Langsung ke konten utama

Langkah Operasi ORIF K.Wire Supracondiler


HIPKABI


LAPORAN PENGHITUNGAN INSTRUMEN DAN LANGKAH-LANGKAH OPERASI
Bangsal : Nakula 1
Kelamin :     L/P
Nomor : 48-10-55
Nama    : An. A
Umur : 4 Th
Tgl/bl/th:
Kelas/Jaminan : III / BPJS
Km Operasi No: 01
Op Ke : 01
Jam : 07.00
Praktikan : 


Paraf          :
Trainer :



Paraf      :
Diagnosa Medis : dr. F
Tindakan Operasi : Orif K.Wire Supracondiler
Operator : dr. A.A, Sp. OT
Peran Pratikan
Observer
Sirkuler
Asisten Instrumen
Instrument Mandiri






Persiapan Anestesi      :          
Jenis Anestesi              : General Anestesi (GA)


-          Propofol 1 ampul
-          Fentanyl 1 ampul
-          Sulfas Atropine 0,25
-          Tramadol 1 ampul
-          Atrakurium 1 ampul
-          Ondansetron 4 mg
-          Pehacain 1 ampul
-          Laryngoscope no. 3
-          Endotrakeal Tube (ET) ID 6,5
-          Selang O2
-          Spuit 3 cc – 3
-          Spuit 5 cc – 1
-          Spuit 10 cc – 1
-          Spuit 20 cc 1
-          Hands glove
-          Lubrikan (GEL)
-          AMBU Bag
-          Hypafix/Plester
-          Alat Suction
-          Oropharyngeal Airways (OPA)



PENGHITUNGAN INSTRUMEN DAN BAHAN HABIS PAKAI

NO
INSTRUMEN DAN SPONGE
JUMLAH
PRA
INTRA
+
POST


1.
Kidney Tray ( Bengkok)
1
1
-
1
2.
Bowl (Kom sedang)
1
1
-
1
3.
Sponge Holding Forceps
2
2
-
2
4.
Haemostatic Forceps
4
4
-
4
5.
Kocher / Ligatur Forceps
3
3
-
3
6.
Needle Holder
2
2
-
2
7.
Towel Clamp
6
6
-
6
8.
Scaple No. 3
1
1
-
1
9.
Bisturi No. 10
1
1
-
1
10.
Dissecting Scissor / Metzenbaum
2
2
-
2
11.
Delicate Scissor (Gunting Benang)
1
1
-
1
12.
Anatomis Pinset
2
2
-
2
13.
Chirugis Pinset
1
1
-
1
14.
Suction Cannula
1
1
-
1
15.
Yankeur / Saction Tube
1
1
-
1
16.
Handpiece Couter ESU
1
1
-
1
17.
Raspatorium
1
1
-
1
18.
Bone Klem
2
2
-
2
19.
Wound Retractors / Hak Gigi
2
2
-
2
20.
Bone Levers / Hak Cobra
1
1
-
1
21.
Bor Tulang / Osteo Power
1
1
-
1
22.
Humerus Plate 5 Hole
1
1
-
1
23.
Tapper (Bor Tulang Manual)
1
1
-
1
24.
Deep Gauge (Pengukur)
1
1
-
1
25.
Screw Driver
1
1
-
1
26.
Double Hak
2
2
-
2
27.
Osteomed / Pemotong
1
1
-
1
28.
Retractor
1
1
-
1
BARANG HABIS PAKAI
1.
Glove Steril No. 7 / 7,5
1/2
1/2
-
1/2
2.
Kassa Sterill
40
40
-
40
3.
Armsling Ukuran “L”
1
1
-
1
4.
NaCL 0,9 %
500cc
500cc
-
500cc
5.
Povidon Iodine 10 %
100cc
100cc
-
100cc
6.
Apron
4
4
-
4
7.
Hypavix / Plester
15cm
15cm
-
15cm
8.
Alkohol 70 %
100cc
100cc
-
100cc
9.
PGA 3.0 Cutting
2
2
-
2
10.
Spuit 10 cc
1
1
-
1
11.
Underpad
1
1
-
1
12.
Screw cancellous L 3,5 no 26
2
2
-
2
13.
Screw cancellous L 3,5 no 28
1
1
-
1
14.
Screw cancellous L 3,5 no 18
1
1
-
1
15.
Groun Plate
1
1
-
1
16.
Elastic Bandage 4 Inc
1
1
-
1

