelah
itu melakukan penilaian kondisi pasien selesai operasi menggunakan Adrete
Scoredan pasien bisa dipindah ke bangsal jika score minimal ≥ 8
|
|||||||||||||||||||||
27
|
Nursing
Handover antara perawat RR dengan perawat ruangan.
|
|||||||||||||||||||||
Komentar
Posting Komentar