Langsung ke konten utama

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN TINDAKAN SNNT


BAB I
PENDAHULUAN
    A.     Latar Belakang
Strauma adalah pembesaran pada kelenjar tiroid  yang biasanya terjadi karena folikel folikel terisi koloid secara berlebihan. Setelah bertahun-tahun folikel tumbuh semakin membesar dengan membentuk kista dan kelenjar tersebut menjadi noduler (Smeltzer & Suzanne, 2013).
Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hypertiroidisme (Hartini, 2010). Struma non toksik disebabkan oleh kekurangan yodium yang kronik. Struma ini disebut sebagai simple goiter, struma endemik, atau goiter koloid yang sering ditemukan di daerah yang air minumya kurang sekali mengandung yodium dan goitrogen  yang menghambat sintesa hormon oleh zat kimia.Sekitar 10 juta orang di seluruh dunia mengalami gangguan tiroid, baik kanker tiroid, struma nodosa non toxic, maupun struma nodosa toxic (American Thyroid Association, 2013).
Hasil pemeriksaan TSH pada Riskesdas 2007 mendapatkan 12,8% laki-laki dan 14,7% perempuan memiliki kadar TSH rendah yang menunjukkan kecurigaan aradanya hipertiroid. Namun menurut hasil Riskesdas 2013, hanya terdapat 0,4% penduduk indonesia yang berusia 15 tahun atau lebih yang berdasarkan wawancara mengakui terdiagnosis hipertiroid. Meskipun secara presentase kecil, namun secara kuantitas cukup besar. Jika pada tahun 2013 jumlah penduduk usia ≥15 tahun sebanyak 176.689.336 jiwa, maka terdapat lebih dari 700.000 orang terdiagnosis hipertiroid, dengan rincian masing-masing provinsi. Dan didapatkan hasil pemeriksaan dijawa tengah 0,5% penduduk indonesia yang berusia  ≥15 tahun sebanyak 24.089.433 jiwa, maka terdapat lebih dari 120.447 orang terdiagnosis hipertiroid.
Nodul tiroid yang ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda insidennya hanya sekitar 1,5% dan sering ditemukan dengan sifat ganas sekitar 26%. Prevalensi nodul tiroid di Indonesia tahun 2007 sebesar 14.7 %. Dari hasil data rekaman laporan operasi di Instalasi Bedah Sentral RSI Sultan Agung Semarang didapatkan data bahwa tahun 2019 periode Juni – Agustus terdapat 53 kasus dengan diagnosa struma nodusa non toksik (SNNT) dan dilakukan tindakan tiroidectomy sebanyak 22 dengan presentase kasus 41.5%.
Faktor- faktor yang dapat menyebabkan SNNT (Struma Nodusa Non Toksit) bermacam-macam. Pada setiap orang dapat dijumpai masa dimana kebutuhan terhadap tiroksin bertambah, pubertas, menstruasi, kehamilan, laktasi, menapouse, infeksi atau stress. Pada masa-masa tersebut dapat ditemui hiperplasi dan infolusi kelenjar tyroid. Perubahan ini dapat menimbulkan nodularitas kelenjar tiroid serta kelainan arsitektur yang dapat berlanjut dengan berkurangnya aliran darah di daerah tersebut sehingga terjadi iskemia (Utami, 2013).
Penatalaksanaan dari SNNT (Struma Nodusa Non Toksit) yaitu dengan penatalaksanaan konservatif dan Penatalaksanaan operatif. Penatalaksanaan konservatif dilakukan dengan pemberian tiroksin dan obat anti-tiroid dan terapi yodium radioaktif. Sedangkan penatalaksanaan operatif yaitu dengan tindakan pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat kelenjar tiroid adalah tiroidektomi, meliputi subtotal ataupun total. Tiroidektomi subtotal akan menyisakan jaringan atau pengangkatan 5/6 kelenjar tiroid, sedangkan tiroidektomi total, yaitu pengangkatan jaringan seluruh lobus termasuk istmus (Sudoyo, A., dkk., 2009). Berdasarkan uraian yang telah penulis jabarkan diatas, maka penulis tertarik untuk mengangkat laporan kasus dengan judul “Asuhan Keperawatan Perioperatif Pada Ny. E Dengan Diagnosa SNNT (Struma Nodusa Non Toxic) yang dilakukan tindakan Thyroidectomy di Instalasi Bedah Sentral RSI Sultan Agung  Semarang”.

    B.      Tujuan penulisan
1.        Tujuan Umum
Melaksanakan asuhan keperawatan perioperatif padapasien SNNT (Struma Nodusa Non Toxic) di RSI Sultan Agung Semarang.
2.      Tujuan Khusus
a.      Menguraikan konsep dasar teori penyakit SNNT dan asuhan keperawatan perioperatif.
b.      Melakukan pengkajian asuhan keperawatan perioperatif dengan SNNT di RSI Sultan Agung Semarang
c.       Merumuskan diagnosa keperawatan perioperatif dengan SNNT di RSI Sultan Agung Semarang
d.      Merencanakan tindakan keperawatan perioperatif dengan SNNT di RSI Sultan Agung Semarang
e.      Melakukan impelementasi keperawatan perioperatif dengan SNNT di RSI Sultan Agung Semarang
f.        Melakukan evaluasi keperawatan perioperatif SNNT di RSI Sultan Agung Semarang

    C.      Manfaat Penulisan
1.      Manfaat Teoritis
Sebagai wacana atau informasi dan pengetahuan bagi masyarakat maupun bagi tenaga kesehatan lain mengenai pengelolaan asuhan keperawatan perioperatif dengan SNNT.
2.      Manfaat Praktis
a.      Bagi Ilmu Keperawatan
Hasil laporan kasus ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis bagi perawat dalam pengelolaan kasus keperawatan perioperatif dengan SNNT yang dilakukan tindakan Tiroidektomy.

b.      Bagi Perawat Perioperatif
Dapat menambah pengetahuan, penatalaksanaan pasien SNNT yang dilakukan tindakan Tiroidektomy pada fase pre, intra, dan post operasi. Sedangkan untuk perawat rawat inap berfokus pada fase pre dan post operasi.
c.       Bagi Klien
Agar klien mendapatkan pelayanan asuhan keperawatan perioperatif Tiroidektomy yang holistic dan terintegrasi.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A.     Definisi
Struma nodosa non toxic adalah pembesaran kelenjar tiroid baik berbentuk nodul atau difusa tanpa ada tanda-tanda hipertiroidisme dan bukan disebabkan oleh autoimun atau proses inflamasi (Hermus& Huysmans, 2010).
Pembesaran pada tiroid yang disebabkan akibat adanya nodul, disebut struma nodosa (Tonacchera, Pinchera & Vitty, 2009).
Struma nodosa non toxic adalah pembesaran kelenjar tyroid akibat kekurangan iodium yang kronik (Solymosi, 2012)
Struma nodosa non toxic adalah pembesaran kelenjar tiroid yang secara klinik terba nodul satu atau lebih tanpa di sertai tanda-tanda hypertiroidisme (Hartini, 2013).
Jadi dapat disimpulkan struma nodosa non toxic adalah pembesaran kelenjar tiroid  yang secara klinis teraba nodul satau atau lebih tanpa di sertai tanda-tanda hypertiroidisme, yang diakibatkan oleh kekurangan iodium yang kronik. Menurut penelitian Framingham, setiap orang berisiko 5-10% untuk menderita struma nodosa dan perempuan berisiko 4 kali lipat dibandingkan laki-laki (Incidence and Prevalence Data, 2012). Kebutuhan hormon tiroid meningkat pada masa pertumbuhan, masa kehamilan dan masa menyusui.
Struma nodosa terdapat dua jenis, toxic dan non toxic. Struma nodosa toxic dimana keadaan kelenjar tiroid mengandung nodul tiroid yang mempunyai fungsi yang otonomik, yang menghasilkan suatu keadaan hipertiroid. Dampak struma nodosa terhadap tubuh dapat mempengaruhi kedudukan organ-organ disekitarnya. Di bagian posterior medial kelenjar tiroid terdapat trakea dan esophagus. Struma nodosa dapat mengarah ke dalam sehingga mendorong trakea, esophagus dan pita suara sehingga menjadi kesulitan bernafas dan disfagia ( Rehman, dkk 2006). Hal tersebut akan berdampak terhadap gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi serta cairan dan elektrolit.

B.      Anatomi
Kelenjar tiroid tumbuh dari invaginasi dasar faring yang terjadi pada minggu keempat kehamilan. Primordial kelenjar tiroid berimigrasi kearah kaudal dan bergabung dengan sebagian dari kantong faring keempat. Bentuk ini disebut badan ultimobrankial atau badan posbrankial.





Kelenjar tiroid tumbuh dari kantong faring ketiga dan keempat .Karena hubungan embrio  logikini, kelenjar – kelenjar paratiroid sangat erat berhubungan dengan tiroid dalam hal ini perlu diperhitungkan dalam bedah tiroid.
Kelenjar tiroid terletak di depan dan di sisi leher, berhadapan dengan vertebra servikalis bawah dan torakal  pertama. Kelenjar ini terdiri dari dua lobus, satu lobus terdiri pada  setiap kelenjar  dihubungkan dengan bagian sempit yang disebut ismus,yang menyilang  tepat di depan trakea di bawah laring.  Kelenjar ini dibentuk dari sejumlah folikel  tertutup yang mengandung materi kuning semi cair yang disebut kolota.
Sel-selnya menghasilkan dua hormon yang disebut tiroksin dan triiodotironim( T4dan T3) yang dapat dilepas secara langsung kedalam aliran  darah, bila hormone ini diperlukan atau dapat berkaitan substansi protein, tirogobulin dan  disimpan dalam koloid tersebut.