PENGELOLAAN PASIEN PERIOPERATIF

A.      SERAH TERIMA PASIEN
1.        Pasien dari ruang Nakula 1 datang ke IBS dilakukan serah terima antara perawat ruangan kepada perawat IBS
2.        Melakukan transfer pasien dari brankart ruangan dengan bergeser pindah ke brankart kamar bedah di holding room.
3.        Mengganti baju pasien dan memakaikan topi operasi serta memasang siderail brankart kamar bedah
4.        Melakukan pengecekan pengisian ceklist yang berisi pengecekan inform concern (persetujuan operasi), identitas pasien, kelengkapan operasi (obat premedikasi sebelum operasi)
5.        Memeriksa keadaan pasien meliputi tingkat kesadaran, tanda-tanda vital (TTV) dan mengkaji riwayat alergi.

B.       SIGN IN
1.        Perawat sirkuler melakukan sign in diruang pra induksi sebelum induksi anestesi, dan dihadiri minimal oleh dokter anestesi, perawat bedah dan perawat anestesi.
a.         Apakah pasien telah memberikan konfirmasi kebenaran identifikasi, lokasi operasi, prosedur dan telah memberikan persetujuan dalam lembar inform concern ? (sudah)
b.         Apakah lokasi operasi sudah diberi tanda/marking ? (tidak)
c.         Apakah mesin dan obat anestesi telah dicek dan lengkap ? (sudah)
d.        Apakah pulseoxymeter sudah terpasang dan berfungsi ? (sudah)
2.        Apakah pasien memiliki
a.         Riwayat alergi yang diketahui ? (tidak ada)
b.         Risiko kesulitan pada jalan napas atau risiko aspirasi ? (tidak ada)
c.         Risiko kehilangan darah > 500 cc (35ml/KgBB pada dewasa) ? (tidak ada)
3.        Alasi meja operasi dengan menggunakan duk bersih dan underpad, kemudian pasien dipindahkan ke meja operasi secara aman dengan bergeser pindah sendiri dibantu perawat. Kemudian perawat sirkuler membantu memasang ground plate di kaki pasien.
4.        Perawat instrument menyiapkan instrument Ortho set yang akan digunakan untuk tindakan ORIF.
5.        Perawat sirkuler memasang pulseoxymeter, bedside monitor, spigmomanometer dan menempatkan infus pada standart infus, mengecek tabung suction dan memasang tabung suction.
6.        Tim anestesi (dokter anestesi dan perawat anestesi) melakukan anestesi dengan teknik General Anestesi (GA)
7.        Kemudian perawat sirkuler mengatur posisi pasien lateral.
8.        Dokter operator, asisten operator, perawat instrument menggunakan APD (penutup kepala, masker, apron, dan jas operasi).

C.      SCRUBING
Dokter operator, asisten operator, perawat instrument melakukan cuci tangan bedah menggunakan air mengalir, chlorehexidine 4%, pembersih kuku, sponge, dan sikat. Dengan langkah-langkah:
1.        Melepaskan aksesoris pada tangan dan mengecek apakah tangan ada yang terluka atau tidak, jika ada luka minta perawat instrument lain untuk menggantikan.
2.        Memakai apron
3.        Melipat lengan baju sampai 10 cm di atas siku
4.        Membasahi tangan sampai 5 cm di atas siku di bawah air mengalir
5.        Membersihkan kuku menggunakan pembersih kuku dibawah air mengalir dari arah dalam keluar. Buang pembersih kuku ke tempat sampah
6.        Mengambil chlorehexidine 4% ke spon secukupnya (alat sensor) bersamaan dengan membuang plastik tempat sikat dan spon ke tempat sampah.
7.        Membasahi spon dan meremas-remas sampai berbusa, gosokkan tangan dari jari sampai 5 cm di atas siku.
8.        Menyikat kuku pada masing-masing tangan selama 1 menit atau 60x gosokan dengan arah menjauhi badan
9.        Membuang sikat ke tempat sampah dan bilas tangan menggunkan air mengalir sampai bersih (spon tetap dipegang)
10.    Mengambil kembali chlorehexidin pada busa, remas-remas dan gosokkan pada tangan hingga ¾ lengan
11.    Membersihkan tangan menggunakan spon pada tangan kanan dan kiri secara bergantian (menggosok telapak tangan, punggung tangan dan seluruh jari masing-masing selama 15 detik secara berurutan) kemudian membuang spon ke tempat sampah.
12.    Bilas tangan hingga bersih dibawah air mengalir
13.    Mengambil kembali chlorehexidine 4%, lumuri tangan sampai pergelangan tangan, dilanjutkan cuci tangan prosedural (6 langkah cuci tangan)
14.    Membilas tangan dengan air mengalir sampai bersih.
15.    Angkat tangan diantara bahu dan pusar, tangan harus tetap menghadap keatas, biarkan air mengalir sampai kesiku, jangan dikibaskan.

