PENDAHULUAN
A Definisi
Suhu tubuh merupakan perbedaan antara total panas yang
dihasilkan oleh proses tubuh dan total panas yang pergi ke luar lingkungan.
Suhu bagian perifer berfruktuasi bergantung dari pada aliran darah ke kulit dan
total panas yang pergi ke lingkungan luar. walaupun dalam suasana tubuh yang
ekstrem serta aktivitas fisik, proses kontrol suhu manusia tetap mengatur suhu
inti tubuh dan suhu jaringan seluruh tubuh dalam relatif stabil. Karena
perubahan suhu permukaan ini, besaran suhu dapat terjadi berkisar 36ºC sampai
38ºC (Potter & Perry, 2006).
Lokasi untuk pengukuran suhu tubuh seperti oral, rektal,
aksila, membran timpani, esofagus, arteri pulmonal, atau kandung kemih adalah
salah satu faktor yang menunjukkan suhu tubuh yang sebenarnya. Lokasi yang
dapat mengetahui suhu inti adalah indikator suhu tubuh yang lebih dapat
dipercaya dan diandalkan daripada lokasi yang memperlihatkan suhu perifer.
Untuk orang dewasa yang tidak sakit rata-rata suhu oral 37ºC. Pengukuran suhu
tubuh dilakukan untuk mendapatkan suhu inti tubuh rata-rata yang representatif.
Suhu normal rata-rata bervariasi tergantung tempat dilakukan pengukuran.
Penilaian suhu tubuh pada area paru adalah standar apabila dibandingkan dengan
semua lokasi yang dinilai lebih akurat. Arteri paru memperlihatkan angka suhu
yang paling representatif karena darah berada banyak di daerah tersebut dari
semua bagian tubuh (Guyton & Hall, 2008).
Pengaturan suhu tubuh hampir seluruhnya dilakukan
oleh mekanisme umpan balik saraf, dan hampir semua mekanisme ini bekerja
melalui pusat pengaturan suhu yang terletak pada hipotalamus. Mekanisme umpan
balik ini akan bekerja membutuhkan detector suhu, untuk menentukan bila
suhu tubuh terlalu panas atau dingin. Panas akan terus menerus dihasilkan dalam
tubuh sebagai hasil sampingan metabolisme dan panas tubuh juga secara terus
menerus dibuang ke lingkungan sekitar (Gaython, 2007).
Hipotermi terjadi karena terpapar dengan lingkungan
yang dingin (suhu lingkungan rendah, permukaan yang dingin atau basah) (Depkes
RI, 2009). Hipotermi adalah suatu keadaan suhu tubuh dibawah 36.6°C (Majid,
Judha & Istianah, 2011). Hipotermi juga terjadi karena kombinasi dari
tindakan anestesi dan tindakan operasi yang dapat menyebabkan gangguan fungsi
dari pengaturan suhu tubuh yang akan menyebabkan penurunan suhu inti tubuh (caretemperature).
B
Mekanisme Pengaturan Suhu Tubuh
Mekanisme fisiologis dan perilaku meregulasi keseimbangan
suhu tubuh. Supaya suhu tubuh selalu stabil dan selalu berada dalam batas yang
normal. Hipotalamus yang terletak diantara hemisfer serebral, mengatur suhu
inti tubuh. Suhu lingkungan sangat nyaman atau setara dengan set point maka
hipotalamus akan berespon sangat ringan dan sedikit, sehingga suhu akan
mengalami perubahan yang ringan dan relatif stabil. Hubungan antara produksi
dan pengeluaran panas harus dipertahankan. Hubungan diregulasi melalui mekanisme
neurologis dan kardiovaskuler. Hipotalamus anterior mengendalikan panas yang
keluar, dan hipotalamus mengendalikan panas yang dihasilkan. Penurunan suhu
tubuh terjadi karena sel syaraf di hipotalamus anterior menjadi lebih panas
melebihi set point. Gangguan atau perubahan pada pengaturan suhu yang sangat
fatal dapat terjadi pada kondisi dimana adanya lesi dan trauma pada hipotalamus
atau korda spinalis. Berkeringat, vasodilatasi pembuluh darah, dan hambatan
produksi panas merupakan suatu mekanisme pengeluaran panas. Mekanisme konversi
panas mulai bekerja, apabila hipotalamus posterior merespon suhu tubuh lebih
rendah dari set point Proses menggigil terjadi pada tubuh apabila
ketidakefektifan vasokontriksi pembuluh darah dalam mengurangi tambahan pengeluaran
panas. Distribusi darah ke kulit dan ekstermitas berkurang karena terjadinya
Vasokontriksi pembuluh darah. Kontraksi otot volunter dan gerakan pada otot
merangsang atau merupakan kompensasi pergantian produksi panas (Guyton &
Hall, 2008).