C.      Prevalensi penyakit
Sekitar 10 juta orang di seluruh dunia mengalami gangguan tiroid, baik kanker tiroid, struma nodosa non toxic, maupun struma nodosa toxic (American Thyroid Association, 2013).
Hasil pemeriksaan TSH pada Riskesdas 2007 mendapatkan 12,8% laki-laki dan 14,7% perempuan memiliki kadar TSH rendah yang menunjukkan kecurigaan aradanya hipertiroid. Namun menurut hasil Riskesdas 2013, hanya terdapat 0,4% penduduk indonesia yang berusia 15 tahun atau lebih yang berdasarkan wawancara mengakui terdiagnosis hipertiroid. Meskipun secara presentase kecil, namun secara kuantitas cukup besar. Jika pada tahun 2013 jumlah penduduk usia ≥15 tahun sebanyak 176.689.336 jiwa, maka terdapat lebih dari 700.000 orang terdiagnosis hipertiroid, dengan rincian masing-masing provinsi. Dan didapatkan hasil pemeriksaan dijawa tengah 0,5% penduduk indonesia yang berusia  ≥15 tahun sebanyak 24.089.433 jiwa, maka terdapat lebih dari 120.447 orang terdiagnosis hipertiroid. Nodul tiroid yang ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda insidennya hanya sekitar 1,5% dan sering ditemukan dengan sifat ganas sekitar 26%. Prevalensi nodul tiroid di Indonesia tahun 2007 sebesar 14.7%. Dari hasil data rekaman laporan operasi di Instalasi Bedah Sentral RSI Sultan Agung Semarang didapatkan data bahwa tahun 2019 periode Juni – Agustus terdapat 53 kasus dengan diagnosa struma nodusa non toksik (SNNT) dan dilakukan tindakan tiroidectomy sebanyak 22 dengan presentase kasus 41.5%.

D.     Etiologi
Penyebab utama struma nodosa ialah karena kekurangan yodium (Black and Hawks, 2009). Defisiensi yodium dapat menghambat pembentukan hormon tiroid oleh kelenjar. Hal tersebut memungkinkan hipofisis mensekresikan TSH dalam jumlah yang berlebihan. TSH kemudian menyebabkan sel-sel tiroid mensekresikan tiroglobulin dalam jumlah yang besar ke dalam folikel, dan kelenjar menjadi bertambah besar.
Penyebab lainnya karena adanya cacat genetik yang merusak metabolisme yodium, konsumsi goitrogen yang tinggi (yang terdapat pada obat, agen lingkungan, makanan, sayuran), kerusakan hormon kelenjar tiroid, gangguan hormonal dan riwayat radiasi pada kepala dan leher (Rehman dkk, 2006 dalam Cahyani, 2013). Hal yang mendasari pertumbuhan nodul pada struma nodosa non toxic adalah respon dari sel-sel folikular tiroid yang heterogen dalam satu kelenjar tiroid pada tiap individu. Dalam satu kelenjar tiroid yang normal, sensitivitas sel-sel dalam folikel yang sama terhadap stimulus TSH dan faktor perumbuhan lain (IGF dan EGF) sangat bervariasi. Terdapat sel-sel autonom yang dapat bereplikasi tanpa stimulasi TSH dan sel-sel sangat sensitif TSH yang lebih cepat bereplikasi. Sel- sel akan bereplikasi menghasilkan sel dengan sifat yang sama. Sel-sel folikel dengan daya replikasi yang tinggi ini tidak tersebar merata dalam satu kelenjar tiroid sehingga akan tumbuh nodul-nodul.

E.      Klasifikasi
1.      Struma nodosa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal yaitu (Roy,2011):
a.    Berdasarkan jumlah nodul : bila jumlah nodul hanya satu disebut struma nodosa soliter (uninodosa) dan bila lebih dari satu disebut struma multinodosa.
b.    Berdasarkan kemampuan menyerap yodium radioaktif, ada 3 bentuk nodul tiroid yaitu nodul dingin, hangat, dan panas. Nodul dingin bila penangkapan yodium tidak ada atau kurang dibandingkan dengan bagian tiroid sekitarnya. Hal ini menunjukkan aktivitas yang rendah. Nodul hangat apabila penangkapan yodium sama dengan sekitarnya. Ini berati fungsi nodul sama dengan bagian tiroid lainnya. Dan nodul panas bila penangkapan yodium lebih banyak dari sekitarnya. Keadaan ini memperlihatkan aktivitas yang berlebih.
c.    Berdasarkan konsistensinya lunak, kistik, keras dan sangat keras.
Struma nodosa memiliki beberapa stadium, yaitu ( Lewinski, 2002) :
a.    Derajat 0      : tidak teraba pada pemeriksaan.
b.    Derajat I       : teraba pada pemeriksaan, terlihat jika kepala ditegakkan.
c.    Derajat II      : mudah terlihat pada posisi kepala normal.
d.    Derajat III     : terlihat pada jarak jauh.
2.      Berdasarkan fisiologisnya
Berdasakan fisiologisnya struma dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a.      Eutiroidisme
Eutiroidisme adalah suatu keadaan hipertrofi pada kelenjar tiroid yang disebabkan stimulasi kelenjar tiroid yang berada di bawah normal sedangkan kelenjar hipofisis menghasilkan TSH dalam jumlah yang meningkat. Goiter atau struma semacam ini biasanya tidak menimbulkan gejala kecuali pembesaran pada leher yang jika terjadi secara berlebihan dapat mengakibatkan kompresi trakea.
b.      Hipotiroidisme
Hipotiroidisme adalah kelainan struktural atau fungsional kelenjar tiroid sehingga sintesis dari hormon tiroid menjadi berkurang. Kegagalan dari kelenjar untuk mempertahankan kadar plasma yang cukup dari hormon. Beberapa pasien hipotiroidisme mempunyai kelenjar yang mengalami atrofi atau tidak mempunyai kelenjar tiroid akibat pembedahan/ablasi radioisotop atau akibat destruksi oleh antibodi autoimun yang beredar dalam sirkulasi. Gejala hipotiroidisme adalah penambahan berat badan, sensitif terhadap udara dingin, dementia, sulit berkonsentrasi, gerakan lamban, konstipasi, kulit kasar, rambut rontok, mensturasi berlebihan, pendengaran terganggu dan penurunan kemampuan bicara.
c.       Hipertiroidisme
Hipertiroidisme dikenal juga sebagai tirotoksikosis atau Graves yang dapat didefenisikan sebagai respon jaringan-jaringan tubuh terhadap pengaruh metabolik hormon tiroid yang berlebihan.






Keadaan ini dapat timbul spontan atau adanya sejenis antibodi dalam darah yang merangsang kelenjar tiroid, sehingga tidak hanya produksi hormon yang berlebihan tetapi ukuran kelenjar tiroid menjadi besar. Gejala hipertiroidisme berupa berat badan menurun, nafsu makan meningkat, keringat berlebihan, kelelahan, leboh suka udara dingin, sesak napas. Selain itu juga terdapat gejala jantung berdebar-debar, tremor pada tungkai bagian atas, mata melotot (eksoftalamus), diare, haid tidak teratur, rambut rontok, dan atrofi otot
3.      Berdasarkan klinisnya
Secara klinis pemeriksaan klinis struma toksik dapat dibedakan menjadi sebagai berikut :
a.      Struma Toksik, Struma toksik dapat dibedakan atas dua yaitu struma diffusa toksik dan struma nodusa toksik. Istilah diffusa dan nodusa lebih mengarah kepada perubahan bentuk anatomi dimana struma diffusa toksik akan menyebar luas ke jaringan lain. Jika tidak diberikan tindakan medis sementara nodusa akan memperlihatkan benjolan yang secara klinik teraba satu atau lebih benjolan (struma multinoduler toksik). Struma diffusa toksik (tiroktosikosis) merupakan hipermetabolisme karena jaringan tubuh dipengaruhi oleh hormon tiroid yang berlebihan dalam darah. Penyebab tersering adalah penyakit Grave (gondok eksoftalmik/exophtalmic goiter), bentuk tiroktosikosis yang paling banyak ditemukan diantara hipertiroidisme lainnya. penyakitnya tidak disadari oleh pasien meskipun telah diiidap selama berbulan-bulan. Antibodi yang berbentuk reseptor TSH beredar dalam sirkulasi darah, mengaktifkan reseptor tersebut dan menyebabkan kelenjar tiroid hiperaktif. Meningkatnya kadar hormon tiroid cenderung menyebabkan peningkatan pembentukan antibodi sedangkan turunnya konsentrasi hormon tersebut sebagai hasilpengobatan penyakit ini cenderung untuk menurunkan antibodi tetapi buka  mencegah pembentukyna. Apabila gejala gejala hipertiroidisme bertambah ber at dan mengancam jiwa penderita maka akan terjadi krisis tirotoksik. Gejala klinik adanya rasa khawatir yang berat, mual, muntah, kulit dingin, pucat, sulit berbicara dan menelan, koma dan dapat meninggal.
b.      Struma Non Toksik Struma non toksik sama halnya dengan struma toksik yang dibagi menjadi struma diffusa non toksik dan struma nodusa non toksik. Struma non toksik disebabkan oleh kekurangan yodium yang kronik. Struma ini disebut sebagai simple goiter, struma endemik, atau goiter koloid yang sering ditemukan di daerah yang air minumya kurang sekali mengandung yodium dan goitrogen yang menghambat sintesa hormon oleh zat kimia. Apabila dalam pemeriksaan kelenjar tiroid teraba suatu nodul, maka pembesaran ini disebut struma nodusa. Struma nodusa tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme dan hipotiroidisme disebut struma nodusa non toksik. Biasanya tiroid sudah mulai membesar pada usia muda dan berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa. Kebanyakan penderita tidak mengalami keluhan karena tidak ada hipotiroidisme atau hipertiroidisme, penderita datang berobat karena keluhan kosmetik atau ketakutan akan keganasan. Namun sebagian pasien mengeluh adanya gejala mekanis yaitu penekanan pada esofagus (disfagia) atau trakea (sesak napas), biasanya tidak disertai rasa nyeri kecuali bila timbul perdarahan di dalam nodul. Struma non toksik disebut juga dengan gondok endemik, berat ringannya endemisitas dinilai dari prevalensi dan ekskresi yodium urin. Dalam keadaan seimbang maka yodium yang masuk ke dalam tubuh hampir sama dengan yang diekskresi lewat urin. Kriteria daerah endemis gondok yang dipakai Depkes RI adalah endemis ringan prevalensi gondok di atas 10 %-< 20 %, endemik sedang 20 % - 29 % dan endemik berat di atas 30 %. (Rismadi, 2013).

F.       Manifestasi Klinis
Beberapa penderita struma nodosa non toxic tidak memiliki gejala sama sekali. Jika struma cukup besar, akan menekan area trakea yang dapat mengakibatkan gangguan pada respirasi dan juga esofhagus tertekan sehingga terjadi gangguan menelan. Peningkatan seperti ini jantung menjadi berdebar-debar, gelisah, berkeringat, tidak tahan cuaca dingin, dan kelelahan. Beberapa diantaranya mengeluh adanya gangguan menelan, gangguan pernapasan, rasa tidak nyaman di area leher, dan suara yang serak. Pemeriksaan fisik struma nodosa non toxic berfokus pada inspeksi dan palpasi leher untuk menentukan ukuran dan bentuk nodular. Inspeksi dilakukan oleh pemeriksa yang berada di depan penderita yang berada pada posisi duduk dengan kepala sedikit fleksi atau leher sedikit terbuka. Jika terdapat pembengkakan atau nodul, perlu diperhatikan beberapa komponen yaitu lokasi, ukuran, jumlah nodul, bentuk (diffus atau noduler kecil), gerakan pada saat pasien diminta untuk menelan dan pulpasi pada permukaan pembengkakan. Pemeriksaan dengan metode palpasi dimana pasien diminta untuk duduk, leher dalam posisi fleksi. Pemeriksa berdiri di belakang pasien dan meraba tiroid dengan menggunakan ibu jari kedua tangan pada tengkuk penderita. Struma nodosa tidak termasuk kanker tiroid, tapi tujuan utama dari evaluasi klinis adalah untuk meminimalkan risiko terhadap kanker tiroid (Cahyani, 2013).


G.     Patofisiologi
Yodium merupakan bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan hormon tiroid. Bahan yang mengandung yodium diserap usus, masuk kedalam sirkulasi darah dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar tiroid. Dalam kelenjar, yodium dioksida menjadi bentuk yang aktif yang distimulasikan oleh Tiroid Stimulating Hormon (TSH) kemudian disatukan menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid. Senyawa yang terbentuk dalam molekul diyodotironin membentuk tiroksin (T4) dan molekul triiodotironin (T3).
Tiroksin (T4) menunjukan pengaturan umpan balik negatif dari seksesi TSH dan bekerja langsung pada tirotropihypofisis, sedangkan T3 merupakan hormon metabolik yang tidak aktif. Akibat kekurangan yodium maka tidak terjadi peningkatan pembentukan T4 dan T3, ukuran folikel menjadi lebih besar dan kelenjar tiroid dapat bertambah berat sekitar 300-500 gram. Beberapa obat dan keadaan dapat mempengaruhi sintesis, pelepasan dan metabolisme tiroid sekaligus menghambat sintesis tiroksin (T4) dan melalui rangsangan umpan balik negatif meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hipofisis. Keadaan ini menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid. Biasanya tiroid mulai membesar pada usia muda dan berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa. Karena pertumbuhannya berangsur- angsur, struma dapat menjadi besar tanpa gejala kecuali benjolan di leher. Sebagian besar penderita dengan struma nodosa dapat hidup dengan strumanya tanpa keluhan. Walaupun sebagian struma nodosa tidak mengganggu pernafasan karena menonjol kebagian depan, sebagian lain dapat menyebabkan penyempitan trakea bila pembesarannya bilateral (Cahyani, 2013).








H.     Pathway Keperawatan



I.        Komplikasi
1.      Perdarahan
2.      Masalah terbukanya vena besar dan menyebabkan embolisme udara
3.      Tauma pada nervus laryngrus recurrens
4.      Memaksa sekresi glandula ini dalam jumlah abnormal kedalam sirkulasi dengan tekanan
5.      Sepsis yang meluas ke mediastinum
6.      Hipotyroiseme pasca bedah akibat terangkatnya kelenjar paratiroid
7.      Trakeumalasia (melunaknya trakea).

J.        Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan penunjang untuk struma nodosa antara lain (Tonacchera, dkk, 2009):
1.      Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan tes fungsi hormon : T4 atau T3, dan TSH.
2.      Pemeriksaan radiologi.
Foto rontgen dapat memperjelas adanya deviasi trakea, atau pembesaran struma yang pada umumnya secara klinis sudah bias diduga, foto rontgen pada leher lateral diperlukan untuk evaluasi kondisi jalan nafas.
4.      Pemeriksaan ultrasonografi (USG). Manfaat USG dalam pemeriksaan tiroid
a.      Untuk menentukan jumlah nodul
b.      Dapat membedakan antara lesi tiroid padat dan kistik
c.       Dapat mengukur volume dari nodul tiroid
d.      Dapat mendeteksi adanya jaringan kanker tiroid residif yang tidak menangkap yodium, dan tidak terlihat dengan sidik tiroid
e.      Untuk mengetahui lokasi dengan tepat benjolan tiroid yang akan dilakukan biopsi terarah
f.        Pemeriksaan sidik tiroid. Hasil pemeriksaan dengan radioisotop adalah tentang ukuran, bentuk, lokasi dan yang utama adalah fungsi bagian-bagian tiroid.
5.      Biopsi aspirasi jarum halus (Fine Needle Aspiration Biopsy). Biopsi ini dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan.

K.     Penatalaksanaan Medis
1.      Penatalaksanaan konservatif
a.      Pemberian Tiroksin dan obat Anti-Tiroid.
Tiroksin digunakan untuk menyusutkan ukuran struma, selama ini diyakini bahwa pertumbuhan sel kanker tiroid dipengaruhi hormon TSH. Oleh karena itu untuk menekan TSH serendah mungkin diberikan hormon tiroksin (T4) ini juga diberikan untuk mengatasi hipotiroidisme yang terjadi sesudah operasi pengangkatan kelenjar tiroid. Obat anti-tiroid (tionamid) yang digunakan saat ini adalah propiltiourasil (PTU) dan metimasol/karbimasol.
b.      Terapi Yodium Radioaktif
Yodium radioaktif memberikan radiasi dengan dosis yang tinggi pada kelenjar tiroid sehingga menghasilkan ablasi jaringan. Pasien yang tidak mau dioperasi maka pemberian yodium radioaktif dapat mengurangi gondok sekitar 50 %. Yodium radioaktif tersebut berkumpul dalam kelenjar tiroid sehingga memperkecil penyinaran terhadap jaringan tubuh lainnya. Terapi ini tidak meningkatkan resiko kanker, leukimia, atau kelainan genetik. Yodium radioaktif diberikan dalam bentuk kapsul atau cairan yang harus diminum di rumah sakit, obat ini ini biasanya diberikan empat minggu setelah operasi, sebelum pemberian obat tiroksin.
2.      Penatalaksanaan operatif
a.      Tiroidektomi
Tindakan pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat kelenjar tiroid adalah tiroidektomi, meliputi subtotal ataupun total. Tiroidektomi subtotal akan menyisakan jaringan atau pengangkatan 5/6 kelenjar tiroid, sedangkan tiroidektomi total, yaitu pengangkatan jaringan seluruh lobus termasuk istmus (Sudoyo, A., dkk., 2009). Tiroidektomi merupakan prosedur bedah yang relative aman dengan morbiditas kurang dari 5 %. Menurut Lang (2010), terdapat 6 jenis tiroidektomi, yaitu :
1)      Lobektomi tiroid parsial, yaitu pengangkatan bagian atas atau bawah satu lobus
2)      Lobektomi tiroid, yaitu pengangkatan seluruh lobus Lobektomi tiroid dengan isthmusectomy, yaitu pengangkatan satu lobus dan istmus
3)      Subtotal tiroidektomi, yaitu pengangkatan satu lobus, istmus dan sebagian besar lobus lainnya.
4)      Total tiroidektomi, yaitu pengangkatan seluruh kelenjar.
5)      Tiroidektomi total radikal, yaitu pengangkatan seluruh kelenjar dan kelenjar limfatik servikal.
Setiap pembedahan dapat menimbulkan komplikasi, termasuk tiroidektomi. Komplikasi pasca operasi utama yang berhubungan dengan cedera berulang pada saraf laring superior dan kelenjar paratiroid. Devaskularisasi, trauma, dan eksisi sengaja dari satu atau lebih kelenjar paratiroid dapat menyebabkan hipoparatiroidisme dan hipokalsemia, yang dapat bersifat sementara atau permanen. Pemeriksaan yang teliti tentang anatomi dan suplai darah ke kelenjar paratiroid yang adekuat sangat penting untuk menghindari komplikasi ini. Namun, prosedur ini umumnya dapat ditoleransi dengan baik dan dapat dilakukan dengan cacat minimal (Bliss et al, 2000). Komplikasi lain yang dapat timbul pasca tiroidektomi adalah perdarahan, thyrotoxic strom, edema pada laring, pneumothoraks, hipokalsemia, hematoma, kelumpuhan syaraf laringeus reccurens, dan hipotiroidisme (Grace & Borley, 2007). Tindakan tiroidektomi dapat menyebabkan keadaan hipotiroidisme, yaitu suatu keadaan terjadinya kegagalan kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon dalam jumlah adekuat, keadaan ini ditandai dengan adanya lesu, cepat lelah, kulit kering dan kasar, produksi keringat berkurang, serta kulit terlihat pucat. Tanda-tanda yang harus diobservasi pasca tiroidektomi adalah hipokalsemia yang ditandai dengan adanya rasa kebas, kesemutan pada bibir, jari-jari tangan dan kaki, dan kedutan otot pada area wajah (Urbano, FL, 2000). Keadaan hipolakalsemia menunjukkan perlunya penggantian kalsium dalam tubuh. Komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah kelumpuhan nervus laringeus reccurens yang menyebabkan suara serak. Jika dilakukan tiroidektomi total, pasien perlu diberikan informasi mengenai obat pengganti hormon tiroid, seperti natrium levotiroksin (Synthroid), natrium liotironin (Cytomel) dan obat-obatan ini harus diminum selamanya (Cahyani, 2013).

L.       Diagnosa dan intervensi
Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul dari masalah yang ditemukan dalam pengkajian sebagai berikut:
1.    Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penekanan trakea
Intervensi:
a.    Monitor status oksigen pasien
b.    Berikan oksigen apabila pasien respiratory rate pasien meningkat
c.    Monitor respirasi dan status O2 
d.    Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
2.    Nyeri berhubungan dengan pembesaran kelenjar tiroid (proses penyakit)
Intervensi:
a.         Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, surasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitas.
b.         Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
c.         Posisikan pasien untuk memfalisitasi kenyamanan ( misalnya gunakan prinsip – prinsip keselarasan tubuh ; imobilisasi tubuh dengan ganjel dengan bantal )
d.         Instruksikan klien menggunakan tehnik relaksasi nafas dalam                       (menarik nafas dalam dari hidung dan mengisi paru – paru dengan udara hingga hitungan ke 3, dan hembuskan melalui mulut )
3.    Ansietas berhubungan dengan tindakan operasi (krisis situsional)
Intervensi:
a.         Anjurkan pasien untuk berdoa
b.         Ajarkan klien teknik distraksi
c.         Dampingi pasien dan beri support Dsdsds Tenangkan klien ( edukasi tentang tindakan dan prosedur operasi)


BAB III
TINJAUAN KASUS

Asuhan Keperawatan Perioperatif Pada Ny. E Dengan Diagnosa SNNT (Struma Nodusa Non Toxic) yang dilakukan tindakan Thyroidectomy
Asuhan Keperawatan Perioperatif
Hari/tanggal   : Senin / 09 September2019
Pukul               : 14.10 WIB
Tempat            : Ruang Baitul Izzah I RSI Sultan Agung Semarang
Metode           : Wawancara, observasi, pemeriksaan fisik
Sumber            : Klien, keluarga, dan dokumentasi pasien

1.      Asuhan Keperawatan Pre Operatif
a        Identitas
1)      Identitas Pasien                      
Nama                           : Ny. E
Tgl. Lahir/Umum`       : 22/04/1971 (48 tahun, 4 bulan)
No. RM                                    : 138.80.96
Ruangan / Kelas          : Baitul Izah / II (Non PBI)
Diagnosa Medis          : SNNT (Struma Nodusa Non Toxic)
Jenis Kelamin              : Perempuan
Agama                         : Islam
Alamat                         :Menawan 01/05 Gebog Kudus
Pendidikan                   : SMA
Pekerjaan                    : Ibu Rumah Tangga
Tgl. Masuk RS              : 07 September 2019
Tgl. Operasi                 : 09September 2019
Dokter Operator         : dr. Saptadi S. Basuki, Sp.B.Onk(K)
Dokter Anestesi           : dr. Endang Widyastuti Sp.An
Jenis Anestesi              : General Anestesi

2)      Penanggung Jawab
Nama                           : Ny. T
Umur                           : 29 tahun
Pendidikan                   : SMA
Pekerjaan                    : Wiraswasta
Alamat                         : Jl.Nakula 1 No.76 Pendrikan Kidul, Semarang
Hub. Dengan Klien      : Anak Kandung

b        Riwayat Kesehatan
1)      Keluhan Utama
Klien mengatakan terdapat benjolan di leher depan sejak 10 tahun yang lalu. Benjolan dirasa semakin membesar.
2)      Riwayat Penyakit Sekarang
Ny. E, usia 48 tahun, datang ke rumah sakit dengan keluhan adanya benjolan yang muncul di leher depan sejak 10 tahun yang lalu. Ukuran benjolan berubah sejak awal pertama kali muncul. Klien mengatakan adanya nyeri di daerah leher bagian depan, nyeri terasa hilang timbul, nyeri terasa saat menelan dengan skala 3. Terdapat keluhan gangguan bernapas dan gangguan  menelan. Nafsu makan normal dan ada penurunan  berat badan 1 kg dalam  sebulan terakhir. TD: 130/70 mmHg, N: 83x/menit, RR: 20 x/m, S: 36,4 C, SpO2: 99%
3)      Riwayat Penyakit Dahulu
Klien tidak memiliki riwayat Hipertensi,  DM,  Jantung. Klien mengatakan tidak pernah dilakukan tindakan operasi dan dirawat di RSI Sultan Agung Semarang.
4)      Riwayat Penyakit Keluarga
Klien mengatakan keluarga tidak memiliki penyakit menular dan tidak  ada  anggota  keluarganya  yang  mengalami  hal  yang serupa dengan klien.

c         Check List Pre Operatif
Rekam Medis Pasien                        : Ada
Persyaratan administrasi     : Ada
Persiapan darah                   : Tidak ada
Premedikasi                          : Tidak Ada
Puasa                                                :Puasa 6 jam sebelum operasi
Inform dan Consent              : Inform bedah dan anestesi
Persiapan kulit/cukur           : Tidak ada
Protese/gigi palsu/softlens   : Tidak ada
Perhiasan digunakan                        : Tidak ada
Lab Darah                             : Ada
Foto Rontgen                        : Ada
Infus                                      :RL 20 tts/mnt
Catheter Urine                      : Tidak ada
Alergi Obat                           : Tidak ada
Lain-Lain                               : -

d        Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum                    : Baik
Kesadaran                             : Composmentis
Status psikologis                   : Baik
Data subjektif                       :Ny. Eusia 48 tahun, datang ke rumah sakit dengan keluhan adanya benjolan yang muncul di leher depan sejak 10 tahun yang lalu. Ukuran benjolan berubah sejak awal pertama kali muncul. Klien mengatakan adanya nyeri di daerah leher bagian depan, nyeri terasa hilang timbul, nyeri terasa saat menelan dengan skala 3. Terdapat keluhan  gangguan  bernapas dan gangguan  menelan. Nafsu  makan  normal  dan  ada  penurunan  berat  badan  1  kg  dalam  sebulan terakhir. TD: 130/70 mmHg, N: 83x/menit, RR: 20 x/m, S: 36,4 C, SpO2: 99%. Klien mengatakan takut menghadapi operasi, karena baru pertama kali akan dilakukan tindakan operasi.
Data Objektif : Tampak Terlihat benjolan ± 8 cm dengan lebar ± 5 cm, wajah tampak tegang dan gelisah, TD: 130/70 mmHgN: 83x/menit, RR: 20 x/m, S: 36,4 C, SpO2: 99%, Skala nyeri 3.
                        
e        Data Penunjang
1)        Pemeriksaan laboratorium tanggal 07 September 2019
Nama                           : Ny.E
Tgl lahir / Umur          : 22/04/1971 (48 thn)
No. Rm                        : 1388096
Pemeriksaannnnnnbnn
Hasil
Satuan
Nilai Normal
Hematologi



Leukosit
8.51
10^3/ul
3.6-11.0
Hemoglobin
11.4
g/Dl
11.7-15.5
Hematokrit
34.8
%
33-45
APTT/PTTK
28.7
detik
21.8-28.0
kontrol
25.9
detik
21.0-28.4
PPT
9.4
detik
9.3-11.4
Trombosit
254
10^3/uL
150-440
Imonoserologi



HBsAg
Non reaktif
Non reaktif
-
Kimia



GDS
106
Mg/dl
75-110
Ureum
35
Mg/dl
10-50
creatinin
0.99
Mg/dl
0.6-1.1
Natrium
141.6
Mmol/l
135-147
Kalium
3.83
Mmol/l
3.5-5
chloride
103.8
Mmol/l
95-105
Hormon



Total T3
1.29
Nmol/l
0.92-2.33
TSHs
0,18 L
ulU/ml
0.25-5
Free T4
11.11
Pmol/l
10.6-19.4

2)        Pemeriksaan Radiologi USG Thyroid
Pada tanggal 07 september 2019
Nama                           : Ny. E
Tgl lahir / Umur          : 22/04/1971(48 thn)
No. Rm                        : 1388096
KLINIS SNNT
Tiroid kanan/kiri
-          Ukuran membesar
-          Distensi inhomogen
-          Nodul solid dengan bagian kistik (central nekrosis ) kanan ukuran 4.3x2.37x3.89 cm dan kiri 3.3x2.14x4.61 cm
-          Vaskularisasi meningkat intra nodul
-          Kalsifikasi (-)
-          Nodul di ithmus inhemogen, vaskuler meningkat ukuran 1.57x1.44cm
KESAN
Struma nodusa bilateral, kanan ukuran 4,3x2,37x3,89 cm dan kiri 3,3x2,14x4,61 cm, cenderung maligna
Nodul di ithmus ukuran 1,57x1,44 cm

Foto Thorax tgl 07 September 2019
Cor     : Apeks ke laterocaudal.
Pulmo : Corakan bronchovaskuler tak meningkat.
              Tak tampak gambaran infiltrat maupun nodul.
Diafragma dan sinus costofrenicus tak tampak kelainan.
Tak tampak lesi litik, sklerotik, maupun destruktif pada os costae, os claviculae, dan os scapulae yang terlihat.
KESAN:
Cardiomegali (LV)
Tak tampak kelainan pada pulmo dan tulang yang terlihat.

f. Analisa Data Pre Operatif
No
Analisa Data
Etiologi
Problem
TTD
1
DS : Klien mengatakan sulit bernafas dan menelan.
DO : hasil pemeriksaan USG Thyroid
Kesan :
-     Hasil pemeriksaan radiologi menunjukkanStruma nodusa bilateral kanan ukuran 4,3x2,37x3,89 cm dan kiri 3,3x2,14x4,61 cm, cenderung maligna, Nodul di ithmus ukuran 1,57x1,44 cm.
TD : 130/70 mmHg
N : 83 x/menit
RR : 20 x/menit
S : 36,40C
Sp02: 99 %
Adanya masa


Ketidakefektifan jalan nafas
BSCORN
2
DS  : Klien mengatakan
nyeri pada leher bagian depan.
·         P : Nyeri leher bagian depan akibat penekanan pada trakea
·         Q : Nyeri seperti tertekan
·         R : lehar bagian depan
·         S     :Skala nyeri 3
·         T : Hilang timbul

DO : Pemeriksaan fisik pada leher bawah kanan ditemukan adanya pembengkakan (massa) lebih dari satu.
TD : 130/70 mmHg
N : 83 x/menit
RR : 20 x/menit
S : 36,40C
Sp02 : 99 %
·         Klien tampak menahan nyeri
Pembesaran kelenjar tiroid (proses penyakit)
 Nyeri
BSCORN
3
DS : Klien mengatakan takut akan dilakukan tindakan operasi karena ini baru pertama kalinya klien dioperasi.
DO :
·         Klien tampak tegang
·         Skala APAIS 15 (Kecemasan sedang)
·         TTV
TD : 130/70mmHg
N : 83 x/menit
RR : 20 x/menit
S : 36,40C
SpO2 : 99%
Tindakan operasi (krisis situsional)
Ansietas
BSCORN

g. Intervensi Keperawatan Pre-Operatif
No
Diagnosa
NOC
NIC
TTD
1
Ketidakefektifan jalan nafas b.d Benda asing dalam jalan nafas (Adanya massa)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x30 menit, diharapkan :
1.      Jalan nafas klien dapat efektif dengan kriteria hasil tidak ada sumbatan pada trakea.
2.      Menujukan jalan nafas yang paten ( klien tidak merasa tercekik ) rentang normal, tidak ada suara nafas upnormal
3.      Mampu mengidentifikasikan dan mencegah faktor menghambat jalan nafas
Airway Suction :
1.    Monitor status oksigen pasien
2.    Berikan oksigen apabila pasien respiratory rate pasien meningkat
Airway management :
1.      Monitor respirasi dan status O2 
2.      Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi

BSCORN
2
Nyeri berhubungan dengan pembesaran kelenjar tiroid (proses penyakit)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x15 menit, diharapkan nyeri hilang dengan kriteria:
1. Pasien tidak lagi mengeluh nyeri pada tenggorokannya.
2. Ekspresi wajah pasien sudah tampak rileks.
3. Tanda-tanda vital dalam rentang normal.
Manajemen Nyeri
1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, surasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitas.
2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
Manajemen Lingkungan : Kenyamanan
1. Posisikan pasien untuk memfalisitasi kenyamanan ( misalnya gunakan prinsip – prinsip keselarasan tubuh ; imobilisasi tubuh dengan ganjel dengan bantal )
2. Instruksikan klien menggunakan tehnik relaksasi nafas dalam                       (menarik nafas dalam dari hidung dan mengisi paru – paru dengan udara hingga hitungan ke 3, dan hembuskan melalui mulut )
BSCORN
3
Ansietas berhubungan dengan tindakan operasi (krisis situsional)
Setelah dilakukan tindakan selama 1x15 menit, diharapkan :
1.      Klien dapat memahami proses tindakan operasi
2.      Klien menyadari bahwa operasi penting untuk kesembuhan
3.      Klien tampak tenang
1.      Tenangkan klien ( edukasi tentang tindakan dan prosedur operasi)
2.      Anjurkan klien untuk berdo’a
3.      Ajarkan klien teknik distraksi
4.      Dampingi pasien dan beri support
BSCORN

h.Implementasi Keperawatan Pre-Operatif
No
Diagnosa
Tindakan Keperawatan
Respon dan Hasil
TTD
1
Ketidakefektifan jalan nafas b.d adanya masa
Airway Suction :
1.      Monitor status oksigen pasien.
2.      Berikan oksigen apabila pasien respiratory rate pasien meningkat
Airways management :
1.      Monitor respirasi dan status O2 
2.      Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (semi fowler)
S : Klien mengatakan sesak nafas berkurang
O : pasien tampak rileks.
TD : 125/70 mmHg
N : 78 x/menit
RR : 21 x/menit
S : 36,5 0C
SpO2 : 99%

BSCORN

2
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan pembesaran kelenjar tiroid (proses penyakit)
Manajemen Nyeri
1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, surasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitas.
2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
Manajemen Lingkungan : Kenyamanan
1. Posisikan pasien untuk memfalisitasi kenyamanan ( misalnya gunakan prinsip – prinsip keselarasan tubuh ; imobilisasi tubuh dengan ganjel dengan bantal )
2. Instruksikan klien menggunakan tehnik relaksasi nafas dalam (menarik nafas dalam dari hidung dan mengisi paru – paru dengan udara hingga hitungan ke 3, dan hembuskan melalui mulut)
S : Klien mengatakan nyeri berkurang
·      P    : Penekanan pada trakea
·      Q : Nyeri seperti tertekan
·      R  : Leher depan
·      S   : Skala nyeri 1
·      T   : Hilang timbul

O : Klien tampak rileks
TD : 125/70 mmHg
N : 78 x/menit
RR : 21 x/menit
S : 36,5 0C
SpO2 : 99%

BSCORN

3
Ansietas berhubungan dengan  tindakan operasi (krisis situsional)
1.      Menenangkan klien
2.      Menganjurkan klien untuk berdo’a
3.      Mengajarkan klien teknik distraksi
4.      Mendampingi pasien dan beri support
S : Klien mengatakan sedikit tenang
O : Klien tampak rileks
Tekanan darah : TD :130/70mmHg
N : 83 x/menit
S:36,4 C SpO2:99%
BSCORN

i.      Evaluasi Keperawatan Pre-Operasi
No
Hari/Tanggal/Jam
Diagnosa
Catatan Perkembangan Keperawatan
TTD
1
Minggu, 8 September2019
Jam 09.40 WIB
Ketidakefektifan jalan nafas b.d adanya masa
S : Klien mengatakan sesak nafas berkurang
O :
-          pasien tampak rileks.
-          Posisi pasien semi fowler
-          TTV dalam batas normal
TD : 130/70 mmHg
N : 83 x/menit
RR : 20 x/menit
S : 36,40C
SpO2 : 99%
A : Masalah teratasi
P : Hentikan intervensi
BSCORN
2
Minggu, 8 September 2019
Jam 09.40 WIB
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan pembesaran kelenjar tiroid (proses penyakit)
S : Klien mengatakan nyeri berkurang
·      P    : Penekanan pada trakea
·      Q : Nyeri seperti tertekan
·      R  : Leher depan
·      S   : Skala nyeri 1
·      T   : Hilang timbul

O: Klien tampak rileks
TD : 130/70 mmHg
N : 83 x/menit
RR : 20 x/menit
S : 36,40C
SpO2 : 99%
BSCORN
3
Minggu, 8 September  2019
Jam 09.40 WIB
Ansietas berhubungan dengan tindakan operasi (krisis situsional)
S : Klien mengatakan cemas berkurang dan siap dilakukan tindakan operasi
O :
-          Klien tampak rileks
-          Skala APAIS8 (cemas ringan)
-          Vital sign dalam batas normal
TD : 130/70 mmHg
N : 83 x/menit
BSCORN

2.    Asuhan Keperawatan Intra Operatif
A.     Pengkajian
Ny.E masuk ruang operasi tanggal 9 September 2019 pukul 14.10 WIB
Data subjektif              : -
Data objektif               :
·         Tingkat kesadaran klien composmentis GCS 15 (E4, M6, V5)
·         Posisi supine belum dilakukan General anestesi
·         Tanda-tanda vital, TD: 130/ 80 mmHg, N: 80 x/mnt, RR: 20 x/mnt, S: 36,5˚C, SpO2: 99%
·         Estimasi lama operasi 1,5 jam
·         Penggunaan set operasi onkologi

B.      Analisa Data
N
Tanggal/ Jam
Analisa Data
Etiologi
Masalah
TTD
1
09September2019
Jam 14.15WIB
DS  : -
DO :
·      Klien terpasang ground pad
Efek sekunder penggunaan ESU
Resiko cedera (combustio)
BSCORN
2
09September 2019
Jam 14.15WIB
DS  : -
DO :
·      Penggunaan set instrument operasi onkologi
·      Penggunaan bahan habis pakai
Efek sekunder penggunaan instrument dan bahan habis pakai sebelum pembedahan
Resiko cidera tertinggalnya benda asing
BSCORN

C.        Intervensi Keperawatan Intra Operasi
No.
Diagnosa
NOC
NIC
TTD
1
Resiko cedera berhubungan dengan efek sekunder penggunaan ESU
Setelah dilakukan tindakan selama 1x1 jam diharapkan
·  Mampu menhindari paparan terhadap penggunaan ESU
·  Klien terbebas dari cedera kulit (kulit kemerahan, bula)
·   Pasang ground pad
·   Fiksasi dengan adekuat
·   Gunakan power output sesuai dengan kebutuhan
·   Awasi selama pemakaian alat ESU
BSCORN
2
Resiko cedera tertinggalnya benda asing berhubungan dengan efek sekunder penggunaan instrument dan bahan habis pakai sebelum pembedahan
Setelah dilakukan tindakan selama 1x1 jam diharapkan
·  Jumlah instrumen lengkap
·  Jumlah kasa lengkap
·  Jumlah benang dan jarum lengkap
·  Penambahan alat diketahui
·   Hitung dancatat jumlah set instrumen onkologi
·   Hitung dan catat jumlah bahan habis pakai (kassa, benang, jarum) sebelum dan sesudah operasi
·   Catat penambahan kebutuhan alat
BSCORN

D.        Implementasi Keperawatan Intra Operatif
No.
Tgl/Jam
Diagnosa
Tindakan Keperawatan
Respon dan Hasil
TTD
1
Senin, 09September2019
Jam 14.10 WIB
Resiko cedera berhubungan dengan efek sekunder penggunaan ESU
1. Memasang ground pad sesuai prosedur
DS: -
DO:
·      Ground pad terpasang dengan kabel ESU
BSCORN
Jam 14.12 WIB
2. Memfiksasi ground pad dengan adekuat
DS: -
DO:
·      Ground padterpasang pada bagian paha kanan
BSCORN
Jam 14.15 WIB
3.  Menggunakan output sesuai dengan kebutuhan
DS: -
DO:
·      Cutting 45 Mhz, coagulan 46 Mhz
BSCORN
Jam 14.25 WIB
4.  Mengawasi selama pemakaian ESU
DS: -
DO:
·      Ground pad terfiksasi dengan adekuat
BSCORN
2
Senin, 09 September 2019
Jam 14.15 WIB
Resiko cedera tertinggalnya benda asing berhubungan dengan efek sekunder penggunaan instrument dan bahan habis pakai sebelum pembedahan
1. Menghitung dan mencatat jumlah set instrument ONKOLOGI yang digunakan
DS: -
DO:
·      Jumlah sesuai dengan dengan cek list set instrument Basic
BSCORN
Jam 14.20 WIB
2. Mencatat penambahan kebutuhan alat
DS: -
DO:
·      Tidak ada penambahan alat
BSCORN
Jam 14.25WIB
3. Menghitung dan mencatat jumlah bahan habis pakai (kassa, benang, jarum) sebelum dan sesudah operasi
DS: -
DO:
·  Tidak ada penambahan bahan habis pakai, sesuai dengan perhitungan awal
BSCORN

E.        Evaluasi Keperawatan Intra Operatif
No.
Hari/tgl/jam
Diagnosa
Catatan Keperawatan
TTD
1
Senin, 09 September 2019
Jam 15.15 WIB
Resiko cedera berhubungan dengan efek sekunder penggunaan ESU
S  : -
O :
·      Mampu menghindari paparan terhadap penggunaan ESU
·      Klien terbebas dari cedera kulit (kulit kemerahan, bula)
·      TD: 110/60 mmHg, N: 78x/menit, SpO2: 99%, RR: 20x/menit.
A : Masalah teratasi
P  :Hentikan intervensi
BSCORN
2
Jam 15.15 WIB
Resiko cedera tertinggalnya benda asing berhubungan dengan efek sekunder penggunaan instrument dan bahan habis pakai sebelum pembedahan
S  : -
O :
·       Jumlah instrumen pre, intra, dan post op sesuai dengan ceklist set instrumen Basic
·       Tidak ada penambahan alat
·       Tidak ada penambahan barang habis pakai
A : Masalah teratasi
P : Hentikan intervensi
BSCORN

3.    Asuhan Keperawatan Post Operatif
A.     Pengkajian
Ny. E selesai operasi tanggal 09 September 2019 pukul 15.35 WIB
Data subjektif : Klien mengatakan badannya lemas setelah dilakukan tindakan operasi
Data objektif :
·         Kesadaran Composmentis, GCS 15(E4M5V6)
·         Post General anestesi
·         Terpasang balutan steril sepanjang ±10 cm pada leher
·         Terpasang drain no 12 dengan produksi ± 5 cc, warna merah darah segar
·         TTV : TD : 110/80 mmHg, N : 80x/menit, RR : 20 x/menit, SpO2 : 99%
·         Aldret score 8

Aldret Score
Kriteria
Score
Aktifitas motorik :
Seluruh ekstremitas dapat di gerakkan                          2
Dua ekstremitas digerakkan                                            1
Tidak ada gerakan                                                              0
1
Respirasi :
Nafas dalam, batuk                                                           2
Dangkal namun pertukaran udara adekuat                  1
Apnea/tidak nafas adekuat                                              0
1
Sirkulasi
Tekanan darah berbeda ±20 mmHg dari Pre-OP          2
Tekanan darah berbeda ±20-50 mmHg dari Pre-OP    1
Tekanan darah berbeda ±50 mmHg dari Pre-OP          0
2
Kesadaran :
Sadar penuh mudah dipanggil                                         2
Bangun jika dipanggil                                                        1
Tidak ada respon                                                               0
2
Warna kulit :
Kemerahan/normal                                                          2
Pucat                                                                                   1
Sianosis                                                                               0
2
Score > 8, pasien boleh di pindahkan
8

B.   Analisa Data post operasi
No
Tanggal/Jam
Analisa Data
Etiologi
Problem
TTD
1
Senin, 09 September 2019
Jam 15.35 WIB
DS : Klien mengatakan badannya lemas setelah dilakukan tindakan operasi
DO :
·         Kesadaran Composmentis
·         Post General anestesi
·         Aldret score 8
Kelemahan pergerakan efek general anestesi
Resiko jatuh
BSCORN

C.      Intervensi Keperawatan Post Operasi
No
Tgl/Jam
Diagnosa
NOC
NIC
TTD
1
Senin, 09 September2019
Jam 15.35 WIB
Resiko jatuh berhubungan dengan Kelemahan pergerakan efek general anestesi
Setelah dilakukan an tindakan 1x15 menit diharapkan :
·         Kejadian jatuh tidak ada
·         Klien dalam posisi aman dan nyaman
1.      Kunci roda brangkar
2.      Pasang batas pengaman samping kanan dan kiri
3.      Memposisikan klien semi fowler
4.      Edukasi klien dan keluarga tentang general anestesi
BSCORN

D.     Implementasi Keperawatan Post Operasi
No
Tanggal/Jam
Diagnosa Keperawatan
Tindakan Keperawatan
Respon dan Hasil
TTD
1
Senin, 10 Maret 2019
Jam 15.35 WIB
Resiko jatuh berhubungan dengan Kelemahan pergerakan efek general anestesi
1.      Mengkunci roda brangkar


2.      Memasang batas pengaman samping kanan dan kiri



3.      Memposisikan klien semi fowler


4.      Mengedukasi klien dan keluarga tentang spinal anestesi
S : -
O : Roda brangkat terkunci

S : -
O : Batas pengaman samping kanan dan kiri terpasang dan terkunci.

S : -
O : Pasien terlihat nyaman.

S : Keluarga mengatakan paham akan general anestesi
O : Keluarga kooperatif saat diberi edukasi
BSCORN

E.      Evaluasi Keperawatan Post Operasi
No
Hari/ Tanggal/Jam
Diagnosa
Catatan Keperawatan
TTD
1
Senin, 09September 2019
Jam 15.35 WIB
Resiko jatuh berhubungan dengan Kelemahan pergerakan efek general anestesi
S : -
O :
- Klien mampu berpindah dari satu permukaan dengan berbaring
- Aldret score menjadi 8
- Klien terpasang gelang kuning
A : Masalah teratasi
P : Hentikan intervensi
BSCORN

OPERASI TYROIDECTOMY
No
Instrumen dan Sponge
Jumlah
Pre
Intra
       +
Post

INSTRUMEN
1
Allis klem panjang
1
1
-
1
2
Allis klem pendek
1
1
-
1
3
Bowl kecil
1
1
-
1
4
Bowl sedang
1
1
-
1
5
Cirurgis forcep adson
1
1
-
1
6
Cirurgis forcep sedang
1
1
-
1
7
Darm kas
2
2
-
2
8
Duk klem (Towlklip)
6
6
-
6
9
Disceting forcep sedang (pinset anatomis)
2
2
-
2
10
Dresing scissors (Gunting benang)
2
2
-
2
11
Gunting metzenbeum (lexer)
1
1
-
1
12
Hemoestatic pean forcep panjang
4
4
-
4
13
Hemoestatic pean pendek (Mosquito)
3
3
-
3
14
Jarum cutting 28, 32, 36, 45
1/1/1/1
1/1/1/1
-
1/1/1/1
15
Jarum tapper 36,45
1/1/1
1/1/1
-
1/1/1
16
Khoker forceps(Kokher bengkok panjang kecil)
5
5
-
5
17
Langenbeck
2
2
-
2
18
Needle holder pendek
1
1
-
1
19
Needle holder panjang
1
1
-
1
20
Nearbekken / Kidney tray (bengkok)
1
1
-
1
21
Scapel 3
1
1
-
1
22
Scapel 4
1
1
-
1
23
Tempat jarum
1
1
-
1
24
Ujung suction 3 mm
1
1
-
1
25
Yoderm
1
1
-
1

Jumlah
48
48
-
48






Barang medis habis pakai
Handscoon Steril  no. 7,5/7/6,5
1/2/1
1/2/1
-
1/2/1
Kassa Steril
40
40
-
40
Steril water
500cc
250cc
-
0 cc
Povidon Iodine 15%
50 cc
50 cc
-
0 cc
Alkohol 70%
50 cc
50 cc
-
0 cc
Hipafix / Plester
5cm
5cm
-
5cm
Apron
4
4
-
4
Side/ Silk 2.0
1
1
-
1
PGA 3.0 
1
1
-
1
Underpad
1
1
-
1
Towel
1
1
-
1
Bisturi no 15
1
1
-
1
Ground Pad
1
1
-
1
Vacum Woundrain no. 12
1
1
-
1
Tulle (Sufratul)
1
1
-
1
Set Yankeur Suction
1
1
-
1









PENGELOLAAN PASIEN PERIOPERATIF
SERAH TERIMA PASIEN
1.      Pasien dari ruang Baitul Izzah  Idatang ke IBS kemudian dilakukan serah terima pasien antara perawat ruangan dengan perawat IBS di holding room.
2.      Melakukan transfer pasien dari brankart ruangan dengan menggunakan easy move ke brankart kamar bedah.
3.      Mengganti baju pasien, memakaikan topi operasi dan siderail brankart IBS.
4.      Melakukan pengecekan pengisian ceklist yang berisi informed concent (persetujuan operasi),  identitas pasien, kelengkapan serah terima pasien lainnya termasuk obat-obatan yang dibawa.
5.      Memeriksa keadaan  pasien di ruang pra induksi meliputi tingkat kesadaran, tanda-tanda vital (TTV) dan mengkaji lamanya puasa, riwayat penyakit tertentu, riwayat alergi, dan memberi tanda khusus bila terjadi reaksi alergi obat-obat pre medikasi, setelah itu :

SIGN IN
Perawat Sirkuler melakukan Sign In di ruangan pra induksi sebelum induksi anastesi, dan dihadiri  oleh dokter anastesi, perawat bedah, dan perawat anastesi.
a.  Apakah pasien telah memberikan konfirmasi kebenaran identifikasi, lokasi operasinya, prosedurnya dan telah memberikan persetujuan dalam lembar informed concern?(Sudah)
b.  Apakah lokasi operasi sudah diberi tanda/ marking? (sudah dimarking)
c.   Apakah mesin dan obat anastesi telah di cek dan lengkap? (sudah, lengkap)
d.  Apakah Pulse oximeter sudah terpasang dan berfungsi? (sudah)
Apakah Pasien Memiliki
a.    Riwayat alergi yang diketahui? (tidak)
b.    Resiko kesulitan pada jalan nafas atau resiko aspirasi? (tidak ada)
c.    Resiko kehilangan darah >500 ml (35ml/Kg BB pada dewasa, 7ml/kgBB pada anak)? (Tidak ada)

PERSIAPAN TIM BEDAH, ANESTESI DAN PENGELOLAAN PASIEN
1.    Dokter operator, asisten operator, perawat instrument menggunakan APD (Penutup kepala, masker, kacamata, apron, sandal/ sepatu boot).
2.    Operator melakukan proses marking menggunakan surgical pen marker pada area yang akan di insisi ( area leher ).
3.    Alasi meja operasi dengan menggunakan duk bersih dan underpad kemudian pasien dipindahkan ke meja operasi dari brankart secara aman dengan menggunakan easy move.
4.    Perawat instrumen menyiapkan instrumen Set onkologiyang akan digunakan untuk tindakan operasi SNNT.
5.    Perawat sirkuler memasang pulseoxymeter, bedside monitor, sphigmomanometerdan menempatkan infus pada standart infus, cek mesin suction dan pasang tabung suction.
6.    Tim anastesi (dokter anastesi dan penata anastesi) melakukan anastesi dengan jenis anastesi General Anastesi.
7.    Kemudian perawat sirkuler mengatur posisi pasien supinasi.

SCRUBING
Dokter operator, perawat instrumen, asisten operator melakukan cuci tangan bedah.(air mengalir, chlorehexidine 4%, pembersih kuku, sponge, sikat). Dengan langkah-langkah:
a.    Lepas asesoris yang berada ditangan
b.    Pakai apron
c.    Lipat lengan baju 10 cm diatas siku.
d.    Basahi tangan dan lengan sampai 5cm diatas siku dibawah air mengalir.
e.    Bersihkan kuku dengan menggunakan pembersih kuku di bawah air mengalir dari arah dalam keluar.
f.     Tuang cairan chlorhexidine 4%ke spon secukupnya (5ml).
g.    Basahi spon dan remas-remas sampai berbusa, lumuri dan gosok seluruh permukaan tangan sampai 5 cm di atas siku.
h.    Sikat kuku jari pada masing-masing tangan selama 1 menit (satu arah, dengan arah menjauhi badan).
i.      Buang sikat dan bilas dengan air mengalir sampai bersih (spon tetap dipegang).
j.      Dengan meremas spon sampai berbusa, lumuri kembali tangan sampai 3/4 lengan (5 detik untuk 2 tangan).
k.    Gunakan spon untuk membersihkan tangan kiri dan kanan (mulailah menggosok telapak tangan selama 15 detik, punggung tangan 15 detik, kemudian seluruh jari 15 detik secara berurutan. Setiap jari digosok seolah mempunyai 4 sisi) lalu buang spon kemudian bilas di bawah air mengalir sampai bersih.
l.      Lumuri kembali dan gosok telapak tangan sampai pergelangan tangan dengan chlorhexidine 4%, lakukan cuci tangan prosedural 6 langkah.
m. Bilas dengan air mengalir sampai bersih hingga 5 cm di atas siku.
n.    Biarkan air mengalir dari arah tangan sampai siku, jangan dikibas.
o.    Pertahankan posisi tangan agar telapak tangan sejajar dengan bahu.

GOWNING dan GLOVING
8.      Dokter operator, perawat instrumen, asisten operator mengeringkan tangan dengan handuk kecil kemudian memakai jas operasi dan hand glove steril (jari-jari tidak boleh melewati manset jas operasi).
9.      Perawat instrumen menyiapkan meja mayo meliputi memasang sarung meja, perlak pengalas dan menyiapkan instrumen di meja mayo.
INSTRUMENTASI
10.  Scrubing nurse/ instrumentator menyiapkan instrumen set onkologi dan bahan habis pakai meliputi kassa steril 40, set yankeur, memasang bisturi no 15  pada scaple no 3, benang Side/ Silk 2.0 ()cutting, benang PGA 3/0 (●).
11.  Scrubing nurse mengalasi meja mayo dengan sarung meja steril dan set duk steril diatasnya.
12.  Menata/ menyusun instrumen dan bahan habis pakai sesuai dengan urutannya.

ASEPSIS
13.  Perawat instrumen memberikan kassa steril yang telah dijepit denganyodermdan bowl kecil yang berisi povidon iodine 10% kepada operator untuk melakukan asepsis pada area operasi (dengan cara memutar dari dalam ke luar pada area yang akan di insisi).

DRAPPING
14.  Perawat instrumen memberikan duk steril, kepada asisten operator untuk melakukan drapping
a.      Berikan satu duk besar untuk menutupi area cudal (dari dada sampai kaki). Berikan satu duk untuk bagian tubuh atas/ frontal pasien (kepala). Berikan dua duk sedang untuk bagian samping kemudian fiksasi dengan menggunakan Doek klem. Pasang set duk perlak diatas duk besar bagian caudal untuk mencegah tumpahan darah, cairan tubuh pasien merembes/ tembus dan siapkan suction yankeur serta difiksasi dengan Doek klem. 
b.      Pasang dan fiksasi set hand piece couter dan  Doek klem kecil yang bersebelahan dengan selang suction.

TIME OUT
15.  Perawat Sirkuler memimpin Time Out
a.      Seluruh anggota telah menyebutkan nama dan peran masing-masing
b.      Konfirmasi klien mengenai (identitas klien, diagnosa, prosedur operasi dan area insisi)
c.       Antibiotik profilaksis telah diberikan dalam 60 menit? (Tidak)
ANTISIPASI KEJADIAN KRITIS :
§  Operator
1)      Hal kritis atau langkah tak terduga apakah yang mungkin diambil? (tidak ada)
2)      Berapa estimasi lama operasi? (1,5 Jam)
3)      Antisipasi kehilangan darah yang dipersiapkan? (tidak ada )
§  Tim Anastesi
1)      Adakah masalah spesifik yang timbul? (tidak ada)
2)      Adakah terdapat hal penting mengenai pasien yang perlu di perhatikan? (Airway dan Hemodinamik)
§  Tim Keperawatan
3)      Apakah peralatan sudah steril? (sesuai indikator)
4)      Adakah alat khusus harus diperhatikan? (tidak ada)
Dipersilahkan operator memimpin Doa.

LANGKAH – LANGKAH OPERASITYROIDECTOMY
No.
URAIAN LANGKAH-LANGKAH OPERASI
INSTRUMENT, BHP DAN SPONGE
1
Perawat instrumen memberikan needle holder dengan benang side/silk 2/0 untuk mencepitkan subkutis dengan duk steril untuk membantu menarik kulit untuk mengeskpos area operasi agar massa thyroid lebih mudah diambil.
Needle Holder (1)
Side 2/0
2
Perawat instrumen memberikan gunting benang (Delicate scissors)
Delicate scissors, (1)
3
Perawat instrumen memberikan kassa steril untuk membersihkan areaa yang akan diinsisi dan pinset Chirurgis kepada operator untuk melakukan penjepitan area yang akan diinsisi dan utuk mengecek apakah obat anestesi sudah bekerja. Perawat instrumen memberikan Scalpel no.3 dengan bisturi no.15 diatas Kidney Tray dan pinset Chirurgis kepada operator untuk insisi area leher. 
Tissue Forceps (Pinset sirurgis
Scalpel no 3 (1)
Bisturi no 15(1)
Kidney tray (1)
Kassa  ( 2 )
4
Perawat instrumen memberikan kassa untuk mengontrol perdarahan atau dengan menggunakan suction dan couter jika diperlukan.
Kassa ( 2 )
Hand piece couter (1)
5
Perawat instrumen memberikan 3 kocher untuk menjepit subkutis bagian atas insisi. Asisten operator memegang kocher sambil mengangkat kocher untuk mengekspose area operasi.
Kocher (3)

6
Operator memisahkan area subkutis menggunakan kocher (melakukan flap sampai batas yang diinginkan) sambil asisten mengecek perdarahan. Setelah itu buka kocher pindahkan ke area subkutis bagian bawah insisi.
Kocher  (3)
7
Perawat memberikan langen back dan couter yang digunakan untuk memotong fasia sampai otot terlihat.
Langen Back (1)

8
Perawat instrumen memberikan pinset anatomis dan klem kepada operator dan asisten untuk membuka otot.
Pinset anatomis (1)
Klem (1)
9
Perawat instrumen memberikan cauterdan hemostatic forcep untuk memisahkan jaringan sampai massa terlihat, sambil cek perdarahan.
Hemostatic forcep (1)
Hand Piece Couter
10
Setelah massa terlihat berikan Ellis klem kepada operator untuk menjepitkan massa thyroid.
Allis klem (1)
11
Setelah thyroid ditelusur dengan klem untuk memisahkan lapis demi lapis sampai bawah dengan menggunakan cauter sampai massa thyroid terbebas, setelah itu gunakan klem bagian bawah untuk menjepit thyroid, dan pisahkan dengan Couter, kontrol  perdarahan.
Hemostatic forceps, Pean (Klem bengkok kecil) (1)
Hand Piece Couter

12
Setelah massa thyroid terpotong bersihkan dengan Steril waterkemudian keringkan dengan suction dan kassa sterile. Dan letakkan massa thyroid pada pot tempat specimen yang berisi carian formalin.
Steril water
Suction
Kassa steril ( 2 )
Pot tempat specimen
13
Perawat instrumen memberikan gunting benang kepada operator untuk menggunting benang yang mengkaitkan kulit dengan duk.
Gunting benang
14
Pasang wound drain no.12 dibagian bawah insisi. Kulit dari dalam ditekan dengan klem dan ujung kulit dipotong tipis dengan bisturi no 15. Fiksasi selang dengan benang silk 2/0
Vacum Woundrain no.12
Hemostatic forceps, Pean (Klem bengkok kecil) (1)
Bisturi no.15
Silk 2/0
15
Perawat instrumen memberikan gunting benang kepada operator untuk menggunting benang yang mengkaitkan kulit dengan duk.
Gunting benang (1)
16
Perawat instrumen memberikan 2 klem untuk menjepit fasia (kanan dan kiri)
Hemostatic forceps Pean (1)
17
SIGN OUT
Lakukan penghitungan instrumen yang digunakan :
Nama Barang
Pre
Intra
(+)
Post
Instrumen
48
48
-
48
Kasa
40
40
-
40
Jarum
2
2
-
2

Cairan di tabung suction (darah) ±200 dan 30 kasa basah dengan darah.
-          Labelinga spesimen tyroid (minimal terdapat asal jaringan,nama pasien, no.RM,anggal lahir)? Ada
-          Apakah ada permasalahan peralatan yang perlu disikapi?tidak ada
-          Kepada operator, dokter anestesi dan tim keperawatan, apakah terdapat pesan khusus untuk pemulihan pasien? Tidak ada

18
Setelah alat, darm doek dan kasa sudah lengkap perawat instrumen memberikan needle holder dan benang PGA 3/0 ● kepada operator untuk menjahit fasia dan lemak, dan memberikan gunting benang untuk menggunting benang.
Needle holder (1)
PGA 3/0 ●
Gunting benang(1)
19
Perawat instrumen memberikan benang PGA 3/0● untuk menjahit kulit dan memberikan gunting benang untuk menggunting benang.
Needle holder (1)
PGA 3/0 ●
Gunting benang (1)
20
Bersihan area insisi dengan steril water lalu keringkan dengan kassa kering.
steril water
Kassa ( 2 )
21
Kemudian oleskan povidon iodine dan tutup luka dengan menggunakan kassa kering serta  hepafix.
Povidone iodine
Kassa ( 2 )
Hepafix / Plester
22

Jika semua instrument dan bahan habis pakai dinyatakan sudah lengkap dan dipastikan tidak ada yangtertinggal maka setelah itu rapikan pasien dan semua peralatan. Perawat dan dokter operator melepasjas operasi dan handsoon steril.
Bak linen kotor
Sampah infeksius warna kuning
23
Jika pasien sudah rapi koordinasi dengan tim anestesi untuk melakukan pengecekan kesadaran pasien dan melakukan ekstubasi setelah itu pindahkan pasien ke brankart untuk dipindahkan ke RR (Recovery Room).

24
Sesampainya di RR klien dipasang BSM (Bedside Monitor) dan oksigen 2 lt/ mnt dengan Nasal Cannule.

25
Monitor kesadaran dan ttv klien.

26
Setelah itu melakukan penilaian kondisi pasien selesai operasi menggunakan Adrete Scoredan pasien bisa dipindah ke bangsal jika score minimal ≥ 8

27
Nursing Handover antara perawat RR dengan perawat ruangan.





 



 



Komentar

Entri Populer

ASUHAN KEPERAWATAN AFF PLATE

LAPORAN PENGHITUNGAN INSTRUMENT & LAPORAN OPERASI           Bangsal : Amarylis 1 Kelamin :      L /P Nomor : 14-63-64 Nama     :   Tn. R Umur :   18 th       Tgl/bl/th: 31/03/2001 Kelas/Jaminan :         / Km Operasi No: 4 Op Ke :4Jam 13.30 Praktikan : Paraf           : Trainer : Paraf       : Diagnosa Medis    : Union Fraktur Femur Dexstra Tindakan Operasi : Aff Plate Operator : H, Sp OT, Mkes,dr Peran Pratikan Obs     CN Asisten Instrument Instrumentasi Didampingi Instrumentasis Mandiri Assisten Persiapan Anastesi      : Je...

Laporan Pendahuluan Febris

LAPORAN PENDAHULUAN FEBRIS I.      KONSEP DASAR A.   Pengertian Febris (demam) yaitu meningkatnya suhu tubuh yang melewati batas normal yaitu lebih dari 38 0 C (Hidayat, 2005). Demam berarti suhu tubuh diatas batas normal biasa, dapat disebabkan oleh kelainan dalam otak sendiri atau oleh zat toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu, penyakit-penyakit bakteri, tumor otak atau dehidrasi (Hidayat, 2005). Demam adalah keadaan dimana terjadi kenaikan suhu hingga 38° C atau lebih. Ada juga yang yang mengambil batasan lebih dari 37,8°C. Sedangkan bila suhu tubuh lebih dari 40°C disebut demam tinggi (hiperpireksia) (Ngastiah, 2005). B.   Etiologi Menurut Pelayanan kesehaan maternal dan neonatal 2000 bahwa etiologi febris,diantaranya 1.     Suhu lingkungan. 2.     Adanya infeksi. 3.     Pneumonia. 4.     Malaria. 5.     Otitis m...