D.      GOWNING GLOVING
1.        Dokter operator, asisten operator, dan perawat instrument mengeringkan tangan menggunakan towel kemudian memakai jas operasi dan glove steril dengan bantuan perawat sirkuler.
2.        Perawat instrument menyiapkan meja mayo meliputi memasang sarung meja, perlak dan duk sedang dan menyiapkan instrument di meja mayo.

E.       INSTRUMENTASI
Scrubing nurse/ perawat instrument menyiapkan instrument Ortho set dan bahan habis pakai meliputi kassa 30 lipat, bisturi no 11, couter, groundpad, suction, monosyn no 1, plain 0 dan biosyn 4/0, chromik 2/0.

F.       ASEPSIS
Perawat instrument memberikan kassa steril yang telah dijepit menggukan sponge holder forcep dan bowl yang berisi povidon iodine 10% dan dan alkohol 70% di bowl kepada operator untuk melakukan asepsis pada area operasi memutar dari dalam ke luar berlawanan arah jarum jam.

G.      DRAPPING
Perawat instrumen memberikan duk steril kepada asisten operator untuk melakukan drapping. Perawat instrument mengambil perlak steril di pasang di bawah area insisi ke arah bawah, kemudian mengambil duk steril membantu asisten operator untuk melakukan drapping. Duk besar pertama untuk bagian bawah, duk panjang untuk bagian atas, dan duk sedang untuk kanan dan kiri kemudian kunci menggunakan towlclip. Kemudian duk besar lagi dibawah area insisi ke bagian bawah dengan lipatan berada didalam. Pasang dan fiksasi selang suction dan couter menggunakan towlclip.

H.      TIME OUT
Perawat sirkuler melakukan time out. Dilakukan sebelum insisi, dihadiri minimal oleh perawat, ahli anestesi dan operator.
1.        Seluruh anggota tim menyebutkan nama dan peran masing-masing.
2.        Konfirmasi pasien mengenai (identitas, diagnosa, prosedur operasi dan lokasi operasi)
3.        Adakah antibiotik profilaksis yang di berikan ? (sudah)
4.        Pencegahan kejadian yang tidak diinginkan.
a.         Operator
1)        Kemungkinan kesulitan selama operasi (tidak ada)
2)        Estimasi lama operasi (1 jam)
3)        Antisipasi kehilangan darah (minimal)
b.         Tim anestesi
1)        Adakah masalah spesifik yang timbul ? (tidak ada)
2)        Hal apa yang perlu diperhatikan ? (status hemodinamik pasien)
c.         Tim keperawatan
1)        Apakah peralatan sudah steril ? (steril)
2)        Apakah alat sudah lengkap ? (sudah)
3)        Adakah alat khusus yang harus diperhatikan ? (tidak ada)
5.        Hasil pemeriksaan imaging penting di tampilkan ? (tidak)
6.        Operator memimpin berdoa sebelum operasi dimulai.
7.         
LANGKAH-LANGKAH OPERASI