Pusat pengaturan suhu tubuh pada hipotalamus distimulasi oleh
dua termoreseptor. Termoresepror tersebut yaitu termoreseptor perifer kulit dan
termoreseptor sentral (terdapat di hipotalamus, sistem saraf pusat, organ
abdomen). Pada pengaturan suhu tersebut mengatur produksi dan pelepasan panas
dalam tubuh. Tubuh menghasilkan panas dengan cara adaptasi perilaku (aktivitas,
konsumsi makanan, dan perubahan emosi) dan pergerakan tonus otot/ menggigil.
Hilangnya panas dilakukan dengan salah satu cara berkeringat dan berubahnya
pembuluh darah dengan vasokontriksi menjadi vasodilatasi.
C Batasan
suhu
Menurut Tamsuri (2007), batasan suhu normal adalah sebagai berikut :
1. Bayi: 37,5°C
3. Anak: 36,7-37,0°C
4. Dewasa: 36,4°C
5. >70 tahun 36,0°C
D Klasifikasi
hipotermi
Menurut ('Connel, 2011), hipotermi dapat diklasifikasikan menjadi 3,
yaitu:
1. Ringan
Suhu antara 32-35° C, kebanyakan orang bila berada pada
suhu ini akan menggigil secara hebat, terutama di seluruh ekstremitas. Bila
suhu lebih turun lagi, pasien mungkin akan mengalami amnesia. Peningkatan
kecepatan nafas juga mungkin terjadi.
2. Sedang
Suhu antara 28–32° C, terjadi penurunan konsumsi
oksigen oleh sistem saraf secara besar yang mengakibatkan terjadinya
hiporefleks, hipoventilasi, dan penurunan aliran darah ke ginjal. Bila suhu
tubuh semakin menurun, kesadaran pasien bisa menjadi stupor, tubuh kehilangan
kemampuannya untuk menjaga suhu tubuh, dan adanyarisiko timbul aritmia.
3. Berat
Suhu <28°C, pasien rentan mengalami fibrilasi
ventrikular, dan penurunan kontraksi miokardium, pasien juga rentan untuk
menjadi koma, nadi sulit ditemukan, tidak adarefleks, apnea, dan oliguria.
E Faktor-faktor
yang berhubungan denganhipotermi
Faktor-faktor yang berhubungan dengan hipotermi di kamar operasi adalah:
1. Suhu kamar operasi
Paparan suhu ruangan operasi yang rendah juga dapat
mengakibatkan pasien menjadi hipotermi, hal ini terjadi akibat dari perambatan
antara suhu permukaan kulit dan suhu lingkungan. Suhu kamar operasi selalu
dipertahankan dingin (20–24°C) untuk meminimalkan pertumbuhan bakteri.
2. Luasnya luka operasi
Kejadian hipotermi dapat dipengaruhi dari luas
pembedahan atau jenis pembedahan besar yang membuka rongga tubuh, misal pada
operasi ortopedi, rongga toraks atau. Operasi abdomen dikenal sebagai penyebab
hipotermi karena berhubungan dengan operasi yang berlangsung lama, insisi yang luas,
dan sering membutuhkan cairan guna membersihkan ruang peritoneum.
3. Cairan
Faktor cairan yang diberikan merupakan salah satu hal
yang berhubungan dengan terjadinya hipotermi. Pemberian cairan infus dan
irigasi yang dingin (sesuai suhu ruangan) diyakini dapat menambah penurunan
temperatur tubuh. Cairan intravena yang dingin tersebut akan masuk ke dalam
sirkulasi darah dan mempengaruhi suhu inti tubuh (core temperature)
sehingga semakin banyak cairan dingin yang masuk pasien akan mengalami
hipotermi.
4. Usia
Usia adalah satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan
suatu makhluk, baik yang hidup maupun yang mati. Secara biologis, Depkes (2009)
membagi golongan usia menjadi:
a.
Masa balita (0-5 tahun)
b.
Masa kanak-kanak (5-11 tahun)
c.
Masa remaja awal (12-16 tahun)
d.
Masa remaja akhir (17-25 tahun)
e.
Masa dewasa awal (26-35 tahun)
f.
Masa dewasa akhir (36-45 tahun)
g.
Masa lansia awal (46-55 tahun)
h.
Masa lansia akhir (56-65 tahun)
i.
Masa manula (65 sampai ke atas)
Pendapat (Harahap, 2014), menyebutkan pasien lanjut
usia (lansia) termasuk ke dalam golongan usia yang ekstrem, merupakan risiko
tinggi untuk terjadi hipotermi pada periode perioperatif. General anestesi
yang dilakukan pada pasien usia lansia dapat menyebabkan pergeseran pada ambang
batas termoregulasi dengan derajat yang lebih besar dibandingkan dengan pasien
yang berusia muda. Golongan usia lansia merupakan faktor risiko urutan 6 (enam)
besar sebagai penyebab hipotermi perioperatif. Selain lansia, Morgan &
Mikhail (2013), menyebutkan pasien pediatrik, balita, dan anak bukanlah pasien
dewasa yang berukuran besar. Mereka memiliki risiko yang tinggi juga untuk
terjadi komplikasi pasca operasi. Seseorang pada usia lansia telah terjadi
kegagalan memelihara suhu tubuh, baik dengan atau tanpa anestesi, kemungkinan
hal ini terjadi karena penurunan vasokonstriksi termoregulasi yang terkait
dengan usia. Teori Joshi, Shivkumaran, Bhargava, Kausara & Sharma (2006)
juga mengatakan kejadian hipotermia pada pasien lansia disebabkan perubahan
fungsi kardiovaskular (kekakuan pada area dinding pembuluh darah arteri,
peningkatan tahanan pembuluh darah perifer, dan juga penurunan curah jantung),
kekakuan organ paru dan kelemahan otot-otot pernapasan mengakibatkan ventilasi,
difusi, serta oksigenasi tidak efektif. Selain itu, pada lansia terjadi
perubahan fungsi metabolik, seperti peningkatan sensitivitas pada reseptor
insulin periferal, dan juga penurunan respons adrenokortikotropik terhadap
faktor respons.
5.
Indeks massa tubuh (IMT)
Metabolisme seseorang berbeda-beda salah satu
diantaranya dipengaruhi oleh ukuran tubuh yaitu tinggi badan dan berat badan
yang dinilai berdasarkan indeks massa tubuh yang merupakan faktor yang dapat
mempengaruhi metabolisme dan berdampak pada sistem termogulasi (Gaython, 2007).
Apabila manusia berada dilingkungan yang suhunya lebih dingin dari tubuh
mereka, mereka akan terus menerus menghasilkan panas secara internal untuk
mempertahankan suhu tubuhnya, pembentukan panas tergantung pada oksidasi bahan
bakar metabolik yang berasal dari makanan dan lemak sebagai sumber energi dalam
menghasilkan panas. Pada orang yang gemuk memiliki cadangan lemak lebih banyak
akan cenderung menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi dari dalam,
artinya jarang membakar kalori dan menaikkan heart rate. Agen anestesi
di redistribusi dari darah dan otak kedalam otot dan lemak, tubuh yang semakin
besar menyimpan jaringan lemak yang banyak, sehingga lebih baik dalam
mempertahankan suhu tubuh.
Lemak merupakan bahan atau sumber pembentuk energi di
dalam tubuh, yang dalam hal ini bobot energi yang dihasilkan dari tiap gramnya
lebih besar dari yang dihasilkan tiap gram karbohidrat dan protein. Tiap gram
lemak akan menghasilkan 9 kalori, sedangkan 1 gram karbohidrat dan protein akan
menghasilkan 4 kalori. Pada orang dengan IMT yang rendah akan lebih mudah
kehilangan panas dan merupakan faktor risiko terjadinya hipotermi, hal ini
dipengaruhi oleh persediaan sumber energi penghasil panas yaitu lemak yang
tipis, simpanan lemak dalam tubuh sangat bermanfaat sebagai cadangan energi.
Pada indeks massa tubuh yang tinggi memiliki sistem proteksi panas yang cukup
dengan sumber energi penghasil panas yaitu lemak yang tebal sehingga IMT yang
tinggi lebih baik dalam mempertahankan suhu tubuhnya dibanding dengan IMT yang
rendah karena mempunyai cadangan energi yang lebih banyak. IMT merupakan rumus
matematis yang berkaitan dengan lemak tubuh seseorang yang dinyatakan sebagai
berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam ukuran
meter. Dua parameter yang berkaitan dengan pengukuran IMT, yaitu:
a. Berat badan
Berat badan adalah salah satu parameter massa tubuh yang paling sering
digunakan yang dapat mencerminkan jumlah zat gizi seperti : protein, lemak, air
dan mineral. Agar dapat mengukur IMT, berat badan dihubungkan dengan tinggi
badan.
b. Tinggi badan
Tinggi badan merupakan parameter ukuran panjang dan dapat merefleksikan
pertumbuhan skeletal (Proverawati, 2010).
Adapun rumus IMT adalah:
IMT = Berat Badan (kg)
Tinggi Badan (m)2
Interval Kriteria
<18,5 kg/m2 Kurus
18,5-25,0 kg/m2 Normal
>25,0 kg/m2 Gemuk
Sumber: Direktorat Gizi Masyarakat, 2003
6.
Jenis kelamin
Jenis kelamin (seks) adalah perbedaan antara
perempuan dengan laki-laki secara biologis sejak seseorang lahir. Seks
berkaitan dengan tubuh laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki memproduksikan
sperma, sementara perempuan menghasilkan sel telur dan secara biologis mampu
untuk menstruasi, hamil dan menyusui. Perbedaan biologis dan fungsi biologis
laki-laki dan perempuan tidak dapat dipertukarkan diantara keduanya, dan
fungsinya tetap dengan laki-laki dan perempuan pada segala ras yang ada di muka
bumi.
Pada penelitian (Harahap, 2014), mendapatkan hasil
bahwa kejadian hipotermi lebih banyak terjadi pada perempuan yaitu 51,2%
dibanding laki-laki. Penelitian yang dilakukan oleh Rosjidi & Isro’ain
(2014) juga mendapatkan hasil bahwa perempuan lebih rentan terserang penyakit/
komplikasi daripada laki-laki. Kejadian hipotermi juga dipengaruhi oleh berat
badan pada tiap jenis kelamin. Pada obesitas, jumlah lemak tubuh lebih banyak.
Pada dewasa muda laki-laki, lemak tubuh >25% dan perempuan >35%.
Distribusi lemak tubuh juga berbeda berdasarkan jenis kelamin, pria cenderung
mengalami obesitas viseral (abdominal) dibandingkan wanita.
7.
Obat anestesi
Pada akhir anestesi dengan thiopental, halotan, atau
enfluran kadang-kadang menimbulkan hipotermi sampai menggigil. Hal itu
disebabkan karena efek obat anestesi yang menyebabkan gangguan termoregulasi.
8.
Lama operasi
Lama tindakan pembedahan dan anestesi bepotensi
memiliki pengaruh besar khususnya obat anestesi dengan konsentrasi yang lebih
tinggi dalam darah dan jaringan (khususnya lemak), kelarutan, durasi anestesi
yang lebih lama, sehingga agen-agen ini harus berusaha mencapai keseimbangan
dengan jaringan tersebut. Induksi anestesi mengakibatkan vasodilatasi yang
menyebabkan proses kehilangan panas tubuh terjadi secara terus menerus. Panas
padahal diproduksi secara terus menerus oleh tubuh sebagai hasil dari
metabolisme. Proses produksi serta pengeluaran panas diatur oleh tubuh guna
mempertahankan suhu inti tubuh dalam rentang 36-37,5°C.
Klasifikasi Lama Operasi
Cepat <1 jam
Sedang 1-2 jam
Lama >2 jam
Sumber: Depkes RI, 2009
Durasi pembedahan yang lama, secara spontan
menyebabkan tindakan anestesi semakin lama pula. Hal ini akan menimbulkan efek
akumulasi obat dan agen anestesi di dalam tubuh semakin banyak sebagai hasil
F. Penatalaksanaan hipotermi
Tujuan intervensi adalah untuk meminimalkan atau membalik
proses fisiologis. Pengobatan mencakup pemberian oksigen, hidrasi yang adekuat,
dan nutrisi yang sesuai. Menurut (Setiati, 2008), terdapat 3 macam teknik
penghangatan yang digunakan, yaitu:
1.
Penghangatan eksternal pasif
Teknik ini dilakukan dengan cara menyingkirkan baju basah kemudian tutupi
tubuh pasien dengan selimut atau insulasi lain.
2.
Penghangatan eksternal aktif
Teknik ini digunakan untuk pasien yang tidak berespon dengan penghangatan
eksternal pasif (selimut penghangat, mandi air hangat atau lempengan pemanas),
dapat diberikan cairan infus hangat IV (suhu 39°C – 40°C) untuk menghangatkan
pasien dan oksigen.
3.
Penghangatan internal aktif.
Ada beberapa metode yang dapat digunakan antara lain irigasi ruang pleura
atau peritoneum, hemodialisis dan operasi bypass kardiopulmonal. Dapat
pula dilakukan bilas kandung kemih dengan cairan NaCl 0,9% hangat, bilas
lambung dengan cairan NaCl 0,9% hangat (suhu 40°C – 45°C) atau dengan
menggunakan tabung penghangat esophagus.
G.
Cara-cara untuk mencegah hipotermia
1.
Suhu kamar operasi yang nyaman bagi pasien yaitu pada suhu 22°C
2.
Ruang pemulihan yang hangat dengan suhu ruangan 24°C
3. Penggunan system low-flow atau system tertutup
pada pasien kritis atau pasien risiko tinggi
4.
Meperidin adalah obat paling efektif untuk mengurangi menggigil
5.
Penggunaan cairan kristaloid intravena yang dihangatkan :
a.
Kristaloid untuk keseimbangan cairan intravena
b.
Larutan untuk irigasi luka pembedahan
c.
Larutan yang digunakan untuk prosedur sistoskopi
6.
Menghindari genangan air/larutan di meja operasi
7. Pemberian dosis kecil obat narkotik pada akhir
operasi untuk nyeri operasi dan pencegahan menggigil
8. Penggunaan larutan irigasi yang dihangatkan pada
luka pembedahan atau prosedur sistoskopi urologi
9. Penggunaan penghangat darah untuk pemberian darah
dan larutan kristaloid/koloid hangat atau fraksi darah
10.Penggunaan sistem pemanas udara bertekanan
11. Humidifikasi dan penghangatan dari campuran
obat-obat anestesi inhalasi. Enfluran diduga berhubungan dengan kejadian
menggigil pasca anestesi
Komentar
Posting Komentar