NO
URAIAN LANGKAH-LANGKAH OPERASI
INSTRUMENT, BHP DAN SPONGE
1.
Perawat instrument memberikan pinset chirugis kepada operator untuk memastikan keberhasilan tindakan anestesi dengan rangsang / sensivitas nyeri dan memberikan scapel no. 3 dengan bisturi no. 10 yang diletakan di atas Kidney Tray kepada operator untuk melakukan kulit sampai lemak.
1. Cirugis Pinzette (1)
2. Scaple no. 3 (1)
3. Bisturi No. 3 (1)
4. Kidney Tray (1)
2.
Perawat instrument memberikan Haemostatic Forceps dan kassa kepada operator dan asisten operator untuk mengontrol perdarahan dengan cara menjepit ujung pembuluh darah yang terputus dengan menggunakan Haemostatic Forceps, lalu perawat instrument memberikan Handpiece Caouter ESU untuk koagulasi atau perawat instrument yang melakukan.
5. Haemostatic Forceps (2)
6. Kassa (4)
7. Handpiece Couter ESU (1)
3.
Kemudian perawat instrument memberikan gunting jaringan (Dissecting Scissors) kepada operator dan Wound Retractor untuk mengekspos tulang.
8.  Dissecting Scissors (1)
9.  Wound Retractor (1)
4.
Perawat instrument memberikan 2 Bone Levers kepada asistent untuk mengfiksasi tulang dan mereposisi tulang yang patah.
10. Bone Levers (2)

5.
Perawat instrument memberikan Raspatorium untuk membebaskan jaringan yang menempel di tulang.
11. Raspatorium (1)
6.
Perawat instrument memberikan 2 Bone Clamp kepada operator dan memfiksasi tulang dan mereposisi tulang yang patah.
12. Bone Clamp (2)
7.
Perawat instrument memberikan Humerus Plate kepada operator dan memfiksasi pada tualng yang patah
13. Humerus Plate (1)
   8.
Perawat instrument memberikan Bor Tulang dan Mata Bor ukuran 2,5 mm kepada operator untuk mengebor tulang dan asisten memfiksasi humerus supaya mempermudah proses pengeboran.
14. Bor Tulang / Osteo Power
15. Mata Bor


 9.

Perawat instrument memberikan Spuit 10cc yang berisi antibiotic dan NaCl kepada asisten operator untuk irigasi tulang (NB. Ada beberapa operator tidak menggunakan antibiotic).
16. Spuit 100 cc
17. NaCl
18. Antibiotik
  10.
    Perawat intrumen memberikan tepper dan pengukur untuk menentukan kedalaman tulang pengeboran
19. Tepper
20. Pengukur (Deep Gauge)
11
Perawat instrument memberikan Screw driver kepada operator dan Screw Cancellous L 3.5 no 18, 26 dan 28
21. Screw Driver
22. Screw Cancellous L 3,5 no. 18, 26 dan 28)
12.
Evaluasi perdarahan dengan Suction Cannula, Couter dan Haemostatic Forceps, kemudian berikan kassa.
23. Suction Cannula (1)
24. Handpiece Cauter (1)
25. Haemostatic Forceps (1)
26. Kassa (4)
13.
SIGN OUT
Lakukan penghitungan instrument yang digunakan

Nama Barang
Pre
Intra
(+)
Post
Instrumen
45
30
-
45
Kassa
40
40
10
50
Jarum
2
2
-
2

Perdarahan 200 cc di tabung Suction dan 30 kassa basah dengan darah.
-          Labeling specimen tumor (minimal terdapat asal jaringan, nama pasien, no RM, tanggal lahir) ? (Tidak Ada)
-          Aapakah terdapat permasalahan peralatan yang perlu disikapi? (Tidak Ada).
Kepada operator, Dokter Anastesi dan tim keperawatan, apakah terdapat pesan khusus untuk pemulihan pasien? (Monitor Hemodinamik, perdarahan post, re-assesment nyeri).
14.
Kemudian perawat instrument memberikan benang PGA 3/0 tepper dengan Needle Holder kepada operator untuk menjahit facia dan lemak dan memberikan pinset anatomis dan kassa kepada asiten operator untuk membantu proses penjahitan dan memberikan Ligature Scissor / gunting benang kepada asisten.
27. Benang PGA 3/0 tapper (1)
28. Needle Holder (1)
29. Anatomische Pinzette (1)
30. Kassa (4)
31. Ligature Scissor (1)
15.
Selanjutnya perawat instrument memberikan benang PGA 3/0 cutting dengan Needle Holder dan Pinset Chirurgis kepada operator untuk menyatukan kulit yang dibantu oleh asisten operator untuk menyatukan kulit yang dibantu oleh asisten operator dengan Pinset Chriurgis dan Kassa.
32. PGA 3/0  cutting (1)
33. Needle Holder (1)
34. Chirugische Pinzette (2)
35. Kassa (4)

16.
Perawat instrument memberikan Kassa Steril dan Povidone Iodin 10% kepada asisten operator, kemudian perawat sirkuler menutup luka operasi dengan menggunakan plester / hypavix.
36. Kassa (6)
37. Hipafix (1)
17.
1)   Perawat sirkuler merapikan dan membersihkan pasien dengan Towel.
2)   Perawat instrument menaruh instrument tempat box alat kotor setelah dihitung kelengkapan.
3)   Perawat instrument, sirkuler, operator melepas jas steril, melepas sarung tangan, apron, setelah itu cuci tangan procedural.
4)   Tim anastesi melakukan pengecekan kesadaran pasien
5)   Setelah pasien sadar, pindahkan pasien ke brangkart dan dibawa ke recovery room
6)   Sesampainya di RR klien dipasang BSM (bedside monitor) dan oksigen.
7)   Monitor kesadaran, TTV klien dan atur posisi
8)   Setelah itu melakukan penilaian kondisi pasien selesai operasi menggunakan Aldrette Score dan pasien bisa dipindah ke bangsal jika score minimal > 8
Timbang terima antara perawat RR dengan perawat ruangan.
38. Towel

Komentar

Entri Populer

ASUHAN KEPERAWATAN AFF PLATE

LAPORAN PENGHITUNGAN INSTRUMENT & LAPORAN OPERASI           Bangsal : Amarylis 1 Kelamin :      L /P Nomor : 14-63-64 Nama     :   Tn. R Umur :   18 th       Tgl/bl/th: 31/03/2001 Kelas/Jaminan :         / Km Operasi No: 4 Op Ke :4Jam 13.30 Praktikan : Paraf           : Trainer : Paraf       : Diagnosa Medis    : Union Fraktur Femur Dexstra Tindakan Operasi : Aff Plate Operator : H, Sp OT, Mkes,dr Peran Pratikan Obs     CN Asisten Instrument Instrumentasi Didampingi Instrumentasis Mandiri Assisten Persiapan Anastesi      : Je...

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN TINDAKAN SNNT

BAB I PENDAHULUAN     A.      Latar Belakang Strauma adalah pembesaran pada kelenjar tiroid   yang biasanya terjadi karena folikel folikel terisi koloid secara berlebihan. Setelah bertahun-tahun folikel tumbuh semakin membesar dengan membentuk kista dan kelenjar tersebut menjadi noduler (Smeltzer & Suzanne, 2013). Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hypertiroidisme (Hartini, 2010). Struma non toksik disebabkan oleh kekurangan yodium yang kronik. Struma ini disebut sebagai simple goiter, struma endemik, atau goiter koloid yang sering ditemukan di daerah yang air minumya kurang sekali mengandung yodium dan goitrogen   yang menghambat sintesa hormon oleh zat kimia. Sekitar 10 juta orang di seluruh dunia mengalami gangguan tiroid, baik kanker tiroid, struma nodosa non toxic, maupun struma nodosa toxic ( American Thyroid Associa...

Laporan Pendahuluan Febris

LAPORAN PENDAHULUAN FEBRIS I.      KONSEP DASAR A.   Pengertian Febris (demam) yaitu meningkatnya suhu tubuh yang melewati batas normal yaitu lebih dari 38 0 C (Hidayat, 2005). Demam berarti suhu tubuh diatas batas normal biasa, dapat disebabkan oleh kelainan dalam otak sendiri atau oleh zat toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu, penyakit-penyakit bakteri, tumor otak atau dehidrasi (Hidayat, 2005). Demam adalah keadaan dimana terjadi kenaikan suhu hingga 38° C atau lebih. Ada juga yang yang mengambil batasan lebih dari 37,8°C. Sedangkan bila suhu tubuh lebih dari 40°C disebut demam tinggi (hiperpireksia) (Ngastiah, 2005). B.   Etiologi Menurut Pelayanan kesehaan maternal dan neonatal 2000 bahwa etiologi febris,diantaranya 1.     Suhu lingkungan. 2.     Adanya infeksi. 3.     Pneumonia. 4.     Malaria. 5.     Otitis